Omah Lowo Solo, ‘Adaptive Reuse’ dan Strategi Masa Depan Kota Berkelanjutan

DI BANYAK kota Indonesia, bangunan tua masih diposisikan sebagai beban fiskal. Biaya perawatan tinggi. Fungsi ekonomi dianggap terbatas. Risiko keselamatan kerap dijadikan legitimasi pembongkaran. Akibatnya, memori kota terkikis pelan-pelan, digantikan bangunan baru yang seragam dan miskin identitas. Di kawasan Laweyan, Surakarta, sebuah rumah tua menunjukkan arah berbeda. Omah Lowo, yang dulu dikenal sebagai “rumah kelelawar”…

Baca Selengkapnya...

Solo Art Market, Model Ekonomi Kreatif Berkelanjutan Berbasis Ruang Publik

DI BANYAK kota, ruang publik berhenti sebagai trotoar atau taman pasif. Namun di selasar Ngarsopuro, Solo, Jawa Tengah, ruang kota berubah fungsi menjadi infrastruktur ekonomi kreatif yang hidup dua kali setiap bulan. Bukan lewat proyek raksasa atau gedung ikonik, melainkan melalui model komunitas yang terkurasi, rutin, dan berbasis interaksi langsung antara seniman dan publik. Di…

Baca Selengkapnya...

Hotel Kurus di Kota Padat, Pelajaran Tata Ruang dari Pitu Rooms Salatiga

DI TENGAH permukiman padat Salatiga, berdiri bangunan setinggi 17 meter dengan lebar hanya 2,8 meter. Namanya Pitu Rooms. Dari luar, bangunan ini tampak seperti sisipan vertikal di antara rumah-rumah warga. Dari dalam, hotel ini menjadi studi kasus nyata tentang bagaimana keterbatasan ruang bisa diolah menjadi solusi perkotaan. SustainReview menjajal langsung hotel ini untuk melihat apakah…

Baca Selengkapnya...

Jakarta Sudah Megacity Dunia, tapi Indonesia Belum Punya Pemerintahan Megacity

JAKARTA bukan lagi sekadar ibu kota.Jakarta telah berubah menjadi kota raksasa. Bahkan, menurut data terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa, Jakarta kini menjadi wilayah metropolitan terpadat di dunia. Bukan Tokyo.Bukan Shanghai.Tapi, Jakarta. Dengan populasi fungsional sekitar 41,9 juta jiwa, Jakarta resmi masuk ke kategori megacity global. Artinya, kota ini tidak lagi bisa dilihat sebagai wilayah administratif DKI semata….

Baca Selengkapnya...

Wisata 2026 Berubah Arah, Ujian Tata Kelola Berkelanjutan bagi Komunitas Lokal

PARIWISATA global sedang berubah arah.Bukan lagi tentang seberapa jauh orang bepergian, tapi seberapa relevan perjalanan itu dengan hidup mereka. Menjelang 2026, wisata berbasis minat personal kian menguat. Orang tidak sekadar mencari destinasi populer, melainkan pengalaman yang sesuai nilai, gaya hidup, dan kebutuhan emosional. Pergeseran ini bukan tren sesaat. Tapi, mencerminkan transformasi sosial yang berdampak langsung…

Baca Selengkapnya...

Kasus Kakek Masir dan Kesenjangan Tata Kelola Konservasi Indonesia

DI SITUBONDO, Jawa Timur, seorang pria lanjut usia bernama Masir harus menghadapi tuntutan dua tahun penjara karena memikat burung di kawasan Taman Nasional Baluran. Usianya 75 tahun. Keterlibatannya bukan bagian dari jaringan perdagangan satwa liar, bukan pula pembalakan skala besar. Ia hanya warga desa penyangga yang hidup berdampingan dengan hutan sejak kecil. Kasus ini menjadi…

Baca Selengkapnya...

Quality Tourism 2026, Transformasi Terakhir Menuju Pariwisata Kelas Dunia

Bagian 6 dari Serial Editorial “Masa Depan Pariwisata Indonesia 2025–2026” Pengantar Redaksi Bagian ini menutup serial “Masa Depan Pariwisata Indonesia 2025–2026,” yang merangkum arah strategis pembangunan pariwisata nasional menuju Quality Tourism sebagai fondasi baru sektor ini.Serial ini membedah wajah baru pariwisata Indonesia dan dunia melalui lensa geopolitik, iklim, digitalisasi, investasi, dan transformasi destinasi, berbasis data…

Baca Selengkapnya...

Agam Rinjani Raih Medali Kofi Annan, Pelajaran Kemanusiaan di Tengah Krisis Iklim

DI TENGAH perdebatan global soal pendanaan iklim dan masa depan energi fosil, panggung COP30 di Belém menghadirkan satu momen yang menyentuh dimensi paling dasar dari pembangunan berkelanjutan, kemanusiaan. Saat jutaan pasang mata tertuju pada negosiasi teknis, seorang pramuantar asal Nusa Tenggara Barat, Agam Rinjani, menerima Medali Kofi Annan, penghargaan internasional yang jarang singgah di Asia…

Baca Selengkapnya...

Mangal das Garcas, Ruang Hijau dan Ruang Hidup di Jantung Belém

DI TENGAH hiruk-pikuk Belém, kota yang menjadi tuan rumah COP30, ada oasis yang tak hanya memanjakan mata, tetapi juga menenangkan jiwa, Mangal das Garcas, taman ekologi seluas 40.000 meter persegi di tepi Sungai Guamá. Tempat ini menjadi contoh nyata bagaimana ruang hijau bisa menghidupkan kembali relasi manusia dan alam di tengah kota tropis yang padat….

Baca Selengkapnya...

Belém di COP30, Panggung Budaya Dunia di Tengah Diplomasi Iklim

Kota di jantung Amazon ini tak hanya menjadi tuan rumah negosiasi iklim global, tapi juga menampilkan wajah baru diplomasi lewat seni, sejarah, dan semangat keberlanjutan. KETIKA para pemimpin dunia berkumpul di Belém untuk COP30 pada November 2025, sorotan dunia tidak hanya tertuju pada ruang negosiasi iklim. Kota di jantung Amazon itu juga sedang menyiapkan wajah…

Baca Selengkapnya...