COP17 Soroti Krisis Air Tawar, Indonesia Hadapi Ancaman Serupa

KRISIS keanekaragaman hayati dunia tidak hanya berlangsung di hutan dan lautan. Sungai, danau, rawa, dan ekosistem pegunungan menghadapi tekanan serius akibat perubahan iklim, pencemaran, serta kerusakan habitat. Di Indonesia, ancaman itu terlihat dari menyusutnya es tropis Papua hingga tekanan terhadap kehidupan ikan air tawar.

Persoalan tersebut mendapat perhatian khusus dalam Konferensi Para Pihak Konvensi Keanekaragaman Hayati PBB (COP17) di Yerevan, Armenia. Melalui inisiatif Yerevan Platform on Mountain and Related Freshwater Ecosystems yang diagendakan pada 27 Oktober 2026 (jelang tengah malam WIB), COP17 memperkuat perhatian terhadap perlindungan ekosistem pegunungan dan air tawar di tengah ancaman perubahan iklim dan kerusakan habitat..

Inisiatif yang melibatkan Sekretariat Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) dan Program Lingkungan PBB (UNEP) itu mengangkat persoalan pencairan gletser, menyusutnya badan air, bencana alam, dan hilangnya spesies endemik.

Agenda tersebut memperluas pembahasan COP17 dari perlindungan kawasan menuju keterhubungan ekosistem yang menopang ketersediaan air, pangan, dan ketahanan masyarakat.

Populasi Air Tawar Menyusut

Laporan Living Planet Report 2026 yang diterbitkan WWF pada 7 Oktober menunjukkan penurunan rata-rata 85 persen dalam ukuran populasi vertebrata air tawar yang dipantau selama 1970-2022.

Penurunannya lebih tajam dibandingkan ekosistem daratan sebesar 69 persen dan laut sebesar 59 persen.

Angka tersebut bukan berarti 85 persen seluruh satwa air tawar telah punah. Indikator ini mengukur perubahan rata-rata ukuran populasi satwa yang tercakup dalam pemantauan.

Baca juga: COP17: Terumbu Karang Terancam Runtuh, Pesisir Kehilangan Pelindung

Sementara itu, kajian ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada Januari 2025 menemukan sekitar 24 persen spesies fauna air tawar yang dinilai menghadapi risiko kepunahan tinggi.

Catherine Sayer, pimpinan bidang keanekaragaman hayati air tawar IUCN sekaligus penulis utama penelitian tersebut, menegaskan bahwa kekurangan data tidak dapat lagi dijadikan alasan untuk menunda tindakan perlindungan.

Pandangan itu menyoroti kelemahan pendekatan konservasi yang lebih sering mengutamakan luas kawasan daripada kondisi ekologis sungai dan habitat spesies di dalamnya.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Dari Pegunungan Hingga Rawa

Sebelum agenda peluncuran platform Yerevan, COP17 telah membahas Freshwater Challenge, inisiatif internasional untuk memulihkan 300.000 kilometer sungai terdegradasi dan 350 juta hektare lahan basah pada 2030.

Dalam forum COP17 pada 21 Oktober, Wakil Menteri Lingkungan Armenia, Ara Mkrtchyan, menyampaikan bahwa negaranya bergabung dengan inisiatif tersebut sebagai anggota negara ke-55, bersama Uni Eropa sebagai anggota tersendiri.

Mkrtchyan menekankan pentingnya investasi untuk memulihkan sungai, danau, serta lahan basah. Pemerintah Armenia, menurutnya, memprioritaskan pemulihan Danau Sevan dan pengelolaan sumber daya air yang lebih berkelanjutan.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa perlindungan keanekaragaman hayati air tawar membutuhkan kombinasi kebijakan konservasi, pengelolaan air, investasi, dan kerja sama lintas sektor.

Ekosistem pegunungan memiliki posisi penting karena memengaruhi daerah tangkapan air dan aliran sungai di wilayah hilir. Kerusakan di kawasan hulu dapat memperbesar tekanan terhadap kualitas air maupun habitat di sepanjang daerah aliran sungai.

