Kapal Listrik Mulai Masuk ke Ekosistem Konservasi Mangrove

KAWASAN konservasi mangrove kini mulai membutuhkan teknologi operasional yang lebih bersih, senyap, dan rendah emisi. Salah satu pendekatan yang mulai dikembangkan adalah penggunaan kapal listrik multifungsi untuk membersihkan sampah sekaligus mendukung aktivitas penelitian di kawasan ekologis sensitif.

Kapal listrik adalah kapal yang menggunakan sistem propulsi berbasis energi baterai untuk mengurangi emisi karbon, kebisingan, dan konsumsi bahan bakar fosil dalam operasional perairan.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini mengembangkan kapal pengumpul sampah multifungsi berbasis propulsi elektrik untuk mendukung pengelolaan Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya. Teknologi tersebut dirancang untuk menjawab tantangan khas kawasan mangrove yang memiliki perairan dangkal, berlumpur, dan akses sempit dengan vegetasi sensitif.

Baca juga: Mangrove, Solusi Alami Hemat $855 Miliar untuk Banjir

Kawasan konservasi mulai membutuhkan sistem operasional rendah emisi karena pendekatan konvensional dinilai semakin tidak ideal untuk ekosistem yang rentan terhadap gangguan suara, polusi, dan aktivitas manusia.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN, Abdi Ismail, mengatakan pengembangan kapal tersebut menjadi bagian dari kebutuhan pengelolaan kawasan mangrove yang memerlukan sarana operasional terpadu.

Kapal dirancang tidak hanya untuk mengangkut sampah, tetapi juga mendukung mobilitas peneliti dan kegiatan pemantauan lingkungan di kawasan konservasi.

Operasi Rendah Emisi

Secara teknis, kapal memiliki panjang 8,35 meter dengan draft operasional hanya 0,4 meter sehingga mampu bergerak di kawasan dangkal dan berlumpur. Sistem penggerak utama menggunakan motor listrik 10,5 kW dengan kapasitas angkut sampah mencapai 2,3 meter kubik.

Angka tersebut menjadi penting karena sebagian besar kawasan mangrove memiliki keterbatasan akses bagi kapal konvensional berbobot besar dan berbahan bakar fosil.

Kapal juga dilengkapi loader di bagian depan untuk memperluas jangkauan pengambilan sampah. Sampah kemudian dipindahkan menggunakan sistem konveyor menuju ruang penampungan utama.

Baca juga: AI Mengubah Tata Kelola Abrasi dan Rob di Pantura

Menurut Abdi, penggunaan propulsi elektrik memungkinkan operasional kapal menjadi lebih senyap sekaligus menekan emisi karbon dan biaya operasional.

“Propulsi elektrik memungkinkan operasi kapal menjadi lebih senyap, emisi karbon lebih rendah, dan biaya operasional lebih efisien,” ujarnya dalam publikasi resmi BRIN Enviro Talk ke-55.

Seluruh sistem operasi kapal, termasuk penggerak dan konveyor pengangkut sampah, menggunakan energi berbasis baterai. Kapal juga dilengkapi panel surya sebagai pendukung pengisian daya tambahan.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Konservasi Butuh Teknologi Baru

Pengembangan kapal ini menunjukkan bahwa pengelolaan ekosistem mangrove mulai bergerak menuju konsep green operational ecosystem, yakni sistem operasional kawasan konservasi yang dirancang minim emisi dan minim gangguan lingkungan.

Ekosistem mangrove adalah kawasan pesisir yang berfungsi penting menyerap karbon, menahan abrasi, menjaga habitat satwa, serta menjadi penyangga ekologis wilayah pantai.

Dalam konteks konservasi modern, gangguan suara dan polusi dari mesin berbahan bakar fosil mulai dianggap sebagai faktor yang dapat memengaruhi stabilitas habitat satwa dan kualitas lingkungan kawasan sensitif.

Baca juga: Gambut dan Mangrove, Solusi Iklim yang Terlupakan di Asia Tenggara

Karena itu, BRIN juga melengkapi sistem tersebut dengan kano elektrik berbahan fiberglass reinforced polymer (FRP) untuk mendukung mobilitas peneliti di area yang membutuhkan kondisi lebih tenang.

Kano elektrik memungkinkan peneliti mendekati area pengamatan satwa tanpa menghasilkan kebisingan tinggi yang berpotensi mengganggu habitat mangrove.

Selain itu, kapal dilengkapi radio VHF untuk menjaga komunikasi di kawasan yang memiliki keterbatasan sinyal telekomunikasi.

Potensi untuk Sungai Kota

Pengembangan kapal listrik ini tidak hanya relevan untuk kawasan mangrove. Model serupa dinilai berpotensi diterapkan pada pengelolaan sampah di sungai perkotaan dengan karakteristik perairan dangkal dan padat sampah.

Implikasi kebijakannya mulai terlihat: pengelolaan kawasan ekologis dan sungai perkotaan kemungkinan tidak lagi cukup hanya mengandalkan pembersihan manual atau kapal konvensional, tetapi membutuhkan armada operasional khusus yang adaptif terhadap kondisi lingkungan Indonesia.

BRIN menargetkan pengembangan teknologi ini mencapai Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TRL) 7, yakni tahap prototipe sistem yang telah diuji dalam lingkungan operasional nyata.

Baca juga: Limbah Sawit Mulai Masuk Rantai Material Teknologi Energi

Tim peneliti juga mengajukan proposal riset inovasi strategis pada 2026 untuk memperluas pengembangan teknologi kapal pengangkut sampah adaptif di berbagai wilayah perairan Indonesia.

Dalam jangka panjang, pendekatan seperti ini berpotensi menjadi bagian dari transformasi pengelolaan kawasan konservasi berbasis teknologi hijau, terutama di tengah meningkatnya tekanan sampah pesisir dan kebutuhan perlindungan ekosistem mangrove nasional. ***

  • Foto: Tom Fisk/ Pexels Perahu melintas di kawasan mangrove pesisir. Kawasan konservasi kini mulai menghadapi kebutuhan teknologi operasional rendah emisi untuk mendukung pembersihan sampah dan riset lingkungan.
Bagikan