SAF Jadi Strategi Industri Baru Inggris

INGGRIS tidak hanya sedang bicara bahan bakar pesawat yang lebih bersih. Negara itu sedang membangun fondasi industri baru di sekitar sustainable aviation fuel atau SAF.

Sustainable aviation fuel atau SAF adalah bahan bakar penerbangan rendah karbon yang dapat dipakai pada pesawat modern, dengan emisi siklus hidup lebih rendah dibandingkan avtur fosil.

Langkah Inggris menunjukkan transisi aviasi tidak cukup ditopang target emisi, tetapi membutuhkan dana publik, mandat pasar, kepastian regulasi, dan proyek produksi yang layak dibiayai.

Pemerintah Inggris menyiapkan £219 juta, setara sekitar Rp5,3 triliun, untuk Low Carbon Fuels Fund. Dari jumlah itu, £93 juta, atau sekitar Rp2,25 triliun, akan dibuka dalam dua tahun awal bagi perusahaan yang mengembangkan dan meningkatkan skala produksi bahan bakar rendah karbon.

Dana ini tidak berdiri sendiri. Sejak 2022, Inggris juga telah menyalurkan dukungan melalui Advanced Fuels Fund. Artinya, kebijakan SAF di Inggris mulai bergerak dari riset dan demonstrasi menuju produksi yang lebih dekat dengan skala komersial.

Baca juga: Eropa Industrialisasi SAF, Indonesia Perlu Membaca Arah

Bagi sektor penerbangan, SAF menjadi salah satu alat utama untuk menekan emisi. Pemerintah Inggris menyebut SAF dapat memangkas emisi gas rumah kaca rata-rata 70 persen secara siklus hidup dibandingkan bahan bakar jet fosil.

Namun, cerita SAF tidak sesederhana mengganti avtur lama dengan bahan bakar baru.

SAF masih mahal. Pasokannya terbatas. Proyek produksinya padat modal. Rantai pasok bahan baku perlu dijaga. Maskapai juga membutuhkan kepastian volume agar mandat bahan bakar rendah karbon tidak berubah menjadi tekanan biaya yang terlalu berat.

Karena itu, dana publik menjadi sinyal penting. Pemerintah masuk untuk mengurangi risiko awal. Investor swasta diharapkan ikut masuk setelah proyek, permintaan, dan regulasi terlihat lebih kredibel.

Mandat Pasar

Inggris sudah memiliki mandat SAF. Aturan itu mewajibkan porsi bahan bakar penerbangan berkelanjutan meningkat bertahap dalam pasokan avtur nasional.

Targetnya dimulai dari 2 persen pada 2025, naik menjadi 10 persen pada 2030, lalu mencapai 22 persen pada 2040.

Angka ini penting karena mandat menciptakan pasar. Tanpa mandat, produsen SAF sulit memastikan pembeli jangka panjang. Tanpa pembeli jangka panjang, investor sulit membiayai fasilitas produksi.

Di sinilah kebijakan publik bekerja sebagai jembatan. Pemerintah tidak hanya memberi hibah, tetapi juga membentuk permintaan.

Baca juga: Maskapai Mulai Berebut SAF Sebelum Regulasi 2030 Berlaku

Namun, Inggris juga membuka Call for Evidence untuk meninjau desain SAF Mandate. Pemerintah menyatakan target utama mandat tidak sedang dipertimbangkan untuk diturunkan. Yang dikaji adalah proyeksi pasokan global, kesiapan industri, dan ruang fleksibilitas agar target bisa dicapai.

Menteri Aviasi, Maritim, dan Dekarbonisasi Inggris, Keir Mather, menyebut pendanaan ini sebagai babak baru revolusi aviasi hijau Inggris. “Dana £219 juta ini adalah babak berikutnya dalam revolusi aviasi hijau Inggris. Kami mendukung inovasi Inggris, menciptakan ribuan pekerjaan berketerampilan tinggi, dan memastikan Inggris memimpin dunia dalam bahan bakar yang akan menggerakkan masa depan penerbangan,” kata Mather dalam pernyataan resmi pemerintah Inggris.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Ini titik kebijakan yang penting.

