Ikan Purba Ditemukan di Indonesia, Habitatnya Belum Sepenuhnya Dilindungi

Sebanyak 18 Coelacanth ditemukan di Pulau Talise. Sains telah menunjukkan habitat pentingnya. Kini, kebijakan konservasi harus segera menyusul.

SEBELAS ikan purba hidup di dalam satu gua bawah laut.

Bukan sebelas fosil. Bukan pula rekonstruksi kehidupan laut jutaan tahun lalu.

Mereka adalah Coelacanth Indonesia atau Latimeria menadoensis yang masih berenang di perairan Pulau Talise, Sulawesi Utara.

Dalam survei terbaru, tim peneliti mendokumentasikan total 18 individu Coelacanth di kawasan tersebut. Sebanyak 11 ekor ditemukan berada dalam satu gua.

Temuan itu mengubah cara Pulau Talise harus dipandang.

Kawasan tersebut bukan lagi sekadar salah satu lokasi kemunculan ikan langka. Konsentrasi individu dalam satu gua mengindikasikan bahwa Talise memiliki fungsi ekologis penting sebagai tempat berlindung dan habitat utama Coelacanth.

Sains telah menemukan rumahnya. Namun, perlindungan penuh terhadap rumah itu masih dipersiapkan.

Bertahan Ratusan Juta Tahun

Coelacanth berasal dari kelompok ikan bersirip lobus yang jejak fosilnya telah ditemukan sejak sekitar 400 juta tahun lalu. Ikan ini pernah dianggap telah punah bersama dinosaurus hingga spesimen hidup ditemukan pada 1938.

Kini, dunia mengenal dua spesies Coelacanth yang masih hidup. Salah satunya adalah Latimeria menadoensis, spesies yang ditemukan di Indonesia dan dikenal pula sebagai Coelacanth Sulawesi.

Spesies ini berstatus rentan atau vulnerable dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature. Coelacanth Indonesia juga tercantum dalam Apendiks I CITES, kategori yang memberikan pembatasan paling ketat terhadap perdagangan internasional spesies terancam.

Namun, status perlindungan terhadap spesies tidak otomatis membuat habitatnya aman.

Baca juga: Menutup Ekspor Benih Lobster, Menghentikan Kebocoran Ekologi Indonesia

Coelacanth bergantung pada kondisi laut dalam yang sangat spesifik. Gua dan celah batu menjadi tempat berlindung pada siang hari. Gangguan terhadap struktur habitat, kualitas perairan, ketersediaan makanan, atau aktivitas penangkapan ikan dapat meningkatkan tekanan terhadap populasinya.

Karena itu, menjaga Coelacanth tidak cukup dengan melarang ikan tersebut ditangkap atau diperdagangkan. Negara juga harus menjaga ruang hidup yang membuatnya mampu bertahan.

Delapan Belas Individu Mengubah Posisi Talise

Penelitian Coelacanth di Indonesia telah berjalan selama lebih dari dua dekade.

Sejak 2004, tim peneliti mengidentifikasi sedikitnya 52 individu di perairan Indonesia. Mereka menjalankan sejumlah ekspedisi untuk memetakan sebaran, mempelajari perilaku, dan memahami biologi spesies yang masih menyimpan banyak misteri.

Pulau Talise telah diteliti sejak 2009. Pada ekspedisi awal, tim hanya mencatat empat individu.

Survei kolaboratif terbaru yang melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional, Universitas Sam Ratulangi, OceanX, serta NHK kemudian mendokumentasikan 18 individu. Sebanyak 11 di antaranya berada dalam satu gua bawah laut.

Baca juga: Stok Ikan Laut Jawa Menyusut Drastis, Alarm Degradasi Lingkungan

Angka itu penting, bukan sekadar karena lebih besar dibandingkan temuan sebelumnya.

Sebelas individu yang menggunakan satu gua menunjukkan adanya konsentrasi populasi pada habitat tertentu. Artinya, kerusakan pada satu titik dapat memengaruhi lebih dari satu ikan sekaligus.

Temuan itu juga memberi dasar yang lebih kuat untuk menentukan batas kawasan, zona perlindungan inti, serta jenis aktivitas yang masih dapat dilakukan di sekitarnya.

Tanpa basis data seperti ini, konservasi mudah berhenti pada batas administratif. Dengan data habitat, kebijakan dapat bergerak berdasarkan kebutuhan ekologis spesies.

Petunjuk Reproduksi Mulai Terbuka

Data lain membuat posisi perairan Indonesia semakin penting.

Peneliti mendokumentasikan seekor Coelacanth juvenil berukuran sekitar 26 sentimeter di Teluk Amurang. Penemuan individu muda memberikan petunjuk bahwa sebagian perairan Indonesia mungkin berperan dalam siklus reproduksi dan regenerasi populasinya.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Pemindaian CT Scan terhadap salah satu spesimen juga memperlihatkan keberadaan 22 telur di dalam tubuh ikan.

Temuan juvenil dan telur sangat berharga karena reproduksi Coelacanth masih sulit dipelajari. Habitatnya berada di kedalaman laut, sementara populasinya jarang ditemukan dan tidak mudah diamati dalam waktu lama.

Coelacanth juga berkembang biak dengan sangat lambat. Kondisi tersebut membuat kehilangan individu dewasa atau rusaknya habitat reproduksi berpotensi menimbulkan dampak panjang.

Data reproduksi akhirnya membawa konservasi keluar dari sekadar upaya melindungi ikan yang terlihat hari ini. Yang harus dijaga adalah kemampuan populasinya untuk tetap bertahan pada generasi berikutnya.

Habitatnya Lebih Luas, Perlindungannya Harus Terhubung

Rangkaian penelitian mengonfirmasi bahwa habitat Coelacanth Indonesia membentang dari Biak di Papua hingga Buol di Sulawesi Tengah.

Temuan spesimen hidup di Maluku Utara pada 2025 juga memperluas pengetahuan mengenai persebaran Latimeria menadoensis. Rekaman tersebut menunjukkan bahwa perairan laut dalam Indonesia mungkin menyimpan lebih banyak habitat Coelacanth daripada yang selama ini diketahui.

Namun, sebaran yang luas tidak selalu berarti populasinya aman.

Habitat Coelacanth dapat terpisah dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok mungkin bergantung pada gua, kedalaman, suhu, dan kondisi perairan tertentu.

Karena itu, perlindungan tidak seharusnya hanya berorientasi pada satu titik penemuan. Pemerintah memerlukan pemetaan habitat yang saling terhubung, termasuk jalur pergerakan, area mencari makan, dan kawasan yang berpotensi menjadi tempat reproduksi.

Baca juga: Kuda Laut Indonesia Masuk Zona Risiko, Krisis Data Laut Jadi Ancaman Baru

Teknologi environmental DNA atau eDNA dapat membantu pekerjaan tersebut. Melalui jejak materi genetik yang tertinggal di air, peneliti dapat mendeteksi keberadaan spesies tanpa harus selalu melihat atau menangkap individunya.

Pendekatan ini membuka peluang pemantauan yang lebih luas dan lebih rendah gangguan, terutama untuk spesies langka di laut dalam.

Jangan Menunggu UNESCO

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara telah menyerahkan dokumen persetujuan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menetapkan perairan Pulau Talise sebagai kawasan konservasi atau taman suaka habitat Coelacanth.

Setelah penetapan nasional, kawasan tersebut direncanakan untuk diusulkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Ambisi itu layak diapresiasi. Pulau Talise berada di kawasan Segitiga Terumbu Karang, salah satu pusat keanekaragaman hayati laut terpenting di dunia.

Namun, status internasional tidak boleh menjadi titik awal perlindungan.

Baca juga: Menjaga Lintasan Ikan, Konservasi yang Terlupakan

Sebelum mengejar pengakuan UNESCO, Indonesia harus memastikan aturan konservasi benar-benar bekerja di laut. Batas kawasan perlu ditentukan berdasarkan data habitat. Aktivitas penangkapan ikan harus diatur. Risiko tangkapan sampingan perlu ditekan. Wisata bawah laut tidak boleh mengganggu gua yang digunakan Coelacanth.

Masyarakat sekitar juga harus menjadi bagian dari pengelolaan, bukan sekadar penonton ketika wilayahnya memperoleh label konservasi dunia.

Kawasan konservasi yang hanya hidup di atas dokumen tidak akan cukup melindungi spesies yang habitatnya berada jauh di bawah permukaan laut.

Ujian Mengubah Data Menjadi Perlindungan

Penemuan 18 individu Coelacanth memberi Indonesia sesuatu yang sangat berharga: bukti ilmiah yang cukup kuat untuk bertindak.

Data itu menunjukkan lokasi habitat. Temuan juvenil memberi petunjuk keberlanjutan populasi. Pemindaian 22 telur membuka informasi reproduksi. Sebaran dari Sulawesi hingga Papua memperlihatkan besarnya tanggung jawab Indonesia.

Kini, tantangannya bukan lagi menemukan ikan purba tersebut.

Tantangannya adalah mengubah hasil ekspedisi menjadi zonasi, pengawasan, aturan pemanfaatan, pendanaan riset, dan perlindungan habitat yang dapat bertahan dalam jangka panjang.

Coelacanth telah melewati perubahan iklim purba, pergeseran benua, dan berbagai peristiwa kepunahan selama ratusan juta tahun.

Namun, masa depannya di perairan Indonesia kini bergantung pada keputusan yang dibuat manusia dalam beberapa tahun ke depan. ***

  • Ilustrasi diolah dari materi publikasi BRINCoelacanth Indonesia berenang di habitat laut dalam. Temuan 18 individu di perairan Pulau Talise memperkuat dasar ilmiah untuk melindungi kawasan tersebut.
Bagikan