Dari Peringatan Kemarau ke Krisis Pangan Nduga Papua

BMKG telah memperingatkan kemarau dan curah hujan rendah. Namun, 2.325 hektare lahan pertanian di Nduga akhirnya gagal panen, 1.156 keluarga terancam rawan pangan, dan sebagian warga mengungsi.

KEKERINGAN di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, telah melewati batas persoalan cuaca. Air berkurang, kebun gagal menghasilkan makanan, dan sebagian warga bergerak meninggalkan kampung untuk mencari kebutuhan dasar.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat sekitar 1.156 kepala keluarga terancam mengalami kerawanan pangan. Sekitar 2.325 hektare lahan pertanian dilaporkan gagal panen.

Wilayah yang teridentifikasi terdampak berada di Kampung Bowisa, Distrik Mugi, dan Kampung Mbuwa, Distrik Mbuwa. Sebagian warga telah mengungsi ke Distrik Walaik.

Data itu menunjukkan satu rantai dampak yang jelas. Curah hujan berkurang, sumber air menyusut, tanaman rusak, pangan menipis, lalu perpindahan warga terjadi.

Namun, ada pertanyaan kebijakan yang lebih penting. Informasi mengenai datangnya kemarau sudah tersedia sebelum kebun gagal panen. Mengapa peringatan iklim belum cukup untuk mencegah krisis pangan?

Peringatan Sudah Tersedia

BMKG telah memperkirakan puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli hingga September.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, dalam keterangan resmi pada 10 Juni 2026, menyebut puncak kemarau terjadi di 369 zona musim pada Agustus dan 169 zona musim pada September. Ia mengingatkan kesiapan menghadapi gangguan ketersediaan air, kesehatan, pertanian, dan sektor lain yang terdampak.

Prediksi curah hujan bulanan BMKG juga menempatkan Nduga bersama Lanny Jaya, Jayawijaya, Yahukimo, dan Pegunungan Bintang sebagai wilayah yang pada Agustus berpeluang didominasi curah hujan rendah, yakni 0–100 milimeter per bulan.

Baca juga: El Niño Membuat Air, Pangan, dan Listrik Berebut Waduk

Peringatan yang lebih lokal datang dari Stasiun Meteorologi Kelas III Wamena.

Prakirawan BMKG Wamena Ahmad Armada pada 3 Agustus mengatakan musim kemarau di Papua Pegunungan telah berlangsung sejak akhir April. Sumur warga di Jayawijaya mulai mengering, sementara sedikitnya tutupan awan membuat sinar matahari langsung mencapai permukaan dan mempercepat hilangnya air tanah.

Artinya, bahaya meteorologis telah terbaca. Tetapi membaca bahaya belum sama dengan mengurangi dampaknya.

Kebun Bukan Sekadar Lahan

Di Nduga, kerusakan lahan pertanian tidak dapat dibaca hanya sebagai berkurangnya produksi komoditas.

Bagi keluarga yang bergantung pada pertanian untuk memenuhi kebutuhan sendiri, kebun berfungsi sebagai dapur sekaligus gudang pangan. Ketika tanaman gagal, keluarga tidak hanya kehilangan pendapatan. Mereka kehilangan makanan yang semestinya dipanen dan dikonsumsi selama beberapa bulan berikutnya.

Kondisi geografis kemudian memperbesar risiko.

Bupati Nduga Yoas Beon mengatakan berkurangnya debit sungai telah mengganggu jalur distribusi menuju Mumugu. Harga bahan pokok dan material meningkat karena sungai yang selama ini menjadi urat nadi transportasi tidak lagi dapat digunakan secara normal.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Dengan demikian, kekeringan menyerang pangan dari dua arah. Produksi lokal turun karena kebun rusak, sedangkan makanan dari luar menjadi lebih mahal dan sulit diangkut.

Pemerintah Kabupaten Nduga menetapkan status tanggap darurat pada 26 Agustus. Posko induk dibuka di Kenyam dan tim dibagi untuk menangani pangan, air bersih, kesehatan, serta akses transportasi.

Sebanyak 50 ton beras disiapkan untuk masyarakat yang tersebar di 32 distrik. Bantuan itu penting untuk menutup kebutuhan mendesak. Namun, beras darurat tidak dapat langsung memulihkan kebun, mengganti seluruh cadangan pangan yang hilang, atau menjamin distribusi ke kampung yang sulit dijangkau.

Hilangnya Mata Rantai

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan gagal panen dan pengungsian di Nduga merupakan dampak berkurangnya curah hujan dalam waktu lama.

BNPB meminta pemerintah daerah mempercepat kaji cepat serta memantau persediaan pangan, air bersih, dan kebutuhan dasar warga. Data tersebut diperlukan agar intervensi bantuan sesuai dengan keadaan di lapangan.

Langkah itu diperlukan. Namun, krisis Nduga juga memperlihatkan pentingnya menghubungkan dua sistem yang sering berjalan sendiri-sendiri: sistem peringatan iklim dan sistem perlindungan pangan.

Prakiraan BMKG semestinya tidak berhenti sebagai peta berwarna atau keterangan tentang rendahnya curah hujan. Informasi tersebut perlu diterjemahkan menjadi ambang tindakan yang jelas.

Baca juga: El Niño Mengeringkan Kebun Pangan Pasifik

Ketika curah hujan diperkirakan turun di bawah batas tertentu, pemerintah daerah dapat mulai memeriksa kondisi kebun dan sumber air. Cadangan pangan dapat ditempatkan lebih dekat ke wilayah rawan. Benih untuk pemulihan disiapkan. Penampungan air diperkuat. Jalur distribusi alternatif dipetakan sebelum sungai mengering.

Belum tersedia informasi publik yang cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh langkah tersebut tidak dilakukan di Nduga. Yang terlihat dari data saat ini adalah respons darurat membesar setelah gagal panen terjadi dan warga mulai mengungsi.

Celah informasi itu sendiri penting. Kapan peringatan BMKG diterima pemerintah daerah, siapa yang menerjemahkannya menjadi keputusan, dan tindakan apa yang dijalankan sebelum 2.325 hektare lahan rusak?

Mengubah Ramalan Menjadi Tindakan

Krisis pangan tidak selalu dimulai dari kekurangan beras di gudang. Di daerah yang menggantungkan hidup pada kebun, krisis dimulai ketika tanah tidak lagi menghasilkan makanan.

Karena itu, keberhasilan penanganan kekeringan tidak cukup diukur dari jumlah bantuan yang dikirim setelah keadaan memburuk. Ukurannya juga harus mencakup berapa banyak kebun yang dapat diselamatkan, berapa sumber air yang tetap berfungsi, dan berapa keluarga yang tidak perlu mengungsi.

Baca jugfa: Satelit Bisa Melihat Api, Mengapa Karhutla Tetap Meluas?

BMKG telah menunjukkan bahwa kemarau dapat diperkirakan. BNPB telah menunjukkan luas kerusakan dan jumlah keluarga yang terancam. Pemkab Nduga telah mengirim bantuan serta membuka posko.

Tugas berikutnya adalah menyambungkan ketiganya.

Jika peringatan iklim baru memperoleh arti setelah tanaman gagal dan pangan habis, Indonesia masih memiliki prakiraan cuaca, tetapi belum sepenuhnya memiliki sistem aksi dini. ***

  • Visual: SustainReview.ID | Data: BNPBPeta lokasi kekeringan di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan. BNPB mencatat Kampung Bowisa di Distrik Mugi dan Kampung Mbuwa di Distrik Mbuwa sebagai wilayah terdampak. Sebagian warga mengungsi ke Distrik Walaik.
Bagikan