KRISIS iklim tidak hanya mengubah suhu, curah hujan, dan garis pantai. Krisis iklim juga mulai menggeser peta penyakit.
Chikungunya memberi sinyal itu. Penyakit yang selama ini lebih dekat dengan kawasan tropis dan subtropis kini diproyeksikan bergerak ke wilayah baru, termasuk Asia Timur, Eropa Tengah, dan Amerika Utara bagian timur laut.
Chikungunya adalah penyakit virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Dalam konteks iklim, chikungunya menjadi indikator penting karena risiko penularannya sangat dipengaruhi suhu, habitat nyamuk, dan perubahan lingkungan.
Krisis iklim dapat memperluas risiko chikungunya karena suhu yang menghangat membuat nyamuk vektor bertahan di wilayah baru yang sebelumnya terlalu dingin untuk penularan lokal.
Baca juga: Krisis Iklim Bukan Lagi Soal Lingkungan, BRIN Temukan Lonjakan TB di Jawa Barat
Studi terbaru yang terbit di Frontiers in Cellular and Infection Microbiology menunjukkan 21,26 persen daratan dunia di 139 negara saat ini berada dalam zona risiko penularan chikungunya. Risiko tersebut masih terkonsentrasi di kawasan tropis dan subtropis, termasuk pesisir Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Namun, proyeksi ke depan menunjukkan arah yang lebih kompleks. Asia Timur, Eropa Tengah, dan Amerika Utara bagian timur laut muncul sebagai zona risiko baru menjelang akhir abad ini. Artinya, penyakit yang selama ini dilekatkan pada wilayah panas dapat bergerak ke kawasan beriklim sedang.
Asia Masuk Peta
Bagi Asia, temuan ini penting karena kawasan ini memikul dua beban sekaligus. Di satu sisi, Asia Selatan dan Asia Tenggara sudah lama menghadapi penyakit berbasis nyamuk. Di sisi lain, Asia Timur mulai masuk dalam peta risiko baru akibat perubahan iklim.
Studi tersebut menemukan Asia memiliki 30,69 persen proporsi daratan yang saat ini berisiko. Angka ini lebih rendah dibanding Amerika Selatan yang mencapai 83,41 persen dan Afrika 42,67 persen. Namun, posisi Asia tetap strategis karena kawasan ini memiliki kepadatan penduduk tinggi, mobilitas besar, dan tekanan urbanisasi yang terus meningkat.
Baca juga: Infeksi Jamur Diprediksi Meningkat Akibat Krisis Iklim
Dalam konteks kebijakan, risiko chikungunya tidak bisa lagi diperlakukan sebagai isu kesehatan musiman. Risiko ini perlu masuk dalam agenda adaptasi iklim, tata kota, pengendalian vektor, dan kesiapsiagaan layanan kesehatan.

Nyamuk Lebih Adaptif
Faktor penting dalam pergeseran risiko ini adalah Aedes albopictus, atau Asian tiger mosquito. Nyamuk ini lebih tahan suhu dingin dibanding Aedes aegypti. Karena itu, pemanasan global dapat membuka ruang baru bagi penyebarannya.
Peneliti menyebut perubahan iklim memengaruhi chikungunya terutama dengan mengubah wilayah hidup nyamuk pembawa virus. Dalam model studi tersebut, distribusi virus sangat dipengaruhi oleh vektor, dengan kontribusi sekitar 84 persen.
Baca juga: Krisis Iklim, Mengapa Kenaikan 2 Derajat Celsius Bisa Mengubah Dunia?
Temuan ini menggeser cara membaca krisis iklim. Dampaknya tidak hanya hadir melalui banjir, kekeringan, panas ekstrem, atau gagal panen. Krisis iklim juga dapat mengubah ekologi penyakit.
Negara yang selama ini merasa berada di luar zona endemik perlu menyiapkan sistem deteksi dini. Pelatihan diagnosis klinis, pemantauan nyamuk, penguatan laboratorium, dan edukasi publik perlu dilakukan sebelum risiko menjadi wabah lokal.
Ujian Kesehatan Publik
Bagi Indonesia, isu ini tidak berarti chikungunya adalah ancaman baru. Indonesia sudah lama mengenal penyakit berbasis nyamuk, termasuk demam berdarah dan chikungunya. Namun, pesan penting dari studi ini adalah perubahan iklim membuat pola risiko semakin dinamis.
Sistem kesehatan publik tidak cukup hanya merespons kasus. Negara perlu membaca perubahan suhu, curah hujan, kepadatan permukiman, mobilitas manusia, dan kualitas sanitasi sebagai satu ekosistem risiko.
Kota menjadi titik penting. Urbanisasi menciptakan ruang padat, drainase buruk, genangan air, dan mobilitas tinggi. Semua faktor itu dapat memperbesar peluang penularan penyakit berbasis nyamuk.
Baca juga:Â Dunia di Ambang Krisis Iklim, Sepertiga Wilayah Bisa Tak Layak Huni
Karena itu, adaptasi iklim sektor kesehatan perlu bergerak lebih teknis. Pemerintah daerah membutuhkan peta risiko yang diperbarui, sistem pengawasan vektor yang aktif, serta integrasi data iklim dengan data kesehatan.
Chikungunya memberi pelajaran penting. Penyakit tidak hanya mengikuti manusia. Penyakit juga mengikuti iklim, ruang hidup vektor, dan kualitas tata kelola lingkungan.
Krisis iklim akhirnya bukan hanya soal suhu bumi yang naik. Krisis iklim juga soal bagaimana negara menyiapkan sistem kesehatan untuk menghadapi peta penyakit yang terus berubah. ***
- Foto: Pixabay/ Pexels – Nyamuk Aedes menjadi vektor utama chikungunya. Krisis iklim dapat memperluas habitat nyamuk pembawa virus ke wilayah baru yang sebelumnya terlalu dingin untuk penularan lokal.


