AI membuka peluang besar bagi produktivitas dan ekonomi digital. Namun, pertumbuhannya juga membawa pertanyaan baru. Siapa yang menyiapkan listrik, air, lahan, dan tata kelola lingkungannya?
KECERDASAN buatan sering terasa ringan. Pengguna hanya mengetik prompt, menunggu beberapa detik, lalu menerima teks, gambar, kode, atau video.
Namun, di balik respons yang muncul di layar, ada infrastruktur fisik yang bekerja tanpa henti. Ada server. Ada pendingin. Ada jaringan listrik. Ada konsumsi air. Ada chip, mineral kritis, lahan, emisi, dan pada akhirnya limbah elektronik.
Karena itu, AI tidak bisa lagi dibaca hanya sebagai isu teknologi. AI juga telah menjadi isu energi, air, tata ruang, dan kebijakan lingkungan.
Jejak yang Tidak Terlihat
Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dibahas dalam wawancara Live Science dengan Kaveh Madani, lead investigator laporan tersebut dan Direktur United Nations University Institute for Water, Environment and Health, menyoroti satu pesan penting. Sesuatu yang tampak digital tidak berarti bebas jejak fisik.
Baca juga: 40 Kota Tagih Tata Kelola Data Center
Madani mengingatkan, di balik setiap interaksi dengan AI terdapat rantai pasok yang panjang. Dampaknya tidak hanya muncul ketika data center beroperasi. Jejak itu sudah dimulai sejak ekstraksi mineral kritis, manufaktur perangkat keras, pembangunan data center, konsumsi energi dan air, hingga pengelolaan limbah elektronik.
Inilah titik pentingnya. AI tidak hidup di ruang hampa. AI hidup di atas infrastruktur yang membutuhkan sumber daya nyata.
Listrik Menjadi Faktor Kunci
Tekanan terbesar datang dari listrik. International Energy Agency memperkirakan konsumsi listrik data center global dapat meningkat lebih dari dua kali lipat dan mencapai sekitar 945 TWh pada 2030. Angka itu setara dengan hampir 3 persen konsumsi listrik global pada tahun yang sama.
Kenaikannya juga jauh lebih cepat daripada pertumbuhan konsumsi listrik sektor lain. Dalam proyeksi IEA, konsumsi listrik data center tumbuh sekitar 15 persen per tahun pada periode 2024–2030.
Baca juga: AI Merancang AI, Regulasi Harus Mengejar
Artinya, pertumbuhan AI bukan sekadar soal kemampuan komputasi. Ia juga menjadi pertanyaan tentang kesiapan sistem kelistrikan.
Jika listrik tambahan untuk data center masih bergantung pada energi fosil, manfaat digital AI dapat dibayangi emisi baru. Jika listrik bersih tersedia tetapi tidak cukup andal, data center akan mencari pasokan yang lebih pasti. Di sinilah perencanaan energi menjadi sangat menentukan.

Indonesia Perlu Membaca Lebih Awal
Bagi Indonesia, isu ini semakin dekat. Ekonomi digital tumbuh. Kebutuhan cloud, AI, dan layanan komputasi meningkat. Investasi data center terus bergerak masuk.
Tenggara Strategics mencatat proyeksi Bank Dunia bahwa kapasitas data center Indonesia dapat tumbuh 16,8 persen per tahun hingga 2029 dan mencapai 1,41 GW. Pertumbuhan ini dapat mempercepat transformasi digital, tetapi sekaligus menaikkan konsumsi listrik.
KPMG Indonesia juga menyoroti kapasitas data center yang siap mendukung AI. Pada awal 2024, kapasitas AI-ready Indonesia berada di kisaran 202 MW dan diproyeksikan meningkat sekitar 268 persen menjadi kurang lebih 743 MW.
Angka-angka ini menunjukkan, Indonesia tidak hanya sedang membangun infrastruktur digital. Indonesia juga sedang menambah jenis beban baru bagi sistem energi nasional.
Karena itu, pertanyaannya tidak cukup hanya berapa besar investasi data center yang masuk? Pertanyaan yang lebih penting adalah dari mana listriknya, seberapa bersih pasokannya, bagaimana efisiensi airnya, di mana lokasinya, dan siapa yang mengawasi jejak lingkungannya?
Air dan Lokasi
Selain listrik, air menjadi isu yang tidak bisa diabaikan. Banyak data center membutuhkan air untuk sistem pendinginan. Di wilayah yang sudah mengalami tekanan air, kebutuhan ini dapat menambah persaingan baru antara industri, rumah tangga, dan pertanian.
Madani bahkan menyebut pilihan yang keras. Di beberapa tempat, masyarakat bisa dihadapkan pada pertanyaan apakah air akan tetap dipakai untuk pertanian atau dialihkan untuk data center.
Baca juga:Â Data Center Makin Haus Listrik, Emisi Big Tech Makin Hijau di Atas Kertas
Bagi Indonesia, ini penting karena pembangunan data center tidak boleh hanya mengikuti kedekatan pasar, konektivitas, atau ketersediaan lahan. Lokasi harus dibaca bersama daya dukung air, kesiapan jaringan listrik, risiko banjir, suhu lokal, dan akses energi rendah karbon.
Data center yang salah tempat dapat berubah menjadi beban ekologis lokal.
Bukan Menolak AI
Masalahnya bukan AI harus dihentikan. AI dapat membantu riset, efisiensi industri, layanan publik, pendidikan, kesehatan, hingga pemodelan iklim.
Namun, manfaat itu tidak boleh membuat jejak fisiknya hilang dari percakapan. Semakin besar skala AI, semakin penting pula transparansi energi, air, emisi, dan rantai pasoknya.
Indonesia membutuhkan standar data center hijau yang lebih tegas. Bukan hanya sertifikat bangunan atau klaim efisiensi. Tetapi juga pelaporan konsumsi listrik, sumber energi, intensitas karbon, konsumsi air, pengelolaan e-waste, dan kontribusi terhadap sistem energi bersih.
Baca juga:Â Ekonomi AI Menguat, Arsitektur SDM Nasional Dipertaruhkan
AI adalah masa depan digital. Tetapi masa depan itu tetap berdiri di atas bumi yang sama, dengan listrik yang harus diproduksi, air yang harus dijaga, dan ruang hidup yang harus diatur.
Jika Indonesia ingin menjadi rumah bagi ekonomi AI, maka fondasinya tidak cukup cepat dan besar. Fondasinya harus bersih, efisien, transparan, dan adil. ***
- Foto: Â Brett Sayles/ Pexels – Rak server di data center menjadi tulang punggung layanan AI, sekaligus menambah kebutuhan listrik, pendingin, dan tata kelola lingkungan.


