Transportasi Cerdas, Jalan Baru Kurangi Emisi Kota

Intelligent Transportation System membuat jalan raya tidak lagi hanya dibaca sebagai ruang kendaraan, tetapi sebagai ekosistem data. Dengan sensor, komputasi, dan AI, mobilitas kota bisa dikelola lebih aman, efisien, dan rendah emisi.

KOTA tidak hanya macet karena jumlah kendaraan terus bertambah.

Kota juga macet karena sistem transportasinya belum cukup cerdas membaca pergerakan manusia, kendaraan, cuaca, energi, dan kualitas udara secara bersamaan.

Selama ini, jawaban atas kemacetan sering berputar pada pembangunan fisik. Jalan diperlebar. Simpang ditata. Flyover dibangun. Infrastruktur baru dikejar.

Namun, persoalan transportasi modern tidak bisa lagi dijawab hanya dengan beton.

Mobilitas masyarakat makin tinggi. Konsumsi energi meningkat. Risiko kecelakaan tetap besar. Emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi ikut menjadi tekanan baru bagi kota-kota besar.

Di titik inilah Intelligent Transportation System atau ITS menjadi penting.

ITS penting karena transportasi masa depan tidak cukup dibangun dengan jalan baru, tetapi juga dengan data yang mampu membuat mobilitas lebih aman, efisien, dan rendah emisi.

Cara Kerja Jalan Cerdas

Intelligent Transportation System adalah sistem transportasi cerdas yang menggabungkan sensor, teknologi informasi, komunikasi, komputasi, data science, dan kecerdasan buatan untuk membaca, mengelola, serta mengoptimalkan pergerakan kendaraan dan pengguna jalan.

Dalam bahasa sederhana, ITS membuat jalan raya memiliki “indra”.

Jalan tidak lagi pasif. Infrastruktur bisa membaca kepadatan lalu lintas. Kamera dapat menangkap kondisi jalan. Sensor dapat memantau kecepatan, parkir, kualitas udara, cuaca, hingga kebisingan.

Data dari berbagai titik itu kemudian diolah untuk membantu pengambilan keputusan secara lebih cepat.

Baca juga: Mobilitas Berkelanjutan Berpotensi Tekan Emisi Transportasi hingga 76%

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Telekomunikasi Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, Galih Nugraha Nurkahfi, menjelaskan ITS dikembangkan dengan mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi ke dalam infrastruktur transportasi serta kendaraan.

Komponennya mencakup sensor, komputasi, tracking telekomunikasi, dan kecerdasan buatan.

Menurut Galih, mengutip laman resmi BRIN, ada beberapa faktor yang mendorong pengembangan ITS. Di antaranya kemacetan, mobilitas, keselamatan jalan, efisiensi energi, isu lingkungan, keterbatasan infrastruktur, dorongan teknologi, kebutuhan pasar, serta perkembangan kendaraan otonom.

Data Jadi Infrastruktur

Dalam transportasi modern, data mulai menjadi infrastruktur baru.

Data tidak terlihat seperti jalan, jembatan, terminal, atau halte. Namun, perannya bisa sama penting.

Sensor deteksi kendaraan dapat membaca kepadatan. CCTV membantu memantau kondisi lalu lintas. Sensor kecepatan memberi gambaran ritme kendaraan. Sensor kualitas udara menunjukkan dampak mobilitas terhadap lingkungan kota.

Baca juga: Eropa Pacu Infrastruktur Transportasi Hijau, Apa Peluang untuk Indonesia?

Sensor cuaca dan kebisingan juga memberi lapisan informasi tambahan.

Gabungan data ini dapat membantu pemerintah, operator transportasi, dan pengelola jalan mengambil keputusan lebih presisi. Misalnya, mengatur lampu lalu lintas, mengurai titik kemacetan, merespons insiden, atau membaca pola perjalanan warga.

Dengan sistem yang tepat, transportasi tidak hanya bergerak berdasarkan perkiraan. Tapi, bergerak berdasarkan data.

Efisiensi dan Emisi

Manfaat ITS tidak berhenti pada kelancaran lalu lintas.

Sistem transportasi cerdas juga memiliki kaitan langsung dengan efisiensi energi dan penurunan emisi.

Kemacetan membuat kendaraan lebih lama berada di jalan. Mesin menyala lebih panjang. Konsumsi bahan bakar meningkat. Emisi bertambah, bahkan saat kendaraan tidak bergerak efektif.

Jika arus lalu lintas dapat dikelola lebih baik, waktu tempuh bisa lebih efisien. Titik kemacetan dapat diantisipasi. Perjalanan yang tidak perlu dapat dikurangi. Transportasi publik juga bisa diatur lebih adaptif terhadap kebutuhan penumpang.

Baca juga: KAI Luncurkan Fitur Carbon Footprint untuk Transportasi Ramah Lingkungan

Di sinilah ITS menjadi bagian dari agenda kota rendah emisi.

Bukan karena teknologi ini secara otomatis menghapus emisi, melainkan karena ia membantu sistem transportasi bekerja lebih efisien.

Efisiensi adalah pintu masuk penting dalam transisi hijau.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Peran Komputasi

ITS juga berkembang karena kemajuan teknologi komputasi.

Mobile Edge Computing atau MEC memungkinkan pemrosesan data dilakukan lebih dekat dengan sumber informasi. Artinya, data dari jalan, sensor, dan kendaraan tidak selalu harus menunggu diproses jauh di pusat data.

Respons dapat berlangsung lebih cepat.

Dalam situasi lalu lintas, kecepatan respons sangat penting. Informasi tentang kepadatan, kecelakaan, hambatan jalan, atau perubahan cuaca perlu diproses secara real time agar keputusan tidak terlambat.

Sementara itu, cloud computing menyediakan ruang penyimpanan dan analisis data dalam skala besar.

Baca juga: MRT Jakarta dan Jalan Panjang Transportasi Berkelanjutan

Teknologi ini berguna untuk perencanaan jangka panjang. Pemerintah dapat melihat pola mobilitas, membaca kebutuhan infrastruktur, menyusun simulasi lalu lintas, hingga mengembangkan model kecerdasan buatan yang lebih akurat.

Dengan kata lain, edge computing membantu respons cepat. Cloud computing membantu perencanaan besar.

Keduanya menjadi tulang punggung transportasi cerdas.

Kendaraan Otonom

Pada level yang lebih maju, ITS juga beririsan dengan kendaraan otonom.

Kendaraan modern dapat memakai LiDAR, radar, kamera, sensor ultrasonik, GPS, dan Inertial Measurement Unit atau IMU. Berbagai sensor itu bekerja untuk mengenali lingkungan, mendeteksi objek, menentukan posisi kendaraan, dan membantu navigasi otomatis.

Namun, untuk konteks Indonesia, kendaraan otonom sebaiknya tidak menjadi satu-satunya pusat pembicaraan.

Isu yang lebih dekat adalah bagaimana ITS membantu mengelola kemacetan, keselamatan jalan, transportasi publik, kualitas udara, parkir, dan efisiensi energi perkotaan.

Kendaraan otonom adalah horizon teknologi.

Sementara manajemen mobilitas berbasis data adalah kebutuhan hari ini.

Risiko Tata Kelola

Meski menjanjikan, ITS tidak boleh dibaca secara terlalu optimistis.

Sistem transportasi cerdas membutuhkan tata kelola yang kuat. Data kendaraan, lokasi, pola perjalanan, dan rekaman visual berhubungan langsung dengan privasi warga.

Jika tidak diatur dengan baik, ITS bisa berubah menjadi sistem pengawasan yang berlebihan.

Selain privasi, ada isu keamanan siber. Infrastruktur transportasi yang terhubung dengan sensor, jaringan komunikasi, cloud, dan AI memiliki titik rentan baru. Serangan terhadap sistem transportasi dapat berdampak langsung pada keselamatan publik.

Baca juga: EV Turunkan Polusi, Truk Diesel Masih Jadi PR

Masalah lain adalah interoperabilitas.

Data dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, operator jalan, pengelola transportasi publik, dan penyedia teknologi harus dapat saling terhubung. Tanpa standar yang jelas, ITS berisiko menjadi kumpulan perangkat mahal yang tidak berbicara satu sama lain.

Karena itu, ITS bukan sekadar proyek pengadaan alat. ITDs adalah proyek tata kelola.

Kota Cerdas Butuh Kebijakan Cerdas

Transportasi cerdas hanya akan berdampak jika ditempatkan dalam kerangka kebijakan yang tepat.

Tujuannya bukan sekadar membuat jalan lebih digital. Tujuannya adalah membuat mobilitas lebih aman, efisien, inklusif, dan rendah emisi.

Artinya, ITS perlu dikaitkan dengan kebijakan transportasi publik, elektrifikasi kendaraan, pengelolaan kualitas udara, keselamatan jalan, tata ruang, dan target penurunan emisi.

Kota yang cerdas bukan kota yang paling banyak memasang sensor.

Kota yang cerdas adalah kota yang mampu menggunakan data untuk memperbaiki keputusan publik.

Dalam konteks ini, pengembangan ITS oleh BRIN dapat dibaca sebagai pintu masuk penting. Indonesia membutuhkan kapasitas riset, standar teknologi, dan arah kebijakan agar transportasi masa depan tidak hanya semakin terkoneksi, tetapi juga semakin berkelanjutan.

Jalan raya masa depan tidak cukup lebih lebar. Tapi, harus lebih cerdas. ***

  • Foto: Ilustrasi/ Ikbal Alahmad/ PexelsKemacetan kota menunjukkan pentingnya sistem transportasi cerdas yang mampu membaca data lalu lintas, mengatur mobilitas, dan menekan emisi dari perjalanan yang tidak efisien.
Bagikan