Net Zero Tanpa Angka, Masih Bisa Dipercaya?

PERUBAHAN strategi dua bank terbesar Kanada menunjukkan satu hal jelas, komitmen net zero di sektor keuangan global sedang mengalami uji realitas. Royal Bank of Canada (RBC) dan Scotiabank menarik target emisi jangka menengah mereka, menandai pergeseran dari pendekatan berbasis angka menuju pendekatan berbasis pembiayaan. Dalam praktiknya, ini berarti satu hal penting. Transisi energi tetap berjalan,…

Baca Selengkapnya...

Dari Sampah ke Produk Premium, Bisakah Model Ini Mengubah Krisis Plastik?

INDONESIA memproduksi antara 7,8 hingga 12,4 juta ton sampah plastik per tahun, dengan tren yang terus meningkat seiring tingginya penggunaan plastik sekali pakai. Sebagian besar tidak dikelola secara optimal, dan sebagian berakhir di lingkungan terbuka, termasuk laut. Dalam konteks ini, sampah plastik bukan hanya persoalan lingkungan. Tapi juga mencerminkan celah dalam sistem pengelolaan. Di titik…

Baca Selengkapnya...

Outcome Bond: Saat Restorasi Alam Mulai Dibiayai seperti Infrastruktur

RESTORASI ekosistem kini mulai diperlakukan sebagai aset investasi. Instrumen bernama outcome bond memungkinkan investor memperoleh imbal hasil berdasarkan hasil lingkungan yang terukur, bukan sekadar klaim hijau di atas kertas. Model ini sedang diuji di Eastern Cape, Afrika Selatan. World Bank menerbitkan obligasi senilai US$120 juta untuk membiayai pemulihan lanskap Albany thicket. Berbeda dari green bond…

Baca Selengkapnya...

Bank Masuk ke Pasar Karbon, Skala Dampak Masih Jadi Tantangan

PERBANKAN mulai bergeser dari sekadar penyedia pembiayaan hijau menjadi penghubung langsung antara individu dan pasar karbon. Langkah ini terlihat dari strategi Bank Mandiri yang tidak hanya memperbesar portofolio pembiayaan berkelanjutan, tetapi juga membuka akses offset emisi bagi nasabah ritel. Per Maret 2026, portofolio pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri mencapai sekitar Rp320 triliun, tumbuh 8,8% secara tahunan….

Baca Selengkapnya...

Pasar Karbon Indonesia: Instrumen Baru, Kredibilitas Lama yang Diuji

PASAR karbon Indonesia mulai bergerak sebagai instrumen ekonomi, bukan lagi sekadar narasi lingkungan. Namun, pertanyaan kuncinya belum berubah, apakah sistem ini cukup kredibel untuk menarik modal global? Pasar karbon pada dasarnya adalah mekanisme yang memberi nilai ekonomi pada penurunan emisi. Dalam praktiknya, perusahaan dapat membeli kredit karbon untuk mengimbangi emisi yang tidak dapat mereka kurangi…

Baca Selengkapnya...

Eropa Menyederhanakan ESG, dari Beban Pelaporan ke Manajemen Risiko

PENYEDERHANAAN pelaporan ESG oleh European Banking Authority bukanlah pelonggaran standar, melainkan pergeseran fokus dari kepatuhan administratif ke manajemen risiko yang lebih efektif dan proporsional. Langkah ini muncul di tengah satu realitas, kompleksitas regulasi ESG mulai menjadi beban operasional, bahkan bagi sistem perbankan yang matang seperti Uni Eropa. Dari Data ke Risiko Selama beberapa tahun terakhir,…

Baca Selengkapnya...

Carbon Removal Jadi Infrastruktur, Microsoft Kunci Pasokan 15 Tahun

PASAR karbon global mulai berubah arah. Bukan lagi sekadar kompensasi emisi, tapi masuk fase baru, infrastruktur jangka panjang. Kesepakatan Microsoft untuk membeli 626.000 ton kredit carbon removal selama 15 tahun dari proyek North Star di Kanada menjadi sinyal kuat. Korporasi kini tidak lagi berburu offset murah, tetapi mengunci pasokan karbon yang bersifat permanen, terukur, dan…

Baca Selengkapnya...

PROPER Jadi Penentu Reputasi, Bukan Lagi Sekadar Kepatuhan

TRANSFORMASI tata kelola lingkungan di Indonesia mulai bergerak ke arah baru. Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) tidak lagi sekadar instrumen evaluasi kepatuhan. Ta;pi, mulai berfungsi sebagai penanda reputasi dan daya saing perusahaan di mata publik, regulator, dan pasar. Pada periode 2024–2025, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mencatat 5.476 perusahaan mengikuti PROPER, naik 22 persen dibandingkan…

Baca Selengkapnya...

Kepemimpinan Berbasis Kepedulian sebagai Kebutuhan Baru

DI TENGAH organisasi yang semakin kompleks dan bergerak cepat, persoalan kepemimpinan tidak lagi berhenti pada kemampuan mengambil keputusan. Tantangannya kini lebih mendasar, bagaimana keputusan itu dibentuk, dan bagaimana manusia di dalam sistem meresponsnya. Banyak organisasi hari ini tidak kehilangan arah karena kekurangan strategi. Mereka melemah karena rapuhnya kepercayaan, menurunnya rasa memiliki, dan terputusnya relasi manusia…

Baca Selengkapnya...

ESG: Mengapa Standar Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola Semakin Penting bagi Bisnis

DALAM beberapa tahun terakhir, ESG tidak lagi dipandang sebagai isu reputasi. Tapi, mulai berfungsi sebagai alat seleksi modal, menentukan perusahaan mana yang layak didanai, dipercaya, dan bertahan dalam ekonomi global yang semakin menuntut transparansi. ESG adalah kerangka penilaian yang mengukur kinerja perusahaan dari tiga aspek utama, lingkungan (Environmental), sosial (Social), dan tata kelola (Governance). Konsep…

Baca Selengkapnya...