Riset Baru Melacak Jejak Sianida dari Kebakaran Gambut

Penelitian terbit September 2026 memperjelas hubungan air gambut dengan emisi kebakaran. Di tengah karhutla, temuan ini memberi alasan kuat untuk memperbaiki pemantauan dan pencegahan.

ASAP yang menyelimuti permukiman membawa pertanyaan, apa yang sebenarnya sedang terbakar, dan bagaimana menghentikannya? Bagi Indonesia yang kembali menghadapi karhutla besar, jawabannya juga harus dicari di bawah permukaan tanah.

Reuters pada 15 Oktober 2026 melaporkan Indonesia menghadapi kebakaran hutan dan lahan terparah sejak 2015. Kekeringan akibat El Niño memperburuk keadaan. Asap mengganggu kehidupan warga dan meluas hingga negara tetangga. Situasi ini membuat penelitian yang terbit sebulan sebelumnya memiliki relevansi langsung bagi pengendalian karhutla.

Penelitian dalam jurnal Atmospheric Chemistry and Physics, terbit 14 September 2026, menelusuri hidrogen sianida atau HCN sebagai penanda pembakaran gambut yang membara. Antonio G. Bruno dari University of Leicester bersama tim membandingkan kebakaran Indonesia pada 2015, 2019, dan 2023 menggunakan pengamatan satelit, pengukuran atmosfer dari darat, dan pemodelan.

Kebaruannya terletak pada cara tim memperjelas hubungan emisi dengan kondisi air gambut lintas tiga musim kebakaran. Keberadaan HCN dalam asap gambut sendiri telah diketahui sebelumnya.

Jejak Gas Membaca Kebakaran

Tim Bruno menemukan beban HCN dan karbon monoksida di atmosfer jauh lebih tinggi pada 2015 dibandingkan 2019 dan 2023. Kondisi itu berkaitan dengan tanah yang sangat kering, muka air tanah yang turun, serta pembakaran lebih dalam.

Pesan utamanya, kekuatan El Niño saja tidak cukup menjelaskan besarnya emisi. Kondisi hidrologi setempat ikut menentukan.

Temuan tersebut menggeser pertanyaan kebijakan. Selain memperhatikan prakiraan cuaca dan kemunculan api, pengelola perlu mengetahui keadaan gambut sebelum kebakaran meluas. Informasi tentang tanah yang mengering harus dapat memicu tindakan, bukan berhenti sebagai laporan pemantauan.

Baca juga: Badan Gambut Baru, Apa yang Berubah di Lapangan?

Penjelasan mengenai kesulitan di lapangan datang dari Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Bambang Hero Saharjo. Dalam publikasi resmi IPB pada 28 Agustus 2026, ia menjelaskan bahwa gambut dapat menyimpan bara di bawah permukaan meskipun api di atasnya terlihat padam.

Bara itu berpotensi menyalakan kembali kebakaran ketika gambut masih kering dan hujan belum turun.

Bagi petugas, keadaan tersebut berarti pekerjaan belum selesai ketika nyala api menghilang. Bagi pembuat kebijakan, ini menjadi alasan untuk menilai keberhasilan penanganan lebih jauh daripada tampilan permukaan.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Air Menentukan Kemampuan Bertahan

Bambang juga menyoroti keterbatasan air sebagai hambatan pemadaman. Turunnya muka air tanah membuat gambut lebih mudah terbakar sekaligus menyulitkan akses terhadap air untuk mengendalikan kebakaran.

Menurutnya, efektivitas penanganan turut bergantung pada sarana, kemampuan tim, serta pengetahuan petugas mengenai karakter kebakaran gambut. Ia mendorong pencegahan melalui penjagaan gambut tetap basah, penguatan deteksi dini, dan penegakan hukum.

Baca juga: Gambut Kering, Mengapa Karhutla Sulit Dipadamkan?

Dari sisi kebijakan, persoalannya menjadi sangat konkret. Siapa yang menerima peringatan ketika gambut mengering. Seberapa cepat tindakan dilakukan. Apakah sumber air yang direncanakan benar-benar tersedia saat dibutuhkan?

Pertanyaan tersebut membantu menghubungkan pemantauan dengan tanggung jawab. Pengukuran akan memiliki nilai perlindungan ketika hasilnya mengubah keputusan di lapangan.

Mengukur Tanpa Membesar-besarkan

Penelitian Bruno juga menguji ketepatan perkiraan emisi. Inventaris GFED versi 4 ditemukan melebihkan estimasi emisi HCN kebakaran gambut 2015. Pendekatan yang memasukkan kelembapan tanah lebih baik menggambarkan waktu kebakaran dan kedalaman pembakaran. Artinya, perbaikan penghitungan bertujuan meningkatkan akurasi; hasilnya tidak selalu berupa angka yang lebih besar.

Pembacaan HCN pun memiliki batas. Pengamatan satelit penelitian ini terutama sensitif terhadap gas di atmosfer bagian menengah hingga atas. Hasilnya tidak dapat langsung dipakai untuk menyatakan kadar HCN yang dihirup warga suatu permukiman. Penelitian tersebut juga menganalisis kebakaran masa lalu, bukan mengukur emisi karhutla 2026.

Baca juga: Api Tak Terlihat, Gambut Kalimantan Masih Berasap

Karena itu, komunikasi publik perlu menjelaskan kegunaan temuan ini secara proporsional. Jejak gas membantu memahami pembakaran. Penilaian paparan warga tetap membutuhkan pengukuran yang sesuai di lokasi mereka.

Di tengah karhutla, nilai penelitian baru ini terletak pada arah tindakan yang ditawarkannya. Memahami keadaan gambut sebelum dan selama terbakar. Pemadaman harus berjalan bersama pencegahan yang dapat diperiksa hasilnya, melalui kondisi air, kesiapan petugas, dan tindak lanjut atas peringatan dini.

Menjaga air di dalam gambut perlu menjadi pekerjaan rutin yang terukur, jauh sebelum asap kembali memenuhi langit. ***

  • Foto: Vadim Braydov/ Pexels – Ilustrasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. Riset terbaru menelusuri jejak HCN untuk memahami pembakaran gambut yang membara.
Bagikan