DATA center selama ini lebih sering dibicarakan melalui kebutuhan listrik dan emisinya. Namun, ledakan kecerdasan buatan atau AI mulai membuka persoalan lain yang tidak kalah penting, air.
Server dan cip berperforma tinggi menghasilkan panas besar. Agar tetap bekerja, fasilitas data center membutuhkan sistem pendinginan yang dapat menggunakan air bersih, air daur ulang, atau teknologi pendingin udara.
Water stewardship data center adalah pendekatan pengelolaan air yang mengukur konsumsi, risiko sumber air lokal, pemulihan daerah aliran sungai, dan dampaknya terhadap masyarakat.
Baca juga: Ekonomi AI Menguat, Arsitektur SDM Nasional Dipertaruhkan
Google kini memperluas komitmen pengelolaan airnya. Perusahaan teknologi itu menargetkan dapat mengembalikan lebih banyak air dibandingkan volume yang dikonsumsi di seluruh lokasi operasinya pada 2030.
Komitmen tersebut terlihat progresif. Namun, ukuran keberhasilannya tidak cukup berhenti pada jumlah air yang dikembalikan secara global.
Keberlanjutan data center harus dinilai dari kemampuannya melindungi sumber air di lokasi fasilitas beroperasi, bukan hanya dari keseimbangan angka dalam laporan perusahaan.
Air di Balik AI
Pada 2025, Google menyatakan telah mengembalikan lebih dari 7 miliar galon air melalui 165 proyek pengelolaan air di 97 daerah aliran sungai.
Ketika seluruh proyeknya berjalan, sebagaimana dilansir dalam blog resmi perusahaan, Google memperkirakan dapat mengembalikan lebih dari 19 miliar galon air setiap tahun pada 2030. Jumlah tersebut disebut lebih dari dua kali lipat konsumsi perusahaan pada 2024.
Baca juga: AI Membeli Pembangkit Listrik, Pergeseran Baru Strategi Energi Big Tech
Google juga telah berkomitmen menyediakan lebih dari US$500 juta untuk pembangunan dan modernisasi infrastruktur air, pengolahan air limbah, serta penggunaan kembali air di sekitar wilayah operasinya.
Perusahaan menyatakan akan menggunakan sistem pendingin udara atau air daur ulang ketika sumber air lokal berada dalam risiko tinggi. Google juga berjanji melaporkan penggunaan air setiap lokasi data center secara tahunan.
Langkah itu menunjukkan bahwa pengelolaan air mulai bergeser dari program lingkungan sukarela menjadi bagian dari tata kelola infrastruktur digital.

Mengembalikan Belum Tentu Menggantikan
Air berbeda dari emisi karbon. Satu ton emisi yang dikurangi di wilayah lain masih dapat diperhitungkan terhadap target global. Air sangat bergantung pada tempat dan waktu.
Air yang dipulihkan melalui restorasi lahan basah di satu daerah tidak otomatis menggantikan air yang dikonsumsi data center di wilayah lain. Kondisi sungai, musim, kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan kemampuan jaringan air setempat menentukan besarnya dampak.
Baca juga: AC, AI, dan Krisis Daya Menguji Ketahanan Energi Asia Tenggara
Karena itu, target water positive atau mengembalikan lebih banyak air daripada yang digunakan tetap perlu dibaca secara hati-hati.
Komitmen tersebut baru memiliki arti kuat apabila proyek pemulihan air benar-benar dilakukan pada daerah aliran sungai yang terdampak dan mampu meningkatkan keamanan air masyarakat sekitar.
Pilihan yang Tidak Sederhana
Pengurangan konsumsi air juga tidak selalu menghasilkan dampak lingkungan yang lebih kecil.
Google menjelaskan bahwa keputusan pendinginan perlu menyeimbangkan penggunaan air dan energi. Pendinginan berbasis air dalam kondisi tertentu dapat menggunakan energi lebih sedikit dibandingkan sistem pendingin udara.
Baca juga: Lonjakan Listrik Akibat AI, Inovasi Berhadapan dengan Keberlanjutan
Artinya, operator data center menghadapi pertukaran risiko. Menghemat air dapat meningkatkan konsumsi listrik. Sebaliknya, menghemat energi dapat memperbesar kebutuhan air.
Dilema itu akan semakin besar. United Nations University memperkirakan konsumsi air data center global dapat mencapai 9,3 triliun liter pada 2030, lebih dari dua kali konsumsi pada 2025.
Ujian bagi Indonesia
Pertumbuhan data center di Indonesia perlu dibarengi standar pengelolaan air sebelum konflik sumber daya muncul.
Perizinan fasilitas tidak cukup hanya menilai lokasi, kapasitas listrik, dan keamanan sistem. Pemerintah juga perlu meminta penilaian risiko air, rencana penggunaan air daur ulang, serta keterbukaan konsumsi air per lokasi.
Indikator seperti water usage effectiveness dapat menjadi bagian dari pelaporan wajib. Operator juga perlu membuktikan bahwa pembangunan fasilitas tidak memindahkan biaya penguatan jaringan air kepada pemerintah daerah dan masyarakat.
Baca juga: Kota-kota Asia Mulai Kehilangan Badan Airnya
Komitmen Google memberi satu pelajaran penting. Pertumbuhan digital akhirnya selalu bertemu dengan batas fisik.
Data mungkin bergerak tanpa terlihat. Namun, infrastruktur yang mengolahnya tetap membutuhkan listrik, tanah, dan air. Tanpa tata kelola yang kuat, kecerdasan buatan dapat tumbuh dengan membebankan biaya tersembunyi kepada sumber daya publik. ***
- Foto: Ilustrasi/ Tayssir Kadamany/ Pexels – Sistem pendinginan menjadi infrastruktur penting dalam operasional data center. Pertumbuhan AI membuat penggunaan energi dan air untuk menjaga suhu server semakin mendapat perhatian.


