Hydrogen Hub dan Masa Depan Hidrogen Hijau Indonesia

TRANSISI energi tidak hanya soal mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan. Di tahap berikutnya, dunia mulai berlomba membangun ekonomi hidrogen, sebuah sistem energi baru yang diproyeksikan memainkan peran penting dalam dekarbonisasi industri berat, transportasi jarak jauh, hingga produksi pupuk.

Bagi Indonesia, peluang tersebut mulai terlihat. Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai Indonesia memiliki potensi besar menjadi produsen hidrogen hijau maupun amonia hijau, dua komoditas energi rendah emisi yang diperkirakan akan menjadi bagian penting dari ekonomi energi global di masa depan.

Namun, satu persoalan utama masih membayangi, biaya produksi yang tinggi.

IESR menilai solusi untuk menekan biaya tersebut terletak pada pembangunan hydrogen hub, klaster industri yang mengintegrasikan produksi hidrogen, energi terbarukan, infrastruktur logistik, dan permintaan industri dalam satu ekosistem.

Biaya Produksi Jadi Tantangan

Head of Industrial Decarbonization IESR, Rheza Hanif Risqianto, menjelaskan bahwa tanpa ekosistem industri yang terintegrasi, hidrogen hijau sulit bersaing secara ekonomi dengan bahan bakar konvensional.

Saat ini biaya produksi hidrogen hijau diperkirakan berada di kisaran US$4 per kilogram, angka yang masih terlalu tinggi untuk penggunaan skala industri.

“Dengan membangun hydrogen hub ini kita bisa menurunkan potential cost dari hidrogen hijau itu sekitar US$0,5 sampai US$1,5 per kilogram,” ujar Rheza dalam forum Green Energy Transition Indonesia Day di Jakarta.

Baca juga: Hidrogen Hijau Indonesia, Peluang Besar Terkunci Harga Tinggi

Model hub memungkinkan berbagai komponen penting dalam rantai pasok hidrogen berada dalam satu kawasan. Mulai dari sumber listrik energi terbarukan, fasilitas produksi hidrogen, jaringan distribusi, hingga industri pengguna akhir.

Pendekatan ini diyakini mampu menciptakan efisiensi skala ekonomi yang signifikan.

Peta Wilayah Calon Hub Hidrogen

IESR telah memetakan sedikitnya 10 wilayah di Indonesia yang dinilai memiliki potensi untuk menjadi pusat pengembangan hidrogen atau amonia hijau.

Wilayah tersebut meliputi:

  • Jawa Barat
  • Jawa Timur
  • Banten
  • Pekanbaru (Riau)
  • Jawa Tengah
  • Sumatra Selatan
  • Sumatra Utara
  • Aceh
  • Kalimantan Timur
  • Sulawesi Selatan

Lokasi hub, menurut IESR, harus memenuhi sejumlah kriteria penting. Di antaranya dekat dengan sumber energi terbarukan, memiliki akses logistik yang memadai, tersedia sumber daya air, serta berada dekat dengan pusat permintaan industri.

Pendekatan ini penting karena hidrogen merupakan komoditas energi yang relatif mahal untuk didistribusikan dalam jarak jauh. Oleh karena itu, lokasi produksi dan konsumsi sebaiknya berada dalam ekosistem industri yang sama.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Industri Berat Jadi Penggerak Awal

Dalam tahap awal pengembangan hidrogen hijau, sektor industri berat diperkirakan akan menjadi penggerak permintaan utama.

IESR menilai Kalimantan Timur memiliki peluang besar menjadi salah satu hub penting karena keberadaan industri padat energi, termasuk industri pupuk.

“Ada produksi pupuk yang besar di sana. Jadi ada anchor demand awal yang baik,” kata Rheza.

Baca juga: Green Hydrogen, Ambisi Baru PGE dan Toyota untuk Energi Bersih Indonesia

Konsep anchor demand menjadi faktor penting dalam pengembangan hidrogen hijau. Tanpa adanya permintaan awal dari sektor industri, investasi besar yang dibutuhkan untuk membangun fasilitas produksi hidrogen akan sulit terealisasi.

Proyek Amonia Hijau Mulai Dibangun

Langkah awal menuju ekonomi hidrogen di Indonesia sebenarnya sudah mulai terlihat.

Saat ini, fasilitas produksi amonia hijau terbesar di Indonesia tengah dikembangkan di Aceh. Proyek ini melibatkan sejumlah perusahaan besar, termasuk PT Pupuk Indonesia (Persero), PT PLN (Persero), serta perusahaan energi asal Arab Saudi ACWA Power.

Lokasi proyek ini berada dekat dengan pelabuhan, yang membuka peluang distribusi tidak hanya untuk kebutuhan domestik tetapi juga untuk pasar ekspor.

Baca juga: Kereta Hidrogen, Babak Baru Transportasi Berkelanjutan di India

Amonia hijau sendiri merupakan turunan dari hidrogen yang dikombinasikan dengan nitrogen. Senyawa ini sering digunakan sebagai carrier hidrogen, karena lebih mudah disimpan dan diangkut dibandingkan hidrogen murni.

Dalam konteks ekonomi energi global, amonia hijau diperkirakan akan menjadi komoditas penting untuk perdagangan energi rendah karbon.

Permintaan Energi Baru Mulai Terbentuk

IESR juga memproyeksikan bahwa permintaan hidrogen di Indonesia akan muncul dari sejumlah wilayah dengan basis industri yang kuat.

Permintaan tersebut diperkirakan datang dari:

  • Jawa Timur
  • Banten
  • Riau
  • Sulawesi Tengah
  • Sumatra Utara
  • Bali dan Nusa Tenggara Barat
  • Sumatra Selatan
  • Jawa Tengah
  • Maluku
  • Papua Barat

Wilayah-wilayah ini memiliki potensi permintaan dari sektor industri, transportasi, maupun pembangkit listrik yang mulai berupaya mengurangi emisi karbon.

Ekonomi Hidrogen Mulai Dibentuk

Secara global, hidrogen hijau diproyeksikan memainkan peran penting dalam dekarbonisasi sektor yang sulit dialiri listrik secara langsung, seperti industri baja, pupuk, dan transportasi laut.

Bagi Indonesia, pengembangan hydrogen hub bukan hanya soal energi bersih. Lebih dari itu, langkah ini dapat membuka peluang baru bagi transformasi industri nasional, sekaligus menciptakan posisi strategis dalam pasar energi rendah karbon yang terus berkembang.

Namun, tanpa strategi pembangunan ekosistem yang terintegrasi, mulai dari infrastruktur, regulasi, hingga permintaan industri, potensi tersebut berisiko tetap menjadi peluang yang belum sepenuhnya terwujud. ***

  • Foto: Ilustrasi/ AI Generated/ SustainReview – Fasilitas produksi hidrogen hijau yang memanfaatkan listrik dari energi surya dan angin. Model hydrogen hub dinilai dapat menekan biaya produksi hidrogen di Indonesia.
Bagikan