Ketika suhu global naik, negara dingin justru diuntungkan, sementara negara panas menghadapi lonjakan kematian yang tak seimbang.
PERUBAHAN iklim tidak hanya mengubah suhu. Tapi, mulai mengubah peta kematian global.
Riset Climate Impact Lab yang berbasis di University of Chicago menunjukkan tren yang kontras. Negara-negara beriklim dingin justru akan mengalami penurunan kematian akibat suhu ekstrem, sementara negara panas, terutama di kawasan berkembang, akan menghadapi lonjakan kematian signifikan dalam beberapa dekade ke depan.
Artinya, krisis iklim tidak lagi sekadar soal lingkungan. Tapi, telah masuk ke wilayah yang lebih fundamental, siapa yang bertahan, dan siapa yang tidak.
Ketimpangan Mortalitas Global
Proyeksi menunjukkan bahwa wilayah lintang tinggi seperti Skandinavia akan mengalami penurunan angka kematian terkait suhu. Sebaliknya, kawasan panas seperti Asia Selatan, Afrika Utara, dan Timur Tengah akan menghadapi peningkatan tajam.
Negara-negara di kawasan Sahel bahkan diproyeksikan mengalami lonjakan kematian lebih dari 60 per 100.000 penduduk, angka yang melampaui tingkat kematian akibat malaria saat ini.
Baca juga: Dunia di Ambang Krisis Iklim, Sepertiga Wilayah Bisa Tak Layak Huni
Ketimpangan ini tidak terjadi secara acak.
“Wilayah dengan peningkatan kematian tertinggi adalah yang memiliki sumber daya terbatas dan kapasitas pemerintah yang lemah,” gambar Tamma Carleton, peneliti di Climate Impact Lab.
Dalam konteks global, negara berpendapatan rendah diperkirakan akan menanggung sekitar 391.000 kematian per tahun akibat perubahan suhu. Bandingkan dengan sekitar 39.000 kematian di negara berpendapatan tinggi—meski jumlah populasinya relatif setara.
Ini mengindikasikan satu hal. Mereka yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi, justru menanggung dampak paling besar.
Kota Panas, Risiko Mematikan
Dampak paling ekstrem diproyeksikan terjadi di kawasan urban.
Kota-kota di Asia Selatan menjadi titik paling rentan. Dalam satu contoh ekstrem, satu kota di Pakistan diproyeksikan bisa mengalami tambahan sekitar 9.400 kematian per tahun akibat peningkatan suhu.
Secara global, lebih dari 100.000 kematian tambahan setiap tahun diperkirakan terjadi di kawasan perkotaan akibat perubahan suhu, dan sepertiganya berasal dari kota-kota di Pakistan.
Baca juga: Krisis Iklim, Mengapa Kenaikan 2 Derajat Celsius Bisa Mengubah Dunia?
Tren ini menandai perubahan penting.
Gelombang panas tidak lagi sekadar fenomena cuaca. Tapi, telah berkembang menjadi risiko kesehatan publik sistemik, yang dalam beberapa kasus melampaui tingkat kematian penyakit seperti tuberkulosis atau stroke.
Bagi negara seperti Indonesia, implikasinya jelas. Kota-kota padat dengan suhu tinggi dan efek urban heat island berpotensi menghadapi tekanan serupa, meski sering kali belum masuk dalam prioritas kebijakan kesehatan maupun perencanaan kota.

Adaptasi Jadi Garis Hidup
Perbedaan dampak antarnegara tidak hanya ditentukan oleh suhu. Faktor penentunya adalah kapasitas adaptasi.
Negara dengan sumber daya lebih besar mampu mengurangi risiko kematian melalui investasi pada pendinginan, infrastruktur kota, hingga sistem perlindungan kesehatan.
Sebaliknya, negara dengan kapasitas terbatas menghadapi risiko berlipat.
Baca juga: Ketika Dunia Memanas, Jejak Tragis Perubahan Iklim pada 2024
Contoh kontras terlihat pada negara dengan kondisi iklim serupa namun tingkat pendapatan berbeda. Negara kaya di kawasan panas mampu menahan lonjakan kematian, sementara negara miskin menghadapi peningkatan signifikan.
Dalam konteks ini, adaptasi bukan lagi pelengkap mitigasi. Tapi, menjadi penentu langsung tingkat mortalitas di era perubahan iklim.
Defisit Pendanaan, Risiko Mengunci Dampak
Masalahnya, kapasitas adaptasi sangat bergantung pada pendanaan.
Kebutuhan global untuk pembiayaan adaptasi diperkirakan mencapai US$310–400 miliar per tahun pada 2035. Namun, aliran dana yang tersedia saat ini masih jauh dari cukup, bahkan disebut hanya memenuhi sebagian kecil dari kebutuhan tersebut.
Baca juga: Sepertiga Pemanasan Global Berasal dari 14 Raksasa Energi
Inisiatif seperti Loss and Damage Fund dan target peningkatan pembiayaan adaptasi hingga sekitar US$120 miliar per tahun menjadi langkah awal. Namun, banyak pihak menilai angka tersebut masih belum memadai untuk menjawab skala risiko yang dihadapi.
Tanpa percepatan investasi, kesenjangan ini berpotensi mengunci peningkatan kematian di negara-negara berkembang dalam jangka panjang.
Indonesia, Risiko yang Belum Sepenuhnya Terbaca
Bagi Indonesia, risiko ini belum sepenuhnya terlihat dalam kerangka kebijakan.
Sebagai negara tropis dengan urbanisasi cepat, Indonesia menghadapi kombinasi risiko. Suhu tinggi, kepadatan kota, dan keterbatasan infrastruktur pendinginan publik.
Baca juga: PLTU Batu Bara dan Harga Nyawa, Riset Ungkap Kerugian Rp1.813 Kuadriliun
Namun hingga kini, pendekatan adaptasi, seperti pengembangan cooling centers, desain kota yang lebih sejuk, atau integrasi risiko panas dalam kebijakan kesehatan, masih belum menjadi arus utama.
Padahal, arah global menunjukkan satu hal yang semakin jelas, kemampuan beradaptasi terhadap panas ekstrem akan menentukan tingkat kematian di masa depan. ***
- Foto: Ilustrasi/ Daneswara Eka/ Pexels – Warga beraktivitas di tengah suhu ekstrem. Gelombang panas semakin menjadi risiko kesehatan publik di wilayah tropis.


