INGGRIS menaikkan target iklimnya di tengah tekanan harga energi fosil. Keputusan ini penting dibaca Indonesia, bukan sebagai kabar jauh dari Eropa, melainkan sebagai sinyal kebijakan energi global.
Target iklim adalah batas penurunan emisi gas rumah kaca yang ditetapkan negara untuk mengarahkan kebijakan energi, industri, transportasi, dan pembiayaan menuju ekonomi rendah karbon.
Target iklim kini makin berfungsi sebagai alat ketahanan ekonomi, bukan sekadar komitmen lingkungan.
Baca juga: Risiko Iklim Kini Masuk Dashboard Bisnis
Pemerintah Inggris menetapkan target pemangkasan emisi sekitar 87 persen pada periode 2038–2042 dibandingkan level 1990. Inggris sendiri sudah menurunkan emisi sekitar 54 persen dari level 1990. Namun, target baru itu muncul saat harga gas kembali sensitif terhadap gangguan pasokan global.
Di sinilah pesan kebijakannya menjadi kuat. Ketergantungan pada energi fosil bukan hanya isu emisi. Tapi, juga risiko harga, risiko industri, dan risiko fiskal.
Energi Bersih sebagai Pelindung
Inggris membingkai target iklimnya sebagai jalan untuk memperkuat energi bersih domestik. Argumennya sederhana. Semakin besar pasokan energi dikendalikan dari dalam negeri dan berasal dari sumber rendah karbon, semakin kecil paparan terhadap gejolak minyak dan gas global.
Ini relevan untuk Indonesia.
Baca juga: Uni Eropa Longgarkan Target Iklim 2040, Negara Berkembang Masuk Radar Kredit Karbon
Indonesia memang berbeda dari Inggris. Struktur energinya berbeda. Bauran listriknya berbeda. Kebutuhan industrinya juga berbeda. Namun, Indonesia tetap menghadapi dilema yang mirip, yakni menjaga harga energi tetap terjangkau, mengurangi tekanan fiskal, dan memastikan pasokan listrik cukup bagi pertumbuhan ekonomi.
Indonesia memiliki target net zero emission pada 2060 atau lebih cepat. Dalam Enhanced NDC, Indonesia menetapkan target pengurangan emisi 31,89 persen secara mandiri dan 43,20 persen dengan dukungan internasional pada 2030 dibandingkan skenario business as usual.
Angka itu memberi arah. Tetapi, arah saja belum cukup.

Target Butuh Rencana
Pelajaran utama dari Inggris adalah target iklim harus segera diterjemahkan menjadi delivery plan. Tanpa rencana pelaksanaan, target hanya memberi sinyal. Dengan rencana yang jelas, target bisa menggerakkan investasi.
Baca juga: Adaptasi Iklim Kini Lebih Murah daripada Kerusakan Ekonomi
Bagi Indonesia, ini berarti transisi energi perlu dijabarkan ke dalam proyek yang konkret. Jaringan listrik, energi terbarukan, penyimpanan energi, elektrifikasi transportasi, efisiensi industri, dan pembiayaan transisi.
Implikasi kebijakannya jelas. Net zero tidak boleh berhenti sebagai dokumen diplomasi iklim. Sebaliknya harus masuk ke desain kebijakan energi, fiskal, industri, dan investasi nasional.
Bukan Sekadar Turun Emisi
Ada satu risiko lain yang perlu dibaca. Emisi bisa turun karena transformasi. Tetapi emisi juga bisa turun karena industri melemah atau pabrik tutup.
Transisi yang sehat bukan sekadar menurunkan emisi. Transisi yang sehat harus menciptakan daya saing baru, pekerjaan baru, dan rantai pasok rendah karbon.
Baca juga: ICJ Mulai Mengubah Krisis Iklim Jadi Risiko Hukum Negara
Untuk Indonesia, ini penting. Transisi energi tidak boleh dipersepsikan sebagai beban tambahan bagi industri. Tapi, harus dirancang sebagai strategi ekonomi baru.
Inggris sedang mencoba mengubah krisis harga fosil menjadi argumen untuk mempercepat energi bersih. Indonesia perlu membaca sinyal yang sama. ***
- Foto: Pixabay/ Pexels – Ilustrasi kawasan energi fosil dan jaringan listrik. Target iklim kini makin terkait dengan ketahanan energi, stabilitas harga, dan risiko ketergantungan pada bahan bakar fosil.