Indonesia Menghadapi Tekanan Nyata

Di Indonesia, penyusutan gletser tropis Puncak Jaya, Papua, memperlihatkan salah satu dampak paling nyata perubahan iklim terhadap ekosistem pegunungan.

Laporan BMKG mengenai kondisi iklim Indonesia mencatat luas tutupan es pada 2024 tinggal sekitar 0,11–0,16 kilometer persegi, dibandingkan 0,23 kilometer persegi pada April 2022.

Baca juga: Es Abadi Puncak Jayawijaya akan Punah 2026, Alarm Krisis Iklim

BMKG sebelumnya memperkirakan es tersebut dapat menghilang paling lambat 2026 apabila laju penyusutan saat pengamatan berlanjut. Namun, perkiraan itu tidak dapat diperlakukan sebagai konfirmasi bahwa seluruh es telah lenyap.

Gletser Carstensz di kawasan Puncak Jaya, Papua, yang terus menyusut akibat perubahan iklim. BMKG mencatat luas tutupan es pada 2024 tinggal sekitar 0,11–0,16 kilometer persegi. Foto: Dok. BMKG.

Tekanan terhadap habitat air tawar juga muncul dalam penelitian yang diterbitkan Journal for Nature Conservationpada Agustus 2026.

Survei di 22 lokasi sistem Sungai Klasafet, Sorong, Papua, mencatat 22 spesies ikan, terdiri atas 14 spesies asli dan delapan spesies non-asli. Peneliti juga menemukan spesies dengan status rentan dan hampir terancam menurut kategori konservasi IUCN.

Temuan lokal tersebut tidak mewakili seluruh sungai Indonesia, tetapi memperlihatkan pentingnya inventarisasi keanekaragaman hayati sebelum perubahan penggunaan lahan dan tekanan manusia semakin besar.

Perlindungan Memerlukan Ukuran Hasil

Bagi Indonesia, pembahasan COP17 menghadirkan tantangan untuk menghubungkan kebijakan pengelolaan daerah aliran sungai, pengendalian pencemaran, restorasi lahan basah, dan perlindungan spesies.

Keberhasilan tidak cukup diukur dari panjang sungai yang direstorasi atau luas lahan basah yang ditetapkan sebagai kawasan perlindungan. Kondisi habitat, keberadaan spesies asli, kualitas air, dan manfaat bagi masyarakat juga perlu dipantau.

Kepala Eksekutif WWF-UK, Tanya Steele, dalam peluncuran Living Planet Report 2026, memperingatkan bahwa hilangnya alam telah menciptakan risiko terhadap ketahanan pangan, pasokan air, perekonomian, dan kemampuan masyarakat menghadapi guncangan iklim.

Baca juga: Pembiayaan Bank ke Sektor Berisiko Hutan Disorot

Pesan tersebut relevan bagi Indonesia, yang masih harus menyeimbangkan kebutuhan pembangunan, pengelolaan sumber daya air, dan perlindungan ekosistem.

Platform baru yang dibahas di Yerevan membuka peluang memperkuat kerja sama ilmu pengetahuan, kebijakan, dan investasi. Namun, nilainya baru dapat diukur melalui tindak lanjut yang menghasilkan pemulihan ekosistem secara nyata.

Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, menjaga kehidupan air tawar berarti melindungi keterhubungan ekologis dari kawasan hulu hingga wilayah hilir. Upaya itu menjadi semakin mendesak ketika perubahan iklim dan kerusakan habitat berlangsung bersamaan. ***

  • Foto: Tom Fisk/ Pexels – Bentang aliran sungai yang berkelok di antara lahan pertanian, vegetasi, dan permukiman. Perlindungan ekosistem air tawar menjadi salah satu perhatian COP17 di tengah meningkatnya tekanan terhadap sungai dan habitat keanekaragaman hayati.

Bagikan