GELOMBANG panas ekstrem kini menjadi wajah paling nyata dari krisis iklim global. Dari Brasil hingga Somalia, dari kota pesisir hingga kawasan pedalaman, suhu ekstrem telah menelan korban jiwa, menekan ekonomi, dan menguji daya tahan infrastruktur publik.
Di tengah situasi itu, Presidensi COP30 dan Cool Coalition yang dipimpin UNEP meluncurkan fase implementasi Global Mutirão Against Extreme Heat / Beat the Heat, sebuah gerakan global untuk mempercepat solusi pendinginan berkelanjutan dan ketahanan panas di kota-kota dunia.
Dari Janji ke Aksi Nyata
Inisiatif ini merupakan upaya untuk menerjemahkan komitmen Global Cooling Pledge menjadi tindakan konkret. Hingga kini, 185 kota telah bergabung dalam Global Mutirão dan 72 negara menandatangani Cooling Pledge dengan target mengurangi emisi terkait pendinginan hingga 68% pada 2050.
Menurut CEO COP30 Ana Toni, pendekatan ini efektif karena menyentuh pengalaman manusia secara langsung. “Orang memahami panas karena mereka merasakannya. Inisiatif ini menghubungkan sains dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Baca juga: Target 1,5°C Hampir Mustahil, Jun Arima Serukan Transisi Energi yang Lebih Realistis
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara wali kota, sektor swasta, dan teknologi untuk memperluas dampak program ini hingga akhir COP30.
Pendinginan Berkelanjutan, Jalan Panjang Menuju Adaptasi
Laporan terbaru UNEP mengungkapkan bahwa permintaan pendinginan global akan meningkat tiga kali lipat pada 2050. Tanpa intervensi, hal ini dapat memperburuk perubahan iklim dan membebani jaringan listrik global. Namun, transisi menuju sistem pendinginan berkelanjutan berpotensi menurunkan emisi hingga 64%, melindungi 3 miliar orang dari panas ekstrem, dan menghemat hingga USD 43 triliun dalam biaya listrik dan infrastruktur.
Baca juga: Metana Jadi Musuh Baru, Indonesia Masuk Barisan Awal Aksi Cepat Iklim Dunia
Laporan yang diterbitkan Cool Coalition tersebut menegaskan pentingnya Sustainable Cooling Pathway, jalur menuju sistem pendinginan yang inklusif, efisien, dan rendah emisi. Pendekatan ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga keadilan iklim, terutama bagi kelompok rentan seperti petani kecil, perempuan, lansia, dan masyarakat berpenghasilan rendah.

Tiga Agenda Panas dari Brasil
Menteri Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Brasil, Marina Silva, mengingatkan bahwa lebih dari 20 juta anak di Brasil belajar di sekolah tanpa pendingin udara dan fasilitas adaptif terhadap suhu ekstrem. Ia menyoroti pentingnya integrasi tiga agenda besar. yakni mitigasi, adaptasi, dan transformasi.
Baca juga: COP30: Waktu Menjadi Musuh Terbesar Aksi Iklim
“Mitigasi menyasar akar penyebab panas ekstrem. Adaptasi memastikan kita siap menghadapi dampaknya. Sementara transformasi adalah upaya jangka panjang membangun sistem yang lebih tangguh,” ujarnya.
Panas Ekstrem, Krisis yang Semakin Nyata
Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen menegaskan bahwa akses terhadap pendinginan harus diperlakukan sebagai infrastruktur esensial, sejajar dengan air, energi, dan sanitasi. “Panas ekstrem sudah menewaskan setengah juta orang setiap tahun. Pendinginan bukan kemewahan, tapi menyelamatkan nyawa,” katanya.
Baca juga: Dari Lingkaran Janji ke Agenda Transisi Energi Hijau Dunia
Ia juga menegaskan kolaborasi 72 negara di bawah Global Cooling Pledge untuk memperluas akses teknologi pendinginan ramah lingkungan sambil menekan emisi secara drastis.
Kota Benteng Pertahanan Terdepan
Gelombang panas kini menjadi tantangan terbesar bagi kota-kota dunia. Urbanisasi memperparah efek suhu ekstrem, terutama di wilayah padat dan miskin infrastruktur. Menteri Lingkungan Hidup Somalia, Bashir Mohamed Jama, menilai fenomena ini sudah memicu perpindahan penduduk dan meningkatnya permukiman informal.
Sementara itu, Wali Kota Fortaleza, Evandro Leitao, menekankan bahwa krisis iklim dan keadilan sosial saling terkait. “Menghadapi krisis iklim berarti juga memperjuangkan keadilan sosial, lewat aksi lintas sektor di bidang kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur,” katanya. ***
- Foto: Rafa Neddermeyer / COP30 – CEO Ana Toni saat meluncurkan inisiatif Global Mutirão Against Extreme Heat / Beat the Heat bersama UNEP di Belém, Brasil. Program ini mendorong solusi pendinginan berkelanjutan di kota-kota dunia.


