Embun Upas Datang, Petani Dieng Belum Terlindungi

KRISTAL es tipis yang menutupi rerumputan dan kompleks percandian di Dataran Tinggi Dieng kerap menjadi magnet wisata.

Foto-fotonya menyebar di media sosial. Wisatawan datang untuk menyaksikan lanskap tropis yang tampak seperti sedang bersalju.

Namun, pemandangan yang indah bagi wisatawan dapat berarti kerugian besar bagi petani.

Embun upas atau frost yang melanda Dieng pada 9–10 Juli 2026 diperkirakan merusak sekitar 25–30 hektare tanaman kentang. Kerusakan terjadi di sejumlah lokasi, termasuk Dieng Kulon, kawasan Candi Arjuna, Kalibana, dan Kompleks Setyaki.

Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara memperkirakan kerugian rata-rata mencapai Rp70 juta per hektare. Bila seluruh lahan terdampak mengalami tingkat kerusakan serupa, nilai kerugiannya berpotensi mendekati Rp2,1 miliar.

Tanaman kentang yang masih berumur sekitar 40 hari atau lebih muda menjadi kelompok paling rentan. Sebagian tanaman tidak lagi dapat diselamatkan setelah daun dan jaringan tanamannya membeku.

Petani yang gagal panen juga diperkirakan baru dapat kembali menanam sekitar September, ketika kondisi cuaca lebih mendukung.

Fenomena Lama, Kerugian Berulang

Embun upas bukan kejadian baru atau sepenuhnya tidak terduga.

Fenomena tersebut lazim muncul pada musim kemarau, terutama antara Juni hingga September. Udara kering yang dibawa angin monsun Australia mengurangi tutupan awan. Pada malam hari, panas dari permukaan bumi lebih cepat dilepaskan sehingga suhu turun tajam.

Di wilayah dataran tinggi seperti Dieng, uap air yang mengembun di permukaan tanaman kemudian membeku menjadi lapisan kristal es.

Kondisi topografi Dieng ikut memperkuat proses itu. Wilayah yang berbentuk cekungan membuat udara dingin mengendap dan terperangkap di bagian rendah. Langit cerah serta angin yang tenang pada dini hari semakin meningkatkan kemungkinan terjadinya frost.

Baca juga: Dieng: Di Balik Lanskap Indah, Ada Jejak Paparan Geogenik

Dalam publikasi resminya, Badan Riset dan Inovasi Nasional menjelaskan bahwa penurunan suhu hingga titik beku dapat merusak tanaman hortikultura, terutama kentang dan sayuran dataran tinggi.

Masalahnya, fenomena yang berulang hampir setiap tahun masih lebih sering dihadapi sebagai keadaan darurat di tingkat lahan.

Petani berusaha menyiram tanaman pada siang atau sore hari untuk mempertahankan kelembapan. Sebagian menggunakan paranet dan daun bambu sebagai pelindung. Namun, langkah tersebut belum selalu cukup ketika suhu turun sangat rendah.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Adaptasi Tidak Bisa Dibebankan kepada Petani

BRIN menawarkan sejumlah pilihan mitigasi, mulai dari penyemprotan air, pemberian mulsa, pemasangan naungan, pemanasan langsung, hingga penggunaan angin buatan untuk memperbaiki sirkulasi udara.

Secara teknis, pilihan itu tersedia. Namun, penerapannya membutuhkan biaya, peralatan, informasi cuaca yang cepat, dan koordinasi.

Tidak semua petani memiliki kemampuan membeli sprinkler, memasang pelindung tanaman dalam skala luas, atau menanggung biaya energi untuk menggerakkan alat pengaduk udara.

Karena itu, adaptasi terhadap frost tidak seharusnya semata-mata menjadi tanggung jawab individual petani.

Baca juga: Dieng, Keajaiban di Atas Awan yang Kini Jadi Geopark Nasional

Pemerintah daerah perlu membangun sistem peringatan dini yang lebih operasional hingga tingkat desa. Informasi mengenai kemungkinan frost harus diterjemahkan menjadi waktu penyiraman, wilayah paling berisiko, jenis tanaman rentan, dan langkah perlindungan yang harus segera dilakukan.

Peta kerentanan juga diperlukan untuk menentukan lokasi tanam yang relatif aman. Bantuan alat dapat diarahkan kepada kelompok tani sehingga teknologi perlindungan tidak harus dimiliki sendiri-sendiri.

Skema asuransi atau perlindungan pembiayaan pertanian juga layak dipertimbangkan. Risiko cuaca yang berulang dapat menggerus modal petani bahkan sebelum tanaman menghasilkan pendapatan.

Pariwisata dan Pertanian Harus Berbagi Manfaat

Embun upas menghadirkan paradoks bagi Dieng.

Sektor pariwisata memperoleh daya tarik tambahan. Hotel, transportasi, kuliner, dan pengelola destinasi berpeluang menerima peningkatan kunjungan.

Pada saat yang sama, petani menanggung risiko kerusakan tanaman.

Perbedaan kepentingan ini tidak harus berakhir sebagai konflik. Justru terdapat ruang untuk membangun mekanisme pembagian manfaat.

Baca juga: Nepal Van Java, Desa Lereng yang Tiba-tiba Jadi Panggung Ekonomi Visual

Sebagian penerimaan pariwisata selama musim embun upas, misalnya, dapat diarahkan untuk memperkuat sistem peringatan dini, mendukung pengadaan alat perlindungan bersama, atau membantu pemulihan petani terdampak.

Dieng memiliki curah hujan tinggi dan kondisi agroklimat yang memungkinkan budidaya sayuran dataran tinggi secara produktif. Namun, produktivitas itu tetap harus disesuaikan dengan kemiringan lahan, jenis tanah, serta kemampuan ekologis kawasan.

Lahan yang terlalu terjal semestinya dipertahankan sebagai kawasan bervegetasi, bukan terus didorong menjadi lahan pertanian intensif. Perlindungan terhadap petani dengan demikian tidak hanya menyangkut frost, tetapi juga konservasi tanah dan pengelolaan bentang alam.

Embun upas boleh tetap menjadi pesona Dieng.

Namun, ketika fenomena yang sama terus merusak tanaman dan menghilangkan pendapatan, keindahan itu tidak boleh dibayar sendirian oleh petani. ***

  • Foto: UPTD Wisata Dieng – Embun upas menyelimuti lahan di Dataran Tinggi Dieng pada pagi hari. Fenomena yang menarik perhatian wisatawan ini juga dapat merusak tanaman hortikultura dan menambah risiko kerugian bagi petani. Foto: UPTD Wisata Dieng
Bagikan