Transisi energi membutuhkan ambisi. Tetapi ambisi harus bertemu dengan kapasitas produksi, teknologi, bahan baku, pembiayaan, dan kesiapan pasar. Jika desain mandat terlalu kaku, biaya bisa melonjak. Jika terlalu longgar, investasi bisa tertunda.

Industri Baru

Pemerintah Inggris mengaitkan SAF dengan pekerjaan, pertumbuhan ekonomi, dan posisi kompetitif negara.

Produksi bahan bakar rendah karbon disebut berpotensi mendukung 15.000 pekerjaan dan menambah hingga £5 miliar ke ekonomi Inggris pada 2050. Lapangan kerja itu tidak hanya berada di sektor penerbangan, tetapi juga teknik, manufaktur, konstruksi, sains, dan pengolahan bahan baku.

Dengan kata lain, SAF sedang dibaca sebagai industrial policy.

Negara yang lebih dulu membangun fasilitas produksi, standar mutu, rantai pasok, dan pasar domestik akan memiliki posisi lebih kuat ketika permintaan bahan bakar rendah karbon meningkat.

Persaingan ini tidak hanya terjadi di langit. Persaingan juga terjadi di kawasan industri, pelabuhan, laboratorium, ladang bahan baku, dan meja pembiayaan proyek.

Baca juga: Pasar SAF Tak Lagi Ditentukan Target Emisi, tetapi Jaminan Negara

Produsen seperti British Sugar dan LanzaTech melihat dana baru ini sebagai peluang memperkuat produksi domestik. British Sugar, misalnya, mengembangkan proyek British BioJet dengan teknologi ethanol-to-jet. LanzaTech juga mengaitkan proyek SAF dengan pemanfaatan limbah dan pengembangan kawasan industri seperti Humberside.

Bagi investor, sinyal ini penting. SAF membutuhkan proyek jangka panjang. Proyek seperti ini tidak cukup hanya menjual narasi hijau. Proyek harus memiliki kepastian permintaan, dukungan kebijakan, akses bahan baku, teknologi yang terbukti, dan skema pendapatan yang dapat dihitung.

Implikasi Kebijakan

Langkah Inggris memberi pelajaran penting bagi negara lain, termasuk Indonesia.

Dekarbonisasi penerbangan tidak bisa hanya dibaca sebagai isu maskapai. Ini isu energi, industri, investasi, riset, pertanian, limbah, dan perdagangan.

Jika Indonesia ingin masuk ke rantai nilai SAF, pertanyaannya bukan hanya apakah bahan bakunya tersedia. Pertanyaannya juga apakah regulasi, insentif, standar, riset, sertifikasi, dan pasar domestiknya siap.

Indonesia memiliki potensi bahan baku bioenergi dan limbah. Namun, potensi tidak otomatis menjadi industri. Diperlukan peta jalan yang jelas, tata kelola bahan baku yang berkelanjutan, perlindungan terhadap risiko deforestasi, serta kepastian pasar bagi produsen.

Baca juga: SAF Indonesia: Produksi Dimulai, Pasar Belum Terbentuk

Di tingkat global, SAF akan menjadi arena baru dalam transisi energi. Negara maju mulai menggunakan dana publik untuk menarik modal swasta. Mandat digunakan untuk menciptakan permintaan. Industri lokal dibangun sebelum pasar benar-benar matang.

Di sinilah pesan kebijakannya menjadi jelas.

Penerbangan rendah karbon tidak akan lahir hanya dari janji net zero. Penerbangan rendah karbon membutuhkan desain pasar, keberanian fiskal, dan kemampuan negara membaca transisi energi sebagai strategi industri. ***

  • Foto: Ilustrasi/  Corentin Detry/ Pexels – Pemerintah Inggris mendorong sustainable aviation fuel sebagai bagian dari strategi industri aviasi rendah karbon. SAF kini dibaca bukan hanya sebagai solusi emisi, tetapi juga pasar baru bagi investasi, produksi, dan pekerjaan.
Bagikan