Hamdani S Rukiah

COP17: Kerusakan Alam Merambat ke Risiko Pangan

Perdebatan di Yerevan memperlihatkan sulitnya menyatukan agenda alam dan iklim. Bagi Indonesia, taruhannya menjangkau ketahanan produksi dan pasokan pangan lintas negara. KERUSAKAN alam tidak berhenti di perbatasan negara. Ketika tanah kehilangan kesuburan, ketersediaan air terganggu, atau ekosistem pertanian melemah, risikonya dapat mengikuti perjalanan komoditas hingga ke negara pembeli. Hubungan tersebut memberi konteks penting bagi COP17…

Baca Selengkapnya...

COP17 Dibuka, Luas Kawasan Konservasi Belum Menjamin Perlindungan

Cakupan konservasi dunia bertambah. COP17 membawa perhatian pada pekerjaan berikutnya. Memastikan kawasan dikelola efektif, melindungi habitat penting, dan menghormati masyarakat penjaganya. WARNA kawasan konservasi pada peta menunjukkan wilayah yang memperoleh perlindungan. Namun, untuk mengetahui apakah perlindungan itu bekerja, diperlukan informasi lain. Kondisi habitat, tekanan terhadap satwa, kemampuan pengelola, hingga keterlibatan masyarakat dalam mengambil keputusan. Persoalan…

Baca Selengkapnya...

COP17 Bahas Pembagian Manfaat dari Data Genetik Alam

Pemanfaatan data genetik membuka peluang inovasi. Melalui Cali Fund, COP17 membahas bagaimana manfaatnya kembali kepada negara dan masyarakat penjaga biodiversitas. INFORMASI genetik tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme dapat beredar melintasi negara melalui basis data digital. Perusahaan dapat memanfaatkannya untuk riset dan pengembangan produk. Namun, bagaimana manfaat ekonomi itu kembali kepada pihak yang menjaga sumber kekayaan hayatinya?…

Baca Selengkapnya...

Jelang COP17, Apa yang Dipertaruhkan bagi Indonesia?

Dunia akan meninjau kemajuan perlindungan biodiversitas menuju 2030. Bagi Indonesia, kepentingannya menjangkau pendanaan, arah pembangunan, dan hak masyarakat penjaga alam. SEDIKITNYA US$200 miliar atau setara Rp3.610,4 triliun per tahun ditargetkan mengalir untuk perlindungan keanekaragaman hayati dunia pada 2030. Di balik angka itu terdapat kebutuhan konkret, menjaga habitat, memulihkan ekosistem, membiayai pengawasan, dan mendukung masyarakat yang…

Baca Selengkapnya...

Dry Ice untuk Karhutla, Bagaimana Mengukur Keberhasilannya?

Jarak pandang membaik dalam uji coba dry ice di Sumatra Selatan. Pengukuran polutan dan lamanya manfaat bertahan menentukan artinya bagi perlindungan warga. JARAK pandang di sekitar lokasi penyemaian dry ice di Sumatra Selatan dilaporkan meningkat dari sekitar 650 meter menjadi 2.800 meter. Bagi penerbangan yang terganggu kabut asap, perubahan itu penting. Bagi warga yang setiap…

Baca Selengkapnya...

Badan Gambut Baru, Apa yang Berubah di Lapangan?

Pelantikan pimpinan BPGMN membuka babak baru pengelolaan gambut dan mangrove. Kewenangan lintas sektor, pemulihan tata air, serta pengawasan pemanfaatan lahan menentukan dampaknya bagi pencegahan kebakaran. AIR menjadi salah satu ukuran paling konkret untuk menilai badan baru pengelola gambut. Apakah lahan yang mengering kembali basah. Apakah pembasahan bertahan saat kemarau. Dan siapa yang bertanggung jawab ketika…

Baca Selengkapnya...

Pembiayaan Bank ke Sektor Berisiko Hutan Disorot

Laporan terbaru menyoroti US$595 miliar atau sekitar Rp10.649,3 triliun pembiayaan ke agribisnis dan pertambangan berisiko terhadap hutan tropis. Menjelang COP17, pengawasan di balik keputusan kredit menjadi perhatian. PERLINDUNGAN hutan juga ditentukan di meja pemberi kredit. Ketika bank memutuskan membiayai perkebunan, pabrik pulp, atau pertambangan, persyaratan pinjaman dapat ikut menentukan bagaimana perusahaan memperlakukan ekosistem dan masyarakat…

Baca Selengkapnya...

COP17 Menagih Bukti Perlindungan Alam

Dunia mendekati tenggat biodiversitas 2030. Kemajuan mulai terlihat, tetapi perluasan kawasan konservasi belum selalu berarti perlindungan yang efektif. SEKITAR 10% lautan dunia sudah ditetapkan sebagai kawasan yang dilindungi atau dikonservasi. Namun, bagian yang dinilai terlindungi secara efektif baru sekitar 3,5%. Selisih itu memperlihatkan persoalan penting menjelang COP17, yakni penetapan kawasan belum selalu diikuti perlindungan yang…

Baca Selengkapnya...

Subsidi Perusak Alam Membuat Bisnis Berkelanjutan Sulit Bersaing

Lebih dari 130 perusahaan dan lembaga keuangan mendesak reformasi insentif. Persaingan bisnis hijau ikut ditentukan oleh praktik yang mendapat dukungan uang publik. PERUSAHAAN yang menjaga tanah, menghemat air, dan mengamankan bahan baku untuk jangka panjang belum tentu memperoleh posisi lebih baik di pasar. Investasi mereka bisa berhadapan dengan pesaing yang menikmati ongkos lebih murah karena…

Baca Selengkapnya...

Moratorium Smelter Nikel, Saatnya Menghitung Biaya Hilirisasi

INDONESIA sedang mempertimbangkan rem untuk industri yang selama ini menjadi wajah hilirisasi. Setelah ekspansi pengolahan nikel, pemerintah membuka peluang membatasi pembangunan smelter penghasil produk setengah jadi. Pemicunya adalah kelebihan pasokan yang menekan harga. Namun, jeda ekspansi dapat membuka pertanyaan lebih besar. Seberapa besar manfaat yang tinggal di Indonesia setelah kebutuhan energi, penggunaan sumber daya, dan…

Baca Selengkapnya...