Dua puluh alat pemantau muka laut belum mendeteksi tsunami di sekitar Selat Sunda. Namun, BRIN mengingatkan, hasil pengamatan itu tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan potensi vulkanotsunami Anak Krakatau rendah.
DI SEKITAR Gunung Anak Krakatau, laut belum menunjukkan tanda tsunami dalam hasil pemantauan yang dirujuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pada 7 September 2026, sebanyak 20 tsunami gauge di sekitar Selat Sunda tidak mencatat anomali muka laut yang mengindikasikan tsunami. HF Radar Carita–Tanjung Lesung juga belum menunjukkan indikasi yang signifikan.
Angka itu membawa kabar tentang apa yang teramati pada tanggal tersebut. Angka yang sama tidak menjawab apakah tsunami dapat terjadi kemudian, ketika aktivitas gunung berubah.
Periset Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN, Widjo Kongko, meminta kedua hal itu dibedakan. Menurutnya, rumusan yang tepat ialah belum terdapat indikasi tsunami berdasarkan pemantauan berbagai sensor, bukan menyatakan potensi tsunami Anak Krakatau kecil. Penilaian risiko perlu terus diperbarui mengikuti aktivitas gunung dan kondisi laut.
Perbedaan kalimat itu menentukan cara publik memahami keadaan. “Belum terdeteksi” menjelaskan hasil pengukuran. “Berisiko rendah” merupakan penilaian tentang kemungkinan kejadian berikutnya. Keduanya membutuhkan dasar yang berbeda.
Gunung dan Laut Memberi Informasi Berbeda
Menurut Widjo, vulkanotsunami dapat muncul melalui beberapa mekanisme runtuhnya bagian tubuh gunung, erupsi eksplosif, aliran material panas yang masuk ke laut, proses bawah laut, atau gabungan dari peristiwa tersebut. Karena itu, aktivitas gempa dan tremor gunung tidak dengan sendirinya menentukan apakah tsunami akan terjadi ataupun seberapa tinggi gelombangnya.
Baca juga: 127 Gunung Api, Mengapa Merapi Paling Siap?
Sensor gunung membantu membaca proses vulkanik. Sensor laut membantu memastikan apakah muka air telah berubah. Keduanya harus dibaca bersama. BRIN juga mengingatkan bahwa tide gauge berada di pantai; untuk sumber tsunami yang dekat seperti Anak Krakatau, waktu antara deteksi dan kebutuhan untuk merespons dapat singkat.

Pelajaran itu memiliki riwayat nyata di Selat Sunda. Tsunami 22 Desember 2018 dipicu longsoran Gunung Anak Krakatau. Peristiwa tersebut menunjukkan mengapa kesiapsiagaan pesisir tidak bisa hanya bertumpu pada tanda gempa tektonik besar.
Letusan Mereda, Pemantauan Berlanjut
Dari sisi gunung api, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati, menyatakan episode erupsi menerus sekitar 25 jam telah berakhir pada 6 September. Tetapi, berakhirnya episode itu tidak berarti aktivitas vulkanik Anak Krakatau selesai. PVMBG mempertahankan Level III atau Siaga dan meminta masyarakat serta wisatawan tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung.
“Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau akan terus kami evaluasi secara berkala,” kata Siti dalam siaran pers 6 September lalu.
Baca juga: Satu Erupsi, Enam Bandara: Transportasi Kita Serapuh Apa?
Pemantauan darat terbaru yang dilaporkan pada Rabu, 16 September, masih mencatat kegempaan meski belum ada erupsi baru sejak 10 September. Kepala Pos Pemantauan Anak Krakatau, Suwarno, mengatakan petugas masih merekam gempa embusan dan gempa berfrekuensi rendah. Ia kembali menegaskan batas aktivitas tiga kilometer yang berlaku. Data kegempaan itu menunjukkan pemantauan gunung berlanjut; data tersebut bukan tanda bahwa tsunami sedang terbentuk.
Peringatan Harus Sampai Sebelum Waktu Habis
Mantan Kepala BMKG saat menjelaskan pelajaran tsunami nontektonik pada 2023, Dwikorita Karnawati, menekankan bahwa kemajuan sensor perlu disertai kesiapsiagaan warga pesisir. Informasi harus mudah dipahami, sementara masyarakat perlu mengetahui cara meresponsnya.
Di situlah pekerjaan setelah pemasangan alat dimulai. Menyambungkan hasil pemantauan gunung dan laut, menyampaikan perubahan kondisi dengan cepat, serta memastikan warga tahu informasi resmi dan jalur evakuasi di wilayahnya. BRIN menyebut penggabungan berbagai sensor sebagai bagian dari pengembangan sistem pemantauan tsunami nontektonik, dengan Selat Sunda sebagai salah satu kawasan percontohan.
Bagi warga pesisir Banten dan Lampung, pesan saat ini perlu tetap tenang dan mengikuti informasi resmi BMKG, PVMBG, serta BPBD setempat. Hasil 20 tsunami gauge pada 7 September tidak boleh dibaca sebagai laporan kondisi laut pada 17 September. Hingga ada pembaruan pemantauan, kesimpulan yang dapat dipegang tetap terbatas: tsunami tidak terdeteksi dalam pengamatan yang dilaporkan BRIN, sementara aktivitas Anak Krakatau masih harus dipantau. ***
- Foto: Kementerian ESDM – Gunung Anak Krakatau terlihat mengeluarkan asap dalam foto yang menyertai rilis Kementerian ESDM pada 6 September 2026. PVMBG menyatakan episode erupsi menerus telah berakhir, tetapi aktivitas gunung tetap dipantau.


