PASAR karbon global mulai bergerak ke sektor industri yang selama ini relatif kurang mendapat perhatian publik. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) kini membuka jalur baru kredit karbon untuk pengurangan emisi nitrous oxide (N₂O) dari industri asam nitrat, sebuah langkah yang dinilai dapat memperkuat integritas pasar karbon internasional.
Pasar karbon adalah mekanisme yang memungkinkan pengurangan emisi gas rumah kaca dikonversi menjadi kredit yang dapat diperdagangkan atau digunakan untuk memenuhi target iklim.
Keputusan itu diambil melalui Article 6.4 Supervisory Body di Bonn, Jerman, yang mengadopsi metodologi baru bagi proyek pengurangan emisi N₂O dari fasilitas produksi nitric acid atau asam nitrat.
Pasar karbon global kini mulai bergeser dari proyek berbasis narasi hijau yang sulit diverifikasi menuju pengurangan emisi industri yang lebih terukur, teknis, dan mudah diaudit.
Baca juga: Bukan Sekadar Harga Karbon, Dunia Kini Berebut Standar Pasar Karbon
Pergeseran tersebut dinilai penting karena N₂O termasuk salah satu gas rumah kaca paling kuat di atmosfer. Dampaknya terhadap pemanasan global jauh lebih besar dibanding karbon dioksida (CO₂).
Data UNFCCC menunjukkan konsentrasi N₂O global meningkat sekitar 40 persen sejak 1980. Bahkan, sekitar 97 persen Nationally Determined Contributions (NDC) terbaru negara-negara dunia telah memasukkan N₂O dalam strategi iklim mereka.
Keputusan ini juga menunjukkan bahwa mekanisme pasar karbon di bawah Paris Agreement mulai bergerak dari tahap penyusunan aturan menuju implementasi nyata di sektor industri.
Emisi Industri yang Lama Terabaikan
Nitric acid merupakan bahan penting dalam produksi pupuk dan rantai pasok pangan global. Namun, proses produksinya juga menghasilkan emisi N₂O dalam jumlah besar.
Secara global terdapat sekitar 400–600 pabrik nitric acid yang memproduksi sekitar 70 juta ton per tahun. Sebagian besar fasilitas tersebut berada di negara berkembang yang belum sepenuhnya memasang teknologi pengurang emisi N₂O.
Kondisi itu menciptakan peluang baru bagi pasar karbon internasional.
Teknologi untuk memangkas emisi sebenarnya sudah tersedia. Namun, investasi pengurangan emisi sering dianggap belum ekonomis tanpa dukungan insentif finansial tambahan.
Baca juga: Pasar Karbon PBB Era Paris Dimulai: Kualitas Diutamakan, Kredit Dipangkas 40%
Melalui metodologi baru Article 6.4, pengurangan emisi dari fasilitas industri kini dapat dikonversi menjadi kredit karbon resmi di bawah Paris Agreement Crediting Mechanism.
Artinya, sektor industri mulai memperoleh posisi yang lebih penting dalam arsitektur pasar karbon global.
Dalam pernyataan resminya, United Nations Framework Convention on Climate Change menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari perluasan implementasi nyata pasar karbon internasional ke sektor yang memiliki dampak langsung terhadap pengurangan emisi.
Integritas Jadi Kata Kunci
Perkembangan ini juga memperlihatkan arah baru tata kelola pasar karbon internasional yang semakin menekankan aspek integritas dan kualitas kredit karbon.
Selama beberapa tahun terakhir, pasar karbon kerap mendapat kritik karena sebagian proyek offset dianggap sulit diverifikasi, berisiko overclaim, atau tidak benar-benar menghasilkan pengurangan emisi tambahan.
Karena itu, Article 6.4 kini mulai memperkuat aspek metodologi dan pengawasan teknis.

Selain metodologi N₂O, Supervisory Body juga mengadopsi alat metodologi baru terkait lock-in risk, yaitu risiko proyek justru mempertahankan teknologi lama beremisi tinggi dalam jangka panjang.
PBB juga memperbarui standar additionality untuk memastikan proyek memang menghasilkan pengurangan emisi di luar skenario bisnis normal.
Additionality adalah prinsip yang memastikan kredit karbon hanya diberikan kepada proyek yang benar-benar menghasilkan pengurangan emisi tambahan yang tidak akan terjadi tanpa insentif pasar karbon.
Baca juga: ASEAN Mulai Bangun Jalur Resmi Pasar Karbon Regional
Ketua Article 6.4 Supervisory Body UNFCCC, menyebut langkah ini sebagai bagian dari dorongan implementasi nyata Paris Agreement. “Kami memperluas mekanisme ke sektor yang memiliki solusi terbukti dan dapat menghasilkan dampak langsung,” jelasnya.
Sementara Wakil Ketua Supervisory Body UNFCCC, Jacqui Ruesga, mengatakan setiap metodologi baru akan memperluas perangkat aksi iklim berintegritas tinggi.
Infrastruktur Karbon Global
Bagi investor dan pelaku industri, perkembangan ini mengirim sinyal penting bahwa pasar karbon internasional mulai masuk ke sektor industri berat yang emisinya dapat diukur secara lebih presisi.
Hal itu dapat membuka peluang baru bagi pengembangan teknologi pengurangan emisi industri, retrofit fasilitas lama, hingga perdagangan kredit karbon berbasis industrial abatement.
Industrial abatement adalah upaya pengurangan emisi langsung di fasilitas industri melalui teknologi atau perubahan proses produksi.
Tren ini juga menunjukkan bahwa masa depan pasar karbon kemungkinan tidak lagi hanya didominasi proyek berbasis alam seperti hutan atau reforestasi.
Baca juga: Uni Eropa Mengamankan Pasar Karbon Lewat Pendanaan Dini
Sebaliknya, pasar mulai bergerak ke sektor yang memiliki data emisi lebih jelas, pengukuran lebih presisi, dan standar audit yang lebih ketat.
Di saat yang sama, UNFCCC juga masih membangun infrastruktur utama mekanisme Article 6.4, termasuk registry untuk penerbitan, pelacakan, dan penggunaan kredit karbon. Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk menentukan kredibilitas pasar karbon global ke depan.
Bagi Indonesia, implikasinya cukup besar.
Indonesia memiliki industri pupuk dan kimia yang luas. Namun, tantangan berikutnya bukan sekadar memiliki proyek hijau, melainkan kesiapan sistem MRV, data emisi industri, dan tata kelola karbon yang kompatibel dengan standar global.
Baca juga: Indonesia Masuk Koalisi Pasar Karbon Global, Integritas Jadi Taruhan
MRV adalah sistem monitoring, reporting, and verification yang digunakan untuk mengukur, melaporkan, dan memverifikasi pengurangan emisi secara kredibel.
Ketika pasar karbon global mulai bergerak ke sektor industri yang sangat teknis, negara dengan sistem data dan verifikasi paling kuat kemungkinan akan menjadi pihak yang paling diuntungkan.
PBB kini mulai membentuk pasar karbon sebagai instrumen praktis untuk menghubungkan target iklim, teknologi industri, dan arus pembiayaan pengurangan emisi dalam skala besar. ***
- Foto: Jose Castro/ UNFCCC – Pekerja berada di fasilitas industri nitric acid yang menjadi bagian dari sektor baru pasar karbon di bawah mekanisme Paris Agreement.


