Defisit Air Jawa Menguji Fondasi Ekonomi Indonesia

KRISIS air mulai mengetuk jantung ekonomi Indonesia. Bukan di wilayah terpencil, melainkan di Pulau Jawa, pusat populasi, industri, dan aktivitas ekonomi nasional.

Laporan Indonesia Environment Outlook (IEO) 2026 menunjukkan Pulau Jawa mengalami defisit air sekitar 118 miliar meter kubik setiap tahun. Angka ini menggambarkan jurang yang makin lebar antara kebutuhan air dan ketersediaan sumber daya air yang dapat dimanfaatkan.

Padahal, secara nasional Indonesia sebenarnya tergolong negara kaya air. Potensi sumber daya air diperkirakan mencapai sekitar 3,9 triliun meter kubik per tahun. Namun distribusinya tidak merata.

Krisis muncul di wilayah yang justru menjadi pusat ekonomi.

Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Kementerian PPN/Bappenas, Dadang Jainal Mutaqin, menegaskan tekanan air paling berat terjadi di wilayah perkotaan dan kawasan industri di Pulau Jawa.

Baca juga: Air Dunia di Titik Kritis, Ketahanan Pangan dan Energi Terancam Jika Tata Kelola Tidak Berubah

“Kalau kita lihat per wilayah, yang banyak kekurangan air ini ada di Pulau Jawa. Stress-nya paling tinggi di Jakarta. Jawa Timur juga tinggi. Jawa Barat mulai meningkat,” ujar Dadang dalam diseminasi IEO 2026 yang diselenggarakan Yayasan KEHATI di Jakarta.

Tekanan air (water stress) terjadi ketika kebutuhan air melebihi kapasitas sumber air yang tersedia dan layak digunakan. Kondisi ini kini mulai menjadi realitas bagi sebagian wilayah Jawa.

Ketika Krisis Air Bertemu Pusat Ekonomi

Masalah ini menjadi lebih serius karena wilayah yang mengalami tekanan air tinggi justru merupakan motor ekonomi Indonesia.

Bappenas memproyeksikan sekitar 55% produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2045 akan dihasilkan dari wilayah-wilayah yang saat ini menghadapi tekanan air.

Artinya, persoalan air bukan lagi isu ekologis semata. Tapi, berubah menjadi risiko pembangunan. “Kalau tidak bisa menangani kondisi air ini, maka hampir 55 persen PDB kita bisa terganggu,” kata Dadang.

Baca juga: Tanpa Pangan, Air, dan Energi, Tak Ada Masa Depan untuk Indonesia

Krisis air memiliki efek domino yang luas. Air menjadi fondasi hampir seluruh sistem produksi nasional.

Sekitar 80% konsumsi air nasional digunakan untuk sektor pertanian, terutama irigasi. Pada saat yang sama, sekitar 7,5% produksi listrik Indonesia berasal dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Jika tekanan air meningkat, maka risiko akan menjalar ke sektor pangan, energi, hingga industri.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Permintaan Air akan Melonjak

Tantangan akan semakin berat dalam dua dekade ke depan.

Bappenas memproyeksikan kebutuhan air nasional dapat meningkat sekitar 31% pada 2045. Lonjakan terbesar diperkirakan datang dari sektor industri, yang permintaan airnya diprediksi naik hingga empat kali lipat.

Baca juga: 1 Triliun Ton Air Hilang, Alarm Bahaya untuk Masa Depan Planet

Pertumbuhan kota, industrialisasi, serta perubahan pola konsumsi akan mempercepat tekanan terhadap sumber daya air.

Masalahnya, kapasitas ekosistem untuk menjaga siklus air justru melemah.

Ketika Hutan Melemah, Air Menipis

IEO 2026 menyoroti keterkaitan kuat antara hutan, air, pangan, dan energi. Keempatnya berada dalam satu sistem yang saling mempengaruhi.

Deforestasi memperburuk kondisi hidrologi. Hilangnya tutupan hutan menurunkan kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air. Akibatnya, risiko kekeringan dan banjir meningkat sekaligus.

Laporan The State of Indonesia’s Forests 2024 mencatat luas kawasan hutan daratan Indonesia sekitar 118,19 juta hektare. Namun hampir 47% di antaranya merupakan hutan produksi, yang memiliki tekanan pemanfaatan lebih tinggi.

Selain itu terdapat sekitar 12,29 juta hektare lahan kritis di Indonesia. Sebanyak 7,09 juta hektare berada di dalam kawasan hutan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis air tidak berdiri sendiri. Ia terkait langsung dengan tata kelola lahan, perlindungan hutan, serta arah pembangunan ekonomi.

Baca juga: Jakarta dan Bayang-bayang Kebangkrutan Air Perkotaan

Di luar Jawa, persoalan air juga muncul di kota besar seperti Makassar dan Medan. Namun, karakter masalahnya berbeda. Jika di Jawa persoalan utama adalah kuantitas dan kualitas air sekaligus, di wilayah lain masalah utama lebih banyak terkait kualitas air.

Ke depan, tantangan pengelolaan air di Indonesia tidak hanya soal meningkatkan pasokan. Tantangan utamanya adalah memastikan tata kelola ekosistem tetap mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan daya dukung lingkungan.

Jika tidak, krisis air yang hari ini terlihat sebagai masalah lingkungan dapat berubah menjadi hambatan serius bagi pertumbuhan ekonomi nasional. ***

  • Foto: AI Generated / SustainReview Illustration – Permukaan waduk yang menyusut di Pulau Jawa memperlihatkan tekanan sumber daya air yang meningkat di wilayah dengan aktivitas ekonomi paling padat di Indonesia.
Bagikan