COP17 Bahas Pembagian Manfaat dari Data Genetik Alam

Pemanfaatan data genetik membuka peluang inovasi. Melalui Cali Fund, COP17 membahas bagaimana manfaatnya kembali kepada negara dan masyarakat penjaga biodiversitas.

INFORMASI genetik tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme dapat beredar melintasi negara melalui basis data digital. Perusahaan dapat memanfaatkannya untuk riset dan pengembangan produk. Namun, bagaimana manfaat ekonomi itu kembali kepada pihak yang menjaga sumber kekayaan hayatinya?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu agenda COP17 Konvensi Keanekaragaman Hayati atau CBD di Yerevan, Armenia, pada 19-30 Oktober 2026. Melalui Cali Fund, negara-negara membahas pelaksanaan pembagian manfaat dari penggunaan informasi sekuens digital sumber daya genetik, dikenal sebagai digital sequence information atau DSI.

Secara sederhana, DSI dapat dipahami sebagai representasi digital informasi genetik makhluk hidup. Data tersebut memungkinkan peneliti mempelajari karakter biologis tanpa selalu menangani spesimen asalnya.

Cali Fund diluncurkan pada Februari 2025 untuk menyalurkan sebagian manfaat penggunaan data tersebut kepada konservasi serta masyarakat penjaga alam. Menjelang COP17, perhatian bergeser pada pelaksanaannya. Siapa berkontribusi, bagaimana dana dibagi, dan bagaimana penerima memperoleh akses.

Kontribusi Perusahaan Masih Perlu Diperjelas

Keputusan COP16 memberikan acuan kontribusi sebesar 1 persen laba atau 0,1 persen pendapatan bagi perusahaan pengguna DSI yang memenuhi kriteria ukuran tertentu.

Angka itu merupakan tarif indikatif. Keputusan yang sama menugaskan COP17 menetapkan ambang ukuran perusahaan dan tarif kontribusi berdasarkan kajian lebih lanjut. Karena itu, acuan tersebut belum tepat disebut sebagai pungutan global yang otomatis berlaku terhadap seluruh perusahaan.

Keterlibatan industri sudah mulai terlihat. Pada 31 Juli 2026, pengelola Cali Fund mengumumkan kontribusi Prozomix, perusahaan bioteknologi asal Inggris.

Baca juga: COP17 Menagih Bukti Perlindungan Alam

Dalam pengumuman tersebut, CEO Prozomix Simon Charnock menilai perusahaan bioteknologi yang memanfaatkan DSI akan memperoleh manfaat dengan menyumbangkan bagian yang adil dari pendapatannya, baik dari penjualan produk maupun jasa.

Pengelola menyebut proses kontribusi Prozomix berjalan dalam hitungan minggu. Pengalaman itu memperlihatkan bahwa saluran penerimaan dana sudah dapat digunakan. Tantangan berikutnya adalah memperluas partisipasi perusahaan.

Sekretaris Eksekutif CBD Astrid Schomaker, dalam buletin Cali Fund tertanggal 15 Oktober, menekankan bahwa keberhasilan mekanisme tersebut memerlukan kolaborasi berkelanjutan, kepercayaan, dan tanggung jawab bersama. Keterlibatan pemerintah, industri, akademisi, serta masyarakat adat dan komunitas lokal menjadi bagian pentingnya.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Separuh Dana, Bagaimana Aksesnya?

Keputusan COP16 mengatur bahwa, sesuai keadaan dan peraturan nasional, sedikitnya separuh pendanaan seharusnya mendukung kebutuhan yang ditentukan sendiri oleh masyarakat adat dan komunitas lokal.

Penyalurannya dapat melalui otoritas pemerintah atau pembayaran langsung melalui lembaga yang diidentifikasi masyarakat bersangkutan. Rumusan ini membuat tata kelola penyaluran sama pentingnya dengan penghimpunan uang.

Peneliti dan Anggota Komite Pengarah Cali Fund yang mewakili masyarakat adat serta komunitas lokal kawasan Asia, June Rubis, menyoroti kebutuhan akses langsung.

Baca juga: Pembiayaan Bank ke Sektor Berisiko Hutan Disorot

Dalam wawancara yang diterbitkan Dialogue Earth pada Oktober, Rubis mengingatkan agar penerima tidak menghadapi hambatan administratif tambahan atau bergantung pada perantara. Ia juga menekankan pentingnya masyarakat menentukan penggunaan dana sesuai kebutuhan mereka.

Dalam tulisan bersama Anisha Buda di ICCA Consortium, Rubis turut mengangkat persoalan yang melampaui pembayaran. Informasi mengenai asal sumber daya, pengetahuan tradisional, dan kewenangan masyarakat perlu tetap diperhatikan ketika data genetik berpindah serta digunakan kembali.

Pembagian uang dengan demikian perlu berjalan bersama penghormatan terhadap hak dan hubungan masyarakat dengan sumber daya hayatinya.

Kepentingan Indonesia Menjangkau Kapasitas Riset

Indonesia memiliki keterlibatan konkret dalam pembahasan menjelang pertemuan Yerevan. BRIN bersama National Institute of Genetics Jepang menjadi tuan rumah bersama webinar Asia-Pasifik mengenai DSI dan Cali Fund pada 8 Oktober.

Menurut ringkasan yang tersedia melalui platform CBD, sekitar 100 peserta bertukar pandangan tentang pelaksanaan mekanisme tersebut. Forum itu merupakan diskusi informal, sehingga tidak dapat dianggap sebagai posisi bersama kawasan ataupun pernyataan resmi posisi Indonesia.

Bagi Indonesia, kepentingannya dapat dibaca dalam dua arah. Pembagian manfaat yang adil dan penguatan kemampuan menghasilkan serta memanfaatkan data genetik.

Baca juga: Jelang COP17, Apa yang Dipertaruhkan bagi Indonesia?

Manfaat nonmoneter juga tercakup dalam mekanisme, termasuk pengembangan kapasitas dan transfer teknologi. Dukungan semacam ini relevan agar negara berkembang dapat memperkuat kemampuan risetnya.

Ukuran keberhasilan Cali Fund akhirnya akan terlihat pada pelaksanaan. Apakah perusahaan ikut berkontribusi. Apakah penyaluran dapat diperiksa. Apakah masyarakat memiliki kewenangan menentukan kebutuhan mereka?

Ketika informasi genetik menghasilkan nilai ekonomi, hubungan dengan alam dan masyarakat di belakangnya perlu tetap terlihat. Itulah pekerjaan konkret yang dibawa Cali Fund ke meja COP17. ***

  • Foto: Yaroslav Shuraev/ Pexels – Ilustrasi penelitian tumbuhan. COP17 membahas pembagian manfaat pemanfaatan data genetik melalui Cali Fund bagi konservasi serta masyarakat penjaga biodiversitas.
Bagikan