DANA iklim tidak lagi cukup menjual janji pengurangan emisi. Di Asia, solusi rendah karbon mulai dituntut menang dalam biaya, skala, dan daya saing.
Peluncuran Fund II senilai US$100 juta oleh 100×100, perusahaan pembangun venture iklim berbasis di Singapura, menunjukkan pergeseran itu. Targetnya tidak kecil. Dana ini diarahkan untuk membangun 50 perusahaan climate tech baru di India dan Asia Tenggara.
Angka tersebut penting karena kawasan ini sedang berada di pusat dua arus besar.
Di satu sisi, Asia Selatan dan Asia Tenggara menjadi mesin pertumbuhan manufaktur, pangan, energi, infrastruktur, dan rantai pasok global. Di sisi lain, sektor-sektor yang sama juga menjadi sumber tekanan emisi yang makin sulit diabaikan.
Karena itu, pertanyaan kunci climate tech di kawasan ini tidak lagi berhenti pada seberapa hijau sebuah solusi.
Pertanyaannya kini lebih keras. Apakah solusi itu cukup murah, cukup efisien, dan cukup kuat untuk dipakai pasar?
Bukan Sekadar Modal
100×100 sebelumnya dikenal sebagai Wavemaker Impact. Melalui Fund II, perusahaan ini tidak hanya ingin menyuntik modal ke startup yang sudah ada.
Modelnya berbeda.
100×100 ikut membangun perusahaan sejak tahap ide. Mereka bekerja bersama pendiri dan operator berpengalaman, mengidentifikasi masalah emisi, merancang solusi komersial, lalu meluncurkan perusahaan baru.
Biasanya, bisnis dibangun dalam waktu sekitar enam bulan sejak ideasi. Setelah itu, 100×100 memberi investasi awal sekitar US$500.000 dan mendampingi pendiri selama kurang lebih 18 bulan.
Jika perusahaan mencapai product-market fit, investasi lanjutan dapat diberikan dalam kisaran US$500.000 hingga US$1 juta. Setelah itu, perusahaan dibantu untuk masuk ke pembiayaan berikutnya.
Model ini mencoba menjawab masalah klasik climate tech.
Baca juga: Dana Iklim Global Naik, tapi Negara Rentan Masih Menunggu Keadilan
Banyak teknologi rendah karbon sudah tersedia. Namun, tidak semuanya mampu masuk ke pasar, menarik pelanggan, menekan biaya, dan tumbuh menjadi bisnis besar.
Di sinilah data menjadi penanda penting.
100×100 telah ikut membangun 27 perusahaan iklim di delapan negara. Portofolionya bergerak di sektor energi, pertanian, penggunaan lahan, industri, material, bangunan, dan rantai pasok.
Perusahaan-perusahaan itu telah menarik pendanaan lebih dari US$28 juta dari 16 investor eksternal. Mayoritas juga disebut sudah menghasilkan pendapatan dalam waktu kurang dari enam bulan setelah diluncurkan.
Bagi investor, ini bukan hanya cerita iklim. Ini cerita validasi pasar.
Green Discount
Konsep paling kuat dari 100×100 adalah green discount.
Selama ini, banyak solusi hijau sering dibaca melalui logika green premium. Artinya, produk atau teknologi rendah karbon dianggap lebih mahal, tetapi tetap perlu didukung karena lebih baik bagi lingkungan.
100×100 membalik logika itu.
Baca juga: Adaptasi Tertinggal di Tengah Lonjakan Dana Iklim Global
Solusi iklim harus lebih murah dan lebih baik daripada alternatif berbasis fosil. Ia tidak boleh hanya menang secara moral. Ia harus menang secara ekonomi.
Founding Partner 100×100, Marie Cheong, menyebut profit dan pengurangan karbon tidak harus saling dipertukarkan. Keduanya justru bisa menjadi pengganda nilai.

Pernyataan itu menjadi kunci untuk membaca arah baru pembiayaan iklim di Asia.
Dekarbonisasi tidak lagi hanya ditempatkan sebagai agenda kepatuhan atau kewajiban pelaporan keberlanjutan. Tapi, mulai dibaca sebagai strategi bisnis untuk menekan biaya, memperluas pasar, dan membangun daya saing baru.
Di Asia, pendekatan ini sangat relevan.
Perusahaan tidak bisa hanya diminta menurunkan emisi tanpa memperhitungkan biaya produksi, harga energi, efisiensi rantai pasok, dan daya saing industri. Negara juga tidak bisa mendorong transisi hijau tanpa memikirkan lapangan kerja, ketahanan pangan, dan keamanan energi.
Karena itu, green discount menawarkan bahasa baru.
Dekarbonisasi tidak hanya diposisikan sebagai beban kepatuhan. Dekarbonisasi dibaca sebagai peluang untuk menekan biaya, memperbaiki efisiensi, dan membangun bisnis baru.
Bukti Awal Pasar
Data dari Fund I memberi dasar bagi ambisi Fund II.
100×100 menyebut portofolio awalnya memiliki tingkat keberlangsungan hampir dua kali median venture capital. Perusahaan-perusahaan portofolio juga disebut beroperasi dengan efisiensi modal 1,5 kali lebih besar.
Beberapa contoh menunjukkan arah itu.
Rize, perusahaan yang berfokus pada pengurangan emisi metana dari budidaya padi, mencatat pendapatan US$11 juta pada 2025. Pertumbuhannya mencapai 550 persen secara tahunan, sambil menjangkau lebih dari 40.000 petani kecil.
Baca juga: Bank Pembangunan Dunia Sepakat Percepat Pendanaan Iklim, Fokus pada Alam dan Ketahanan
Helios, perusahaan solar residensial di Filipina, disebut tumbuh lebih dari 40 persen secara bulanan selama 12 bulan terakhir.
Angka-angka ini penting karena climate tech sering menghadapi pertanyaan yang sama: apakah solusi rendah karbon bisa keluar dari tahap pilot dan menjadi bisnis yang benar-benar dibeli pasar?
Dalam kasus 100×100, Fund II tidak hanya menjual proyeksi.
Fund II membawa data awal tentang pendapatan, pertumbuhan, efisiensi modal, dan adopsi pelanggan.

Target yang Ambisius
Nama 100×100 bukan sekadar identitas merek.
Setiap perusahaan yang dibangun ditargetkan memiliki potensi memangkas hingga 100 juta ton CO₂e dan menghasilkan lebih dari US$100 juta pendapatan tahunan.
Dua angka ini menjelaskan arah besar model tersebut.
Pertama, dampak iklim harus cukup besar untuk relevan terhadap masalah emisi. Kedua, bisnisnya harus cukup kuat untuk bertahan tanpa terus bergantung pada hibah, subsidi, atau narasi ESG.
Inilah ujian penting climate tech di pasar berkembang.
Solusi iklim tidak cukup hanya menarik di tahap pilot project. Sebaliknya harus bisa dipakai industri, dibeli pelanggan, masuk ke rantai pasok, dan bertahan dalam kompetisi harga.
Baca juga: GCF Gelontorkan $686,8 Juta untuk Pendanaan Iklim 42 Negara
Fund II akan berfokus pada sektor-sektor dengan emisi besar dan permintaan yang terus naik. Di antaranya energi, transportasi, pertanian, pangan, dekarbonisasi industri, penggunaan lahan, bangunan, material berkelanjutan, dan rantai pasok.
Sektor-sektor ini dekat dengan kebutuhan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Pangan masih harus diproduksi dalam skala besar. Energi masih harus tersedia dengan harga terjangkau. Industri masih harus tumbuh. Infrastruktur masih harus dibangun.
Pertanyaannya bukan lagi apakah ekonomi akan bergerak. Tetapi, dengan emisi seperti apa pertumbuhan itu akan dibayar?
Asia sebagai Arena
Founding Partner 100×100, Quentin Vaquette, menempatkan Asia Tenggara dan Asia Selatan sebagai kawasan yang berada di persimpangan tantangan besar dunia. Kawasan ini menghadapi tekanan emisi, relokasi manufaktur, pembangunan infrastruktur AI, dan kebutuhan mendesain ulang sistem pangan.
Dengan kata lain, Asia bukan hanya lokasi terdampak krisis iklim.
Asia juga menjadi arena tempat solusi rendah karbon harus dibuktikan secara komersial.
Bagi Asia Tenggara, peluncuran dana ini memberi sinyal penting. Pembiayaan iklim mulai bergerak dari sekadar komitmen menuju penciptaan perusahaan. Dari laporan keberlanjutan menuju model bisnis. Dari offset menuju efisiensi nyata di lapangan.
Baca juga: Singapura Mengunci Posisi sebagai Hub Pasar Karbon Asia
Ini penting karena banyak negara kawasan menghadapi dilema yang sama.
Mereka harus menurunkan emisi, tetapi tetap menjaga pertumbuhan ekonomi. Mereka harus membuka ruang investasi hijau, tetapi juga memastikan industri tidak kehilangan daya saing. Mereka harus mempercepat transisi energi, tetapi tidak boleh mengabaikan harga dan keandalan pasokan.
Dalam konteks itu, climate tech tidak bisa berdiri sebagai etalase inovasi. Tapi, harus menjadi bagian dari strategi industri.
Jika solusi rendah karbon bisa membuat produksi lebih hemat, rantai pasok lebih efisien, energi lebih bersih, dan material lebih kompetitif, dekarbonisasi akan lebih mudah diterima pasar.
Namun, jika solusi hijau terus dipersepsikan sebagai biaya tambahan, adopsinya akan lambat.
Ujian Berikutnya
Meski ambisinya besar, tantangannya tidak kecil.
Model venture building membutuhkan kedalaman operasi, bukan hanya modal. Membangun 50 perusahaan climate tech di kawasan yang kompleks berarti menghadapi perbedaan regulasi, kesiapan pasar, kualitas infrastruktur, akses pelanggan, hingga kemampuan menarik pendanaan lanjutan.
Ujian paling penting akan muncul setelah tahap awal.
Apakah perusahaan-perusahaan ini bisa masuk ke pembiayaan Series A dan Series B? Apakah mereka bisa menjual solusi dalam skala industri? Apakah teknologi yang dibangun benar-benar lebih murah dan lebih baik dibanding pilihan lama?
Baca juga: Rp2 Triliun Dana Riset dan Ujian Hilirisasi SDGs Indonesia
Pertanyaan itu menentukan apakah green discount akan menjadi tesis investasi yang kuat atau hanya slogan baru dalam pasar climate finance.
Namun, arah besarnya sudah jelas. Ekonomi emisi Asia sedang menjadi arena baru perebutan modal, teknologi, dan daya saing. Negara dan perusahaan yang mampu menurunkan emisi sambil memperbaiki efisiensi akan memiliki posisi lebih kuat dalam ekonomi rendah karbon.
Dana US$100 juta dari 100×100 mungkin belum cukup untuk mengubah seluruh kawasan. Namun, itu memberi sinyal bahwa dekarbonisasi di Asia mulai masuk babak yang lebih keras dan lebih realistis.
Bukan sekadar siapa yang paling hijau. Tetapi, siapa yang bisa membuat solusi hijau menjadi lebih murah, lebih terukur, dan lebih kompetitif. ***
SustainReview.ID – Data untuk Kebijakan, Narasi untuk Perubahan.
- Foto: Saksham Vikram / Pexels – Dana iklim berbasis Singapura mulai membidik ekonomi emisi Asia, dari energi, pangan, industri, hingga rantai pasok rendah karbon.


