Air dari hujan dan sungai tidak berhenti ketika mencapai laut. Riset menunjukkan Laut Jawa menjadi pemasok utama air tawar bagi perairan selatan Indonesia, sementara arus membawanya hingga Laut Banda dan menghubungkannya dengan dinamika ENSO serta IOD.
AIR tawar ternyata punya perjalanan panjang setelah meninggalkan daratan.
Hujan yang jatuh di kepulauan Indonesia, air yang mengalir melalui sungai, hingga massa air bersalinitas rendah yang masuk dari laut lain tidak sekadar bercampur di wilayah pesisir. Air itu dapat diangkut arus dari satu laut ke laut lainnya.
Di Indonesia, salah satu perjalanan penting itu bermula dari Laut Jawa.
Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Geophysical Research: Oceans menunjukkan Laut Jawa merupakan kontributor utama air tawar bagi bagian selatan Benua Maritim Indonesia. Sementara jauh di sebelah timurnya, Laut Banda menjadi salah satu kawasan penting tempat massa air tersebut berkumpul dan mengalami perubahan salinitas.
Hubungan keduanya memperlihatkan sesuatu yang lebih besar. Dinamika laut Indonesia tidak hanya ditentukan oleh hujan yang jatuh tepat di atas laut.
Sungai, monsun, arus antarlaut, El Niño-Southern Oscillation atau ENSO, hingga Indian Ocean Dipole atau IOD ikut mengubah bagaimana air tawar tersebar di antara perairan Indonesia.
Laut Jawa Menjadi Sumber
Tim peneliti yang dipimpin Amirotul Bahiyah menganalisis neraca air tawar menggunakan model sirkulasi laut beresolusi tinggi.
Kajian difokuskan pada perairan selatan Benua Maritim Indonesia, terutama Laut Jawa, selatan Selat Makassar, Laut Flores, dan Laut Banda.
Hasilnya memperlihatkan pola musiman yang cukup jelas.
Pada November hingga Desember, Laut Jawa mengalami penurunan salinitas atau freshening. Pada periode awal monsun barat laut itu, penyebab utamanya adalah masuknya air tawar melalui proses di permukaan laut, terutama curah hujan. Aliran dari Laut Cina Selatan juga berkontribusi, tetapi lebih kecil.
Cerita berubah memasuki awal tahun.
Dari Januari hingga Mei, salinitas Laut Jawa kembali menurun. Namun kali ini penyebab utamanya bukan lagi hujan yang langsung jatuh ke permukaan laut.
Limpasan sungai menjadi faktor dominan.
Baca juga: Krisis Iklim Global Menekan Arus Laut Selatan Jawa
Di sinilah hubungan darat dan laut menjadi penting.
Air yang mengalir dari daerah tangkapan hujan menuju sungai pada akhirnya tidak berhenti di muara. Setelah memasuki laut, massa air dengan salinitas lebih rendah dapat menjadi bagian dari sirkulasi yang jauh lebih besar.
Laut Jawa dengan demikian bukan hanya penerima air tawar.
Ia juga menjadi sumber yang memasoknya ke wilayah lain.
Maret, Air Tawar Tiba di Banda
Jejak perjalanan itu terlihat jelas di Laut Banda.
Penelitian menemukan dua periode freshening yang berbeda di kawasan tersebut.
Yang pertama terjadi sekitar Desember. Penurunan salinitas ketika itu terutama disebabkan oleh curah hujan lokal yang menambah pasokan air tawar melalui permukaan laut.
Tetapi periode kedua jauh lebih menarik.
Sekitar Maret, Laut Banda mengalami freshening yang lebih besar. Penyebab dominannya bukan hujan lokal, melainkan adveksi zonal dari Laut Jawa. Pergerakan horizontal massa air yang membawa air bersalinitas lebih rendah ke arah timur.

Secara sederhana, ada sebuah rantai yang terbentuk.
hujan dan sungai → Laut Jawa → arus laut → Laut Banda.
Air tawar yang awalnya masuk ke sistem laut di wilayah barat dapat memengaruhi kondisi perairan yang letaknya jauh di timur.
Temuan tersebut sekaligus menunjukkan mengapa membaca kondisi laut hanya dari curah hujan lokal bisa menyesatkan.
Laut Banda dapat menjadi lebih tawar bukan karena hujan di atas Banda sedang meningkat, tetapi karena arus membawa karakter massa air dari tempat lain.
ENSO dan IOD Tidak Bekerja Sama
Perjalanan air tawar itu juga berubah ketika sistem iklim Indo-Pasifik berubah.
Namun hubungannya tidak sesederhana mengatakan El Niño membuat laut lebih asin atau La Niña membuatnya lebih tawar.
Analisis antar-tahun dalam penelitian tersebut menunjukkan salinitas bagian selatan Benua Maritim Indonesia secara keseluruhan lebih dekat hubungannya dengan IOD, sementara komponen arusnya memiliki hubungan lebih kuat dengan ENSO.
Baca juga: Menitipkan Karbon 2.600 Meter di Bawah Dasar Laut
Dampaknya pun berbeda menurut wilayah.
Perubahan freshening di Laut Banda berkorelasi kuat dengan ENSO, sedangkan perubahan di Laut Jawa memiliki korelasi kuat dengan IOD.
Artinya, satu fenomena iklim tidak menghasilkan respons yang sama di seluruh perairan Indonesia.
Yang berubah bukan hanya berapa banyak hujan turun.
Jalur yang mengangkut air juga berubah.
Dan bagi negara kepulauan yang terletak di persimpangan Samudra Pasifik dan Hindia, perubahan jalur itu penting.
Mengapa Salinitas Penting?
Temperatur permukaan laut selama ini lebih mudah menjadi perhatian ketika membicarakan perubahan iklim.
Padahal salinitas merupakan bagian penting dari identitas sebuah massa air.
Perubahan kadar garam membantu ilmuwan membaca dari mana massa air berasal, bagaimana ia bergerak, serta bagaimana air dari permukaan, sungai, dan laut lain bercampur dalam sistem sirkulasi.
Dalam penelitian Bahiyah dan tim, neraca tersebut dibedah melalui tiga penggerak utama, yakni proses air tawar di permukaan, limpasan sungai, dan adveksi atau transport oleh arus.
Ketiganya tidak selalu bekerja dengan kekuatan yang sama.
Di satu musim, hujan bisa menjadi pengendali utama. Beberapa bulan kemudian, limpasan sungai mengambil peran. Di tempat lain, arus justru membawa dampak yang berasal dari ratusan kilometer jauhnya.
Itulah yang membuat laut Indonesia penting dalam memahami sistem iklim regional.
Benua Maritim Indonesia bukan kumpulan cekungan laut yang berdiri sendiri. Laut Jawa, Flores, Banda, Selat Makassar, serta laut-laut lain terhubung oleh sirkulasi yang terus memindahkan panas, garam, dan air dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Baca juga: Indonesia Punya Laut Luas, Mengapa Tata Kelolanya Masih Terpecah?
Riset yang diterbitkan pada Mei 2025 itu memberi satu tambahan penting dalam memahami jaringan tersebut. Air tawar juga memiliki jalurnya sendiri.
Dan Laut Jawa ternyata memegang peran jauh lebih besar daripada yang terlihat di permukaan.
Air dari hujan dan sungai dapat memasuki laut, bergerak bersama arus, lalu muncul sebagai perubahan salinitas di tempat yang jauh.
Dari Laut Jawa hingga Banda, perjalanan itu memperlihatkan bahwa batas antara darat, laut, cuaca, dan iklim sesungguhnya tidak pernah benar-benar terpisah.
Semuanya terhubung oleh air yang terus bergerak. ***
- Foto: Kopi Hitam Mantap/ Pexels – Foto udara kawasan muara sungai di Kalimantan memperlihatkan aliran air tawar dari daratan menuju perairan pesisir. Limpasan sungai seperti ini menjadi salah satu sumber penting yang memengaruhi distribusi air tawar dan perubahan salinitas di laut Indonesia.


