EL NINO kuat pada 2026 bukan lagi sekadar kemungkinan. Model iklim terbaru bahkan mampu memprediksinya hingga 15 bulan sebelumnya. Pertanyaannya bukan apakah ini akan terjadi, tetapi apakah sistem kebijakan sudah siap meresponsnya.
Data dari sejumlah kelompok riset global menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Tahun 2026 diperkirakan menjadi salah satu tahun terpanas dalam sejarah modern, dengan potensi munculnya fenomena El Nino “super” yang dapat memperkuat lonjakan suhu global.
Analisis dari Carbon Brief memperkirakan suhu global dapat melonjak hingga 2,2 derajat Celcius di atas baseline tertentu pada periode puncak, terutama menjelang akhir tahun. Jika skenario ini terjadi, dampaknya tidak hanya bersifat klimatologis, tetapi juga sistemik.
Sinyal dari Pasifik
El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik tropis yang memengaruhi pola cuaca global. Dalam kondisi ekstrem, fenomena ini dapat memicu kekeringan panjang di sebagian wilayah, sekaligus meningkatkan risiko banjir dan gelombang panas laut di wilayah lain.
Kali ini, sinyalnya datang lebih awal dan lebih kuat.
Baca juga: El Nino 2026: Stress Test Ketahanan Pangan, Energi, dan Air Indonesia
Model terbaru menunjukkan potensi pemanasan lebih dari 2 derajat Celcius di wilayah Pasifik timur khatulistiwa. Angka ini berada di kategori El Nino kuat hingga ekstrem, level yang dalam sejarah sering berkorelasi dengan gangguan besar pada sistem pangan dan energi.
“Jika terjadi El Nino ‘super’, maka kemungkinan tahun 2027 akan menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat,” tulis Carbon Brief dalam analisanya.
Model Makin Presisi
Kemajuan penting datang dari riset terbaru yang dipublikasikan di jurnal Geophysical Research Letters. Studi ini menunjukkan bahwa El Nino dan La Nina kini dapat diprediksi dengan akurasi yang lebih tinggi hingga 15 bulan sebelum kejadian.
Penelitian yang dipimpin oleh Yuxin Wang dari University of Hawaii menggunakan kombinasi data suhu permukaan laut dan perubahan ketinggian permukaan laut untuk mengidentifikasi penumpukan panas di Pasifik tropis.
Baca juga: Ketahanan Pangan Indonesia di Bawah Bayang-bayang Krisis Iklim
“Kami menemukan bahwa alat ini dapat memprediksi El Nino dan La Nina dengan sangat baik, dengan akurasi yang berguna hingga sekitar 15 bulan ke depan,” ujar Wang.
Temuan ini menandai pergeseran penting. Ketidakpastian ilmiah yang selama ini menjadi alasan keterlambatan respons kini semakin berkurang.

Risiko ke Sistem
Namun, meningkatnya akurasi prediksi tidak otomatis berbanding lurus dengan kesiapan sistem.
El Nino kuat hampir selalu berujung pada tekanan ekonomi melalui beberapa jalur sekaligus. Kekeringan menekan produksi pangan. Pasokan berkurang. Harga naik. Inflasi terdorong. Di saat yang sama, gelombang panas meningkatkan konsumsi energi, sementara sumber energi tertentu seperti pembangkit listrik tenaga air berpotensi mengalami penurunan kapasitas.
Dalam konteks Indonesia, risiko ini bersifat konkret.
Baca juga: Panas Ekstrem Dorong Sistem Pangan ke Titik Kritis, Risiko Sistemik Kian Nyata
Sektor pertanian masih sangat bergantung pada pola hujan. Sistem energi masih dalam fase transisi. Ketahanan pangan dan stabilitas harga masih menjadi agenda sensitif secara politik dan sosial.
Artinya, El Nino bukan sekadar isu cuaca. Ini adalah shock iklim yang bisa merambat menjadi shock ekonomi dan sosial.
Celah Kebijakan
Di sinilah masalah utama muncul.
Kemampuan prediksi kini sudah jauh lebih maju. Namun, sistem kebijakan masih cenderung reaktif, bergerak setelah dampak mulai terasa, bukan sebelum risiko terjadi.
Dalam banyak kasus, respons masih berfokus pada mitigasi jangka pendek. Operasi pasar, bantuan sosial, atau intervensi darurat. Pendekatan ini penting, tetapi tidak cukup untuk menghadapi risiko yang kini bisa dipetakan jauh hari.
Baca juga: Air Dunia di Titik Kritis, Ketahanan Pangan dan Energi Terancam Jika Tata Kelola Tidak Berubah
Dengan prediksi hingga 15 bulan ke depan, ruang untuk kebijakan preventif sebenarnya terbuka lebar. Mulai dari penyesuaian strategi pangan, manajemen cadangan air, hingga antisipasi beban sistem energi.
Masalahnya bukan lagi kurangnya data. Masalahnya adalah belum terintegrasinya data ke dalam desain kebijakan.
Momentum yang Tidak Boleh Hilang
El Nino 2026, jika mencapai kategori “super”, akan menjadi ujian penting.
Bukan hanya bagi ketahanan iklim, tetapi juga bagi kemampuan negara dalam mengelola risiko berbasis data.
Dalam konteks ini, pertanyaannya sederhana namun krusial, jika risiko sudah bisa diprediksi lebih awal, mengapa dampaknya masih terus berulang? ***
- Foto: Waheed Raja/ Pexels – Lonjakan suhu ekstrem akibat El Nino dapat meningkatkan beban sistem energi, sekaligus menekan kapasitas pembangkit tertentu, menciptakan tekanan ganda dalam satu waktu.


