Carbon Removal Jadi Aset Baru, Indonesia Jangan Sekadar Menjual Kredit Karbon

PASAR karbon sedang naik kelas. Selama bertahun-tahun, banyak korporasi memakai kredit karbon untuk mengimbangi emisi. Modelnya sederhana. Emisi tetap terjadi, lalu perusahaan membeli kredit dari proyek yang diklaim mampu mengurangi atau menyerap emisi di tempat lain.

Kini, arah pasar mulai berubah. Pembeli besar tidak hanya mencari offset. Mereka mulai membeli carbon dioxide removal atau CDR, yaitu penghapusan karbon dari atmosfer dengan penyimpanan jangka panjang.

Carbon removal adalah proses menghilangkan karbon dioksida yang sudah berada di atmosfer, lalu menyimpannya secara tahan lama melalui teknologi, proses alam, atau kombinasi keduanya.

Perubahan ini terlihat dari langkah Toronto-Dominion Bank atau TD Bank. Salah satu bank terbesar di Amerika Utara itu meneken perjanjian 10 tahun dengan Climeworks Solutions untuk memperoleh kredit carbon removal berkualitas tinggi dari portofolio proyek di Amerika Utara. Climeworks menyebut TD sebagai pelanggan sektor jasa keuangan Kanada pertamanya untuk model portofolio CDR tersebut.

Isu ini penting bagi Indonesia karena pasar karbon global mulai bergerak dari sekadar kredit murah menuju penghapusan karbon yang lebih terukur, lebih tahan lama, dan lebih ketat secara verifikasi.

Bagi Indonesia, sinyalnya jelas. Negara ini tidak cukup hanya menjadi pemilik hutan, gambut, mangrove, atau proyek offset berbasis alam. Indonesia perlu naik kelas menjadi penyedia solusi carbon removal yang kredibel, terukur, dan diterima pembeli premium global.

Dari Offset ke Removal

Kredit karbon konvensional biasanya bertumpu pada klaim pengurangan emisi. Misalnya, emisi dicegah karena deforestasi dikurangi, energi terbarukan menggantikan pembangkit fosil, atau proyek efisiensi menekan konsumsi energi.

Carbon removal berbeda. Fokusnya bukan hanya menghindari emisi baru, melainkan menarik karbon yang sudah berada di atmosfer.

Dalam kesepakatan TD Bank dan Climeworks, portofolio kredit akan bersumber dari beberapa jalur. Di antaranya enhanced rock weathering, biochar, serta bioenergy with carbon capture and storage atau BECCS. Climeworks juga menyebut adanya akses masa depan terhadap kredit direct air capture dari fasilitas Amerika Utara yang sedang dikembangkan.

Baca juga: Carbon Removal Jadi Infrastruktur, Microsoft Kunci Pasokan 15 Tahun

Enhanced rock weathering bekerja dengan memanfaatkan batuan tertentu yang dapat bereaksi dengan COâ‚‚. Biochar menyimpan karbon dalam bentuk arang hayati dari biomassa. BECCS menangkap emisi dari bioenergi, lalu menyimpannya secara geologis. Direct air capture menggunakan teknologi untuk menyaring COâ‚‚ langsung dari udara.

Bagi pembeli korporasi, perbedaan ini penting. Carbon removal dianggap lebih dekat dengan kebutuhan jangka panjang net zero, terutama untuk emisi sisa yang sulit dihapus sepenuhnya dari operasi bisnis.

Angka yang Mengubah Sinyal Pasar

Angka paling penting dari kesepakatan ini bukan nilai transaksinya, melainkan durasinya, 10 tahun.

Durasi panjang menunjukkan bahwa carbon removal mulai diperlakukan sebagai instrumen pengadaan strategis. Bukan pembelian simbolik. Bukan pula pembelian sesaat untuk laporan keberlanjutan tahunan.

Pembeli besar mulai membutuhkan pasokan jangka panjang. Mereka juga membutuhkan manajemen risiko. Karena itu, model portofolio menjadi menarik. Satu pembeli tidak hanya bergantung pada satu proyek atau satu teknologi. Risiko pengiriman, metodologi, durabilitas, dan verifikasi dibagi ke beberapa jalur penghapusan karbon.

Baca juga: Mengincar Polutan Super, Strategi Iklim Cepat Korporasi Global

Ini menjadi penting karena pasar CDR masih muda. Standar terus berkembang. Pembeli harus berhati-hati terhadap klaim berlebihan, risiko gagal kirim, ketidakpastian metodologi, dan kualitas penyimpanan karbon.

TD bukan pemain baru dalam carbon removal. Pada 2023, TD juga pernah mengumumkan pembelian kredit direct air capture dari proyek STRATOS milik 1PointFive di Texas. Artinya, langkah terbaru bersama Climeworks bukan sinyal tunggal, tetapi bagian dari pola yang lebih panjang dalam strategi carbon management sektor keuangan.

Mengapa Indonesia Perlu Membaca Sinyal Ini

Indonesia punya posisi strategis dalam pasar karbon. Negara ini memiliki hutan tropis, lahan gambut, mangrove, potensi biomassa, mineral, dan ruang pengembangan teknologi rendah karbon. Namun, potensi saja tidak cukup.

Baca juga: Pasar Karbon Indonesia Mulai Masuk Era Auditabilitas

Indonesia juga sedang membangun infrastruktur pasar karbon. Bursa karbon Indonesia, IDXCarbon, telah diluncurkan sebagai kanal perdagangan unit karbon. Pemerintah kemudian membuka kembali perdagangan karbon internasional setelah sempat terhenti sekitar empat tahun. Kebijakan baru itu menekankan standar nasional, pengakuan standar internasional tertentu, serta kebutuhan registri karbon yang transparan untuk mencegah penghitungan ganda.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Di atas kertas, langkah ini membuka peluang. Tetapi peluangnya tidak otomatis menjadi nilai ekonomi tinggi.

Pasar global makin menuntut integritas. Pembeli premium tidak hanya bertanya berapa ton karbon yang diklaim. Mereka akan bertanya, karbon itu dihapus dengan metode apa, disimpan berapa lama, diverifikasi siapa, datanya ada di mana, dan apakah klaimnya berisiko dihitung dua kali.

Baca juga: Singapura Mengunci Posisi sebagai Hub Pasar Karbon Asia

Di fase ini, Indonesia perlu membedakan dua hal. Pertama, pasar kredit karbon berbasis pengurangan emisi. Kedua, pasar carbon removal berbasis penghapusan karbon. Keduanya sