DI TENGAH perlombaan global mengembangkan teknologi penangkap karbon yang mahal dan kompleks, sebuah temuan ilmiah terbaru justru mengarah pada pendekatan yang lebih sederhana, bekerja bersama proses alami.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth and Environment menunjukkan bahwa ekosistem yang dibentuk oleh berang-berang mampu berfungsi sebagai penyerap karbon bersih (net carbon sink). Temuan ini memperkuat posisi nature-based solutions (NBS) sebagai instrumen mitigasi iklim yang tidak hanya efektif, tetapi juga efisien secara biaya.
Temuan ini mengarah pada satu kesimpulan utama. Solusi berbasis alam seperti ekosistem berang-berang mampu menyerap karbon secara signifikan dengan biaya rendah, dan layak dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi mitigasi iklim nasional.
Ekosistem yang Dibangun, Bukan Direkayasa
Melansir Live Science, studi ini dilakukan pada aliran sungai sepanjang 0,8 kilometer di Swiss utara. Setelah berang-berang diperkenalkan pada 2010, lanskap mengalami perubahan signifikan.
Bendungan alami memperlambat aliran air, meningkatkan akumulasi sedimen, dan menciptakan lahan basah baru. Dalam kondisi ini, karbon tersimpan dalam berbagai bentuk, mulai dari sedimen, biomassa, hingga kayu mati.
Hasilnya, kawasan tersebut mampu menyerap antara 98 hingga 133 ton karbon per tahun.
Baca juga: Ketidakpastian Serapan Karbon Laut, Risiko Sistemik bagi Kebijakan Iklim
“Berang-berang tidak akan menyelesaikan perubahan iklim, tetapi mereka dapat membantu ekosistem sungai menyimpan karbon selama puluhan tahun,” ungkap Peneliti dari University of Birmingham, Lukas Hallberg.
Efisiensi Biaya, Argumen yang Tidak Bisa Diabaikan
Dalam kebijakan iklim, efektivitas tanpa efisiensi tidak cukup.
Pendekatan berbasis teknologi seperti carbon capture and storage (CCS) memerlukan investasi besar, infrastruktur kompleks, serta biaya operasional jangka panjang. Sebaliknya, pendekatan berbasis ekosistem bekerja dengan memanfaatkan dinamika alami yang sudah ada.
Baca juga: Strategi Karbon China di Gurun Taklamakan
“Bekerja dengan proses alami sejak awal bukan hanya masuk akal secara ekologis, tetapi juga secara ekonomi,” kata Hallberg.
Bagi negara berkembang, ini menjadi relevan. Keterbatasan fiskal membuat pilihan kebijakan harus semakin selektif, dan solusi berbiaya rendah menjadi semakin strategis.
Mengoreksi Bias terhadap Lahan Basah
Selama ini, lahan basah kerap dipandang ambivalen karena berpotensi melepaskan gas rumah kaca seperti metana. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa dalam konteks tertentu, lahan basah justru berfungsi sebagai penyerap karbon yang stabil.
Baca juga: Tagih Tanggung Jawab 66 Raksasa Polusi Dunia untuk Danai Teknologi Penangkap Karbon
Emily Fairfax dari University of Michigan menilai temuan ini penting untuk mengoreksi persepsi tersebut. “Kolam yang dibentuk berang-berang merupakan penyerap karbon yang tahan lama dan berkontribusi signifikan terhadap restorasi ekosistem,” ujarnya.
Lebih jauh, ekosistem ini juga meningkatkan ketahanan lanskap terhadap kebakaran hutan, mengurangi risiko pelepasan karbon dalam skala besar.

Relevansi untuk Indonesia, dari FOLU hingga Restorasi DAS
Bagi Indonesia, pelajaran utama dari studi ini bukan pada spesiesnya, melainkan pada pendekatannya.
Pendekatan berbasis ekosistem sudah menjadi bagian dari strategi nasional, termasuk melalui agenda FOLU Net Sink 2030, restorasi gambut, dan rehabilitasi mangrove. Namun, implementasi di lapangan masih didominasi pendekatan berbasis proyek dan infrastruktur.
Temuan ini menunjukkan bahwa,
Intervensi minimal, jika tepat sasaran, dapat menghasilkan dampak signifikan.
Ekosistem basah memiliki peran strategis sebagai penyerap karbon jangka panjang.
Efisiensi biaya harus menjadi pertimbangan utama dalam desain kebijakan iklim.
Baca juga: Ekonomi Karbon Multiskema, Jalan Tengah Menuju Pembiayaan Iklim Rp4.500 Triliun
Dalam konteks daerah aliran sungai (DAS) kritis di Indonesia, seperti Citarum atau Bengawan Solo, pendekatan serupa dapat diterjemahkan dalam bentuk restorasi berbasis proses alami, bukan sekadar pembangunan fisik.
Dari Konservasi ke Instrumen Iklim
Reintroduksi spesies seperti berang-berang di Eropa pada awalnya didorong oleh agenda konservasi. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa dampaknya melampaui aspek keanekaragaman hayati.
Ekosistem yang terbentuk kini dipahami sebagai bagian dari infrastruktur alami yang mampu mendukung mitigasi perubahan iklim.
Baca juga: Hutan Tropis Indonesia, Aset Hijau Baru dalam Perdagangan Karbon Global
Fairfax bahkan menyebut bahwa jika pendekatan ini diterapkan secara serius, dampaknya terhadap penyimpanan karbon tidak bisa diabaikan.
Dengan kata lain, konservasi tidak lagi berdiri sendiri. Ia bertransformasi menjadi bagian dari strategi ekonomi dan iklim.
Mengintegrasikan Alam dalam Desain Solusi
Temuan ini memperkuat satu arah kebijakan yang semakin relevan, yakni mengintegrasikan solusi berbasis alam ke dalam kerangka mitigasi nasional.
Bagi pembuat kebijakan, implikasinya jelas:
- NBS perlu ditempatkan setara dengan solusi teknologi dalam perencanaan iklim
- Skema pembiayaan hijau perlu mengakomodasi proyek berbasis ekosistem
- Pengukuran dan verifikasi karbon dari ekosistem alami perlu diperkuat
Dalam konteks ini, alam bukan lagi sekadar objek yang dilindungi, tetapi aset strategis yang harus dioptimalkan.
Dalam diskursus iklim yang semakin kompleks dan mahal, temuan ini menawarkan pengingat sederhana, bahwa tidak semua solusi harus diciptakan.
Sebagian sudah tersedia. Bekerja secara diam-diam, konsisten, dan tanpa biaya besar.
Tantangannya bukan menemukan yang baru, tetapi mengintegrasikan yang sudah ada ke dalam kebijakan. ***
- Foto: AI-Generated/ Mulamula-id – Berang-berang Eurasia membangun bendungan alami yang menciptakan lahan basah penyerap karbon.


