KEJATUHAN Builder.ai bukan sekadar cerita startup gagal. Ini penanda pergeseran fase dalam ekonomi digital global. Dari euforia menuju verifikasi. Dari narasi menuju tata kelola.
Perusahaan berbasis di London itu pernah diposisikan sebagai pionir pengembangan aplikasi berbasis kecerdasan buatan. Nilainya menembus sekitar US$1,5 miliar. Janjinya sederhana, membangun aplikasi tanpa kompleksitas coding, dengan bantuan AI.
Namun pada 2025, perusahaan ini masuk proses likuidasi.
Pemicu langsungnya adalah penyitaan aset sekitar US$37 juta oleh kreditur. Akar persoalannya lebih struktural. Terdapat indikasi inflasi pendapatan, tekanan utang yang meningkat, serta kesenjangan antara klaim teknologi dan realitas operasional. Alih-alih sepenuhnya otomatis, sebagian besar pekerjaan masih bergantung pada intervensi manusia.
Dari Hype ke Risiko Sistemik
Kasus ini membuka satu pertanyaan mendasar bagi pasar global, apakah “AI washing” mulai menggantikan greenwashing sebagai risiko baru dalam alokasi modal?
Indikasinya menguat.
Baca juga: Greenwashing Bisa Picu Denda 15 Juta Dolar AS
Dalam praktiknya, AI washing muncul ketika perusahaan melebih-lebihkan tingkat otomatisasi sistemnya, melabeli perangkat lunak konvensional sebagai AI, serta membangun valuasi berbasis asumsi teknologi yang belum sepenuhnya terealisasi. Perbedaan ini bukan sekadar semantik. Tapi, menentukan struktur biaya, margin, dan skalabilitas jangka panjang.
Bagi investor, ini berarti distorsi risiko yang nyata.
Tata Kelola Menjadi Variabel Finansial
Kasus Builder.ai mempertegas satu pergeseran penting, tata kelola AI kini menjadi variabel finansial yang menentukan.
Investor tidak lagi cukup melihat pertumbuhan pengguna atau proyeksi pasar. Mereka mulai menilai transparansi proses “human-in-the-loop”, kemampuan audit teknis atas sistem AI, serta kejelasan pengakuan pendapatan yang benar-benar dihasilkan oleh otomatisasi. Pengawasan dewan terhadap klaim teknologi juga menjadi faktor yang semakin diperhatikan.
Baca juga: Janji Net Zero Korporasi di Bawah Sorotan, 96% Berisiko Greenwashing
Dalam konteks ini, AI tidak lagi sekadar isu teknologi. Tapi, menjadi isu tata kelola.
Dimensi governance dalam ESG, yang sebelumnya sering berada di belakang isu lingkungan, kini bergerak ke depan sebagai faktor kunci dalam penilaian risiko.

Relevansi untuk Indonesia
Bagi Indonesia, kasus ini memiliki implikasi langsung.
Ekosistem startup nasional masih berada dalam fase pertumbuhan dengan ketergantungan tinggi pada narasi teknologi. Tanpa standar verifikasi yang kuat, risiko AI washing dapat muncul dalam bentuk serupa, terutama pada perusahaan yang mengandalkan storytelling teknologi untuk menarik pendanaan.
Di sisi lain, regulator menghadapi kebutuhan untuk mempercepat kerangka pengawasan AI. Ini mencakup transparansi model bisnis, integritas pelaporan keuangan, serta kejelasan klasifikasi antara layanan berbasis AI dan layanan berbantuan AI.
Baca juga: AI Agents dan Transformasi Kerja Digital, Mesin Mulai Bekerja di Komputer Kita
Tanpa intervensi kebijakan yang memadai, pasar berpotensi mengulang pola yang sama seperti era greenwashing, ketika arus modal bergerak lebih cepat dibandingkan kemampuan verifikasi.
Titik Balik Pasar AI
Kejatuhan Builder.ai tidak menandai pelemahan sektor AI. Adopsi teknologi ini justru terus meningkat. Namun, pasar mulai memasuki fase seleksi yang lebih ketat.
Narasi tidak lagi cukup. Investor menuntut bukti. Regulator menuntut transparansi. Perusahaan dituntut membedakan secara jelas antara inovasi yang nyata dan klaim yang bersifat aspiratif.
Baca juga: Militerisasi AI Global, Apakah Indonesia Siap?
Pertanyaan kunci bagi pembuat kebijakan dan pelaku pasar menjadi semakin konkret. Seberapa besar pendapatan yang benar-benar dihasilkan oleh otomatisasi. Seberapa kuat validasi teknis atas klaim AI. Dan seberapa transparan struktur biaya di baliknya.
Builder.ai mungkin hanya satu kasus. Namun, implikasinya bersifat sistemik.
Jika greenwashing menjadi ujian reputasi pada dekade sebelumnya, maka AI washing berpotensi menjadi ujian tata kelola pada dekade ini.
Dan bagi pasar yang ingin tetap kredibel, jawabannya tidak lagi bisa berbasis narasi. Harus berbasis data. ***
- Foto: Mikhail Nilov/ Pexels – Ilustrasi pengembangan perangkat lunak. Di balik klaim otomatisasi AI, banyak sistem masih bergantung pada intervensi manusia dan proses teknis yang kompleks.


