Indonesia, Negeri Para Pencerita: Jalan Baru Menjadi Pemimpin Pariwisata Berkelanjutan Dunia

DI ERA ketika wisatawan dunia mencari makna, bukan kemewahan, Indonesia memiliki modal yang bahkan tidak bisa dibeli oleh negara mana pun, yakni keragaman cerita, komunitas, dan hubungan manusia dengan alam. Jika kekuatan itu dimanfaatkan sebagai strategi nasional, Indonesia dapat menjadi laboratorium masa depan pariwisata berkelanjutan dunia.

Gambaran tersebut menguat dari percakapan SustainReview dengan dua pemikir global, Pakar Aviasi Internasional Paul Charles dan Travel Editor CBS News Peter Greenberg, di sela TOURISE Global Summit 2025 di Riyadh, 11–13 November 2025.

Cerita sebagai Daya Saing Baru

Keduanya datang dengan latar berbeda. Paul dari dunia penerbangan dan travel innovation, Greenberg dari jurnalisme perjalanan yang selalu menempatkan kepentingan publik sebagai pusat analisis. Tetapi dalam percakapan terpisah, keduanya berhenti pada kesimpulan yang sama, bahwa masa depan pariwisata tidak lagi digerakkan oleh fasilitas, melainkan oleh cerita dan manfaat yang kembali ke masyarakat lokal.

Indonesia, dengan 17.000 pulau dan ratusan komunitas adat, berdiri di persimpangan krusial perubahan itu.

Greenberg menegaskan, kekuatan terbesar Indonesia bukanlah lanskapnya, melainkan manusia yang tinggal di dalam lanskap itu. Para pencerita yang memahami sejarah tempat, menjaga tradisi, dan mampu menghidupkan kembali makna perjalanan melalui narasi yang diwariskan lintas generasi.

Baca juga: Peter Greenberg: Sustainability Tak Cukup dengan Slogan, Saatnya “Ikuti Uangnya”

Dalam pandangannya, negara yang berhasil memimpin pariwisata berkelanjutan bukanlah negara yang membangun resort terbesar, tetapi negara yang memberi ruang bagi masyarakat untuk menceritakan dirinya sendiri.

“Pertanyaannya sederhana,” ujarnya. “Ketika wisatawan menghabiskan uang, apakah uang itu kembali ke masyarakat? Jika tidak, pariwisata itu tidak berkelanjutan.”

Indonesia belum menata ulang pertanyaan ini sebagai fondasi kebijakan. Namun peluangnya jelas. Dengan struktur desa wisata, UMKM, dan jaringan komunitas budaya, Indonesia bisa menjadi contoh global bagaimana ekonomi lokal menjadi pusat ekosistem pariwisata.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Wisata yang Mencari Makna

Paul Charles melihat sudut yang melengkapi itu. Dunia perjalanan pasca-pandemi bukan lagi soal melarikan diri dari rutinitas, tetapi soal refocus, kembali menata makna hidup. Wisatawan ingin pulang membawa pelajaran, bukan sekadar foto. Mereka mencari perjalanan yang membangun koneksi baru antara manusia, lingkungan, dan nilai-nilai yang lebih dalam.

Indonesia secara alami cocok dengan pola ini. Banyak hotel kecil, homestay, dan penginapan keluarga di desa wisata secara intuitif telah menjalankan praktik hijau jauh sebelum konsep sustainability menjadi metode pemasaran.

Mereka menggunakan botol kaca, mempekerjakan warga sekitar, memasok bahan dari UMKM lokal, dan menjaga hubungan dengan alam secara organik. “Sering kali justru operator kecil yang paling hijau,” kata Paul. “Karena keberlanjutan mereka lahir dari kebutuhan dan kedekatan dengan komunitas.”

Baca juga: Paul Charles: Industri Perjalanan Harus Berevolusi Menuju Langit yang Lebih Hijau

Namun, baik Paul maupun Greenberg memberi peringatan halus. Indonesia belum mengubah kekuatan itu menjadi narasi nasional. Industri masih terjebak dalam cara lama. Mempromosikan fasilitas, akomodasi, dan angka kunjungan. Padahal, konsumen masa kini tidak jatuh cinta pada fasilitas. Mereka tergerak oleh cerita yang menyentuh emosi dan menunjukkan dampak.

Saatnya Indonesia Mengangkat Para Pencerita

Di titik inilah Indonesia perlu membalik strategi, dari destinasi yang “dipasarkan”, menjadi destinasi yang “diceritakan oleh para penjaganya sendiri”. Dari pariwisata yang mengejar volume, menjadi pariwisata yang menghidupi ekosistem lokal. Dari green messaging yang penuh slogan, menjadi keberlanjutan yang nyata dan dapat dirasakan pengunjung.

Kedua tokoh global itu sesungguhnya memberikan peta jalan yang sama, masyarakat lokal adalah masa depan pariwisata, dan cerita adalah mata uang global yang paling berharga.

Baca juga: Saatnya Industri Travel Mengubah Cara Bercerita tentang Keberlanjutan

Dunia sedang mencari pengalaman yang otentik, manusiawi, dan membumi. Dan Indonesia, dengan keberagaman budaya, tradisi, ritual, dan hubungan spiritual dengan alam, memiliki semua bahan baku untuk menjadi pemimpin dunia dalam pariwisata berkelanjutan.

Indonesia telah lama punya cerita.
Kini waktunya memberi panggung bagi para penceritanya. ***

  • Foto: @desawisatabonjeruk Wisatawan belajar langsung dari warga Desa Wisata Bonjeruk, Lombok Tengah, potret interaksi autentik yang menjadi inti pariwisata berkelanjutan berbasis cerita dan komunitas.
Bagikan