Singapura Mengunci Posisi sebagai Hub Pasar Karbon Asia

SINGAPURA semakin agresif memperkuat posisinya dalam arsitektur pasar karbon global. Negara kota itu kini tidak hanya ingin menjadi tempat perdagangan kredit karbon, tetapi juga pusat infrastruktur, standar, dan sistem kepercayaan untuk pasar karbon internasional.

Pasar karbon adalah mekanisme yang memungkinkan pengurangan emisi gas rumah kaca diperdagangkan dalam bentuk kredit karbon untuk membantu pembiayaan aksi iklim.

Singapura sedang membangun fondasi agar menjadi pusat utama pasar karbon Asia melalui penguatan registry, digital MRV, dan kerja sama internasional berbasis integritas pasar.

Baca juga: UN Arahkan Pasar Karbon ke Emisi Industri yang Lebih Terukur

Langkah terbaru datang melalui peluncuran Singapore Carbon Markets Programme bersama World Bank Group dalam forum Innovate4Climate di Singapora, pekan ini. Program tersebut dirancang untuk membantu negara-negara membangun sistem, regulasi, dan kapasitas teknis agar bisa masuk ke pasar karbon global dengan standar yang lebih kredibel.

Di tengah meningkatnya kritik terhadap kualitas kredit karbon dunia, isu utama pasar kini bukan lagi sekadar jumlah proyek karbon, tetapi apakah sistem verifikasi, data, dan tata kelolanya benar-benar dapat dipercaya.

Infrastruktur Kepercayaan

Program baru tersebut memiliki tiga fokus utama. Pertama, membangun infrastruktur dan teknologi pasar karbon. Kedua, mengembangkan model monetisasi kredit karbon yang lebih efisien. Ketiga, memperkuat kesiapan negara berkembang dalam membangun strategi dan institusi karbon nasional.

Salah satu fokus paling penting adalah pengembangan interoperable carbon registries atau sistem registri karbon yang bisa saling terhubung lintas negara dan sesuai standar internasional.

MRV atau Monitoring, Reporting, and Verification adalah sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi emisi yang digunakan untuk memastikan kredit karbon benar-benar mewakili pengurangan emisi nyata.

Baca juga: Pasar Karbon Indonesia Mulai Masuk Era Auditabilitas

Singapura dan World Bank juga mendorong penggunaan digital MRV untuk jenis kredit baru, termasuk sektor pertanian regeneratif. Pendekatan ini dianggap penting untuk menekan biaya verifikasi dan meningkatkan transparansi pasar.

Data menjadi salah satu faktor yang kini menentukan masa depan pasar karbon global. Menurut berbagai proyeksi industri, nilai pasar karbon sukarela dunia dapat mencapai ratusan miliar dolar AS sebelum 2050 jika isu integritas berhasil diperbaiki.

Namun tanpa sistem registry yang kuat dan governance yang jelas, banyak negara berkembang berisiko hanya menjadi pemasok kredit murah tanpa memperoleh manfaat ekonomi optimal.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Diplomasi Karbon Baru

Singapura sebenarnya sudah mulai membangun fondasi tersebut sejak beberapa tahun terakhir. Negara itu menerapkan pajak karbon pada 2019 dan aktif menjalin perjanjian pembelian kredit karbon dengan sejumlah negara mitra.

Singapura juga ikut memimpin Coalition to Grow Carbon Markets bersama Inggris dan Kenya. Selain itu, negara tersebut menjadi founding partner CAD Trust bersama World Bank Group dan International Emissions Trading Association (IETA).

Langkah itu menunjukkan bahwa persaingan pasar karbon kini mulai bergerak dari sekadar perdagangan kredit menuju perebutan pengaruh dalam infrastruktur tata kelola karbon global.

Baca juga: Bukan Sekadar Harga Karbon, Dunia Kini Berebut Standar Pasar Karbon

Kristina Svensson dari World Bank Group mengatakan kerja sama tersebut bertujuan membuka akses pembiayaan iklim yang lebih nyata bagi negara berkembang melalui pasar karbon yang memiliki integritas tinggi.

Sementara Director for Climate World Bank Group Jamie Fergusson menegaskan bahwa pasar karbon hanya bisa berkembang jika negara memiliki infrastruktur, kapasitas teknis, dan kepercayaan pasar yang memadai.

Tekanan untuk Negara Berkembang

Bagi negara berkembang, perubahan arah ini memiliki implikasi besar. Negara dengan potensi karbon besar tidak lagi cukup hanya memiliki hutan, proyek energi bersih, atau kawasan konservasi.

Mereka juga harus memiliki

  • registry karbon yang kredibel,
  • sistem MRV yang kuat,
  • tata kelola transparan,
  • dan strategi nasional yang jelas.

Tanpa itu, proyek karbon akan sulit menarik pembeli internasional dan pembiayaan iklim skala besar.

Baca juga: ASEAN Mulai Bangun Jalur Resmi Pasar Karbon Regional

Indonesia sendiri memiliki potensi besar dalam perdagangan karbon melalui sektor kehutanan, mangrove, energi transisi, hingga solusi berbasis alam. Namun tantangan utama tetap berada pada integrasi sistem, kualitas data, dan harmonisasi tata kelola lintas lembaga.

Implikasi kebijakannya mulai terlihat jelas. Pasar karbon masa depan kemungkinan akan lebih ditentukan oleh kualitas infrastruktur dan governance dibanding sekadar volume kredit yang tersedia.

Di titik ini, Singapura tampaknya ingin memastikan dirinya berada di pusat arsitektur baru tersebut. ***

  • Foto: Jahoo Clouseau/ PexelsSingapura memperluas perannya dalam pembangunan infrastruktur pasar karbon dan climate finance regional.
Bagikan