Klaim listrik hijau sedang memasuki fase yang lebih ketat. Selama bertahun-tahun, banyak perusahaan global mengandalkan pencocokan energi terbarukan secara tahunan. Perusahaan membeli listrik atau sertifikat energi hijau dalam jumlah yang setara dengan konsumsi listrik selama setahun.
Namun, pendekatan itu mulai dianggap belum cukup. Pertanyaannya kini lebih rinci. Apakah listrik bersih tersedia pada jam ketika perusahaan benar-benar memakai listrik? Apakah pasokannya berasal dari lokasi yang relevan dengan konsumsi? Dan apakah klaim rendah karbon bisa dibuktikan dengan data yang lebih presisi?
Isu ini menguat setelah Climate Group memperluas 24/7 Carbon-Free Coalition pada London Climate Action Week. Delapan perusahaan besar, yakni AirTrunk, AstraZeneca, Cathay Financial Holdings, Cathay Life, Google, Princeton Digital Group, Shree Cement, dan Unilever, bergabung untuk mengukur serta melaporkan penggunaan listrik bersih yang dicocokkan per jam di setidaknya satu pasar dalam dua tahun ke depan.
Klaim Hijau Naik Standar
Dalam model 24/7 carbon-free electricity, perusahaan tidak cukup hanya menunjukkan bahwa total listrik tahunannya telah “tertutup” oleh energi terbarukan.
Mereka perlu melihat kapan listrik digunakan, dari mana pasokan bersih tersedia, dan seberapa dekat konsumsi itu dengan pembangkit rendah karbon yang benar-benar beroperasi pada waktu tersebut.
Dalam keterangan resmi Climate Group, CEO Climate Group, Helen Clarkson, menyebut transisi energi sedang memasuki “fase baru”. Pesannya jelas. Perusahaan mulai bergerak melampaui pencocokan energi terbarukan tahunan menuju solusi listrik bebas karbon sepanjang waktu.
Baca juga: Listrik Rentan Padam, Grid Jadi Titik Lemah
Data baru dari Granular Energy yang dipublikasikan untuk London Climate Action Week memperlihatkan arah itu makin nyata. Lebih dari 1.500 perusahaan global kini mencatat listrik mereka dengan pendekatan pencocokan per jam. Jumlah itu naik tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Pasar penyedia listrik juga berubah. Jumlah pemasok energi yang menawarkan tarif berbasis hourly matching meningkat empat kali lipat dalam setahun terakhir. Inggris menjadi pasar dengan jumlah tarif pencocokan per jam terbanyak.
Relevansi untuk Indonesia
Bagi Indonesia, tren ini penting karena ekonomi digital, pusat data, manufaktur ekspor, dan kawasan industri hijau akan semakin bergantung pada kredibilitas listrik bersih.
Data center adalah contoh paling dekat. Infrastruktur ini bekerja 24 jam. Beban listriknya besar, stabil, dan terus meningkat seiring ekspansi cloud, kecerdasan buatan, layanan digital, dan penyimpanan data.

Dalam konteks seperti ini, sertifikat energi terbarukan berbasis volume tahunan bisa menjadi pintu masuk. Namun, standar baru global mulai bergerak lebih jauh. Perusahaan ingin tahu apakah listrik rendah karbon benar-benar tersedia saat beban digital berjalan.
Ini membuat diskusi energi bersih tidak lagi hanya bicara kapasitas pembangkit. Indonesia juga perlu bicara soal kualitas data, transparansi pelaporan, fleksibilitas jaringan, penyimpanan energi, dan produk listrik hijau yang lebih presisi.
Dari Sertifikat ke Bukti Waktu
Indonesia telah mengenal Renewable Energy Certificate atau REC sebagai instrumen klaim energi terbarukan. REC membantu perusahaan menunjukkan dukungan terhadap pasokan listrik hijau.
Namun, 24/7 carbon-free electricity membawa tuntutan berbeda. Instrumen hijau tidak hanya dinilai dari total megawatt-jam yang diklaim, tetapi juga dari kecocokan waktu dan lokasi antara konsumsi listrik dan pasokan rendah karbon.
Baca juga: Data Center Makin Haus Listrik, Emisi Big Tech Makin Hijau di Atas Kertas
Bagi perusahaan global yang beroperasi di banyak negara, ini menjadi bagian dari strategi pengadaan listrik. Rianne Buter, Global Head of Sustainability Unilever, menekankan pentingnya memahami kapan dan di mana listrik bebas karbon tersedia, lalu mencocokkannya dengan kebutuhan perusahaan di berbagai pasar.
Di sinilah tantangan dan peluang Indonesia bertemu.
Jika PLN, regulator, dan pengelola kawasan industri mampu menyediakan layanan listrik hijau yang lebih granular, Indonesia bisa menjadi lokasi yang lebih menarik bagi perusahaan yang mengejar target dekarbonisasi serius. Bukan hanya karena tersedia listrik, tetapi karena tersedia listrik bersih yang dapat dibuktikan.
Sinyal untuk Kebijakan Energi
Tren hourly matching memberi sinyal kuat bagi arah kebijakan.
Pertama, pasar listrik hijau perlu bergerak dari sekadar sertifikat menuju data yang lebih rinci. Kedua, investasi energi terbarukan perlu dibarengi penyimpanan energi dan teknologi fleksibilitas jaringan. Ketiga, kawasan industri dan data center perlu diberi akses pada produk listrik bersih yang kredibel, kompetitif, dan mudah diverifikasi.
Baca juga: Pasar Listrik di Era AI, Siapkah Indonesia?
Bagi dunia usaha, nilai pendekatan ini tidak berhenti pada emisi. Climate Group menilai pencocokan per jam juga dapat membantu perusahaan memahami pola konsumsi listrik, memperkuat ketahanan operasional, serta mengurangi paparan terhadap volatilitas harga energi fosil.
Chief Sustainability Officer Google, Kate Brandt, memberi penekanan lain, yakni kolaborasi. Menurutnya, perubahan iklim adalah tantangan bersama dan “semuanya soal kolaborasi”.
Bagi Indonesia, pesan itu relevan. Transisi energi tidak bisa hanya diserahkan kepada pembangkit, pembeli listrik, atau pemerintah secara terpisah. Standar baru klaim listrik bersih membutuhkan ekosistem. Data, regulasi, jaringan, teknologi, dan pasar yang saling tersambung.
Pada akhirnya, listrik hijau tidak lagi cukup disebut hijau karena dihitung setahun sekali. Dunia usaha mulai meminta bukti yang lebih dekat dengan kenyataan operasi.
Kapan listrik dipakai. Di mana listrik diproduksi. Dan seberapa bersih pasokannya pada jam itu. Di situlah masa depan klaim energi bersih mulai dibentuk. ***
- Foto: Shameer Vayalakkad Hydrose/ Pexels – Pencocokan listrik bersih per jam membutuhkan data konsumsi, pasokan, dan kesiapan jaringan yang lebih presisi.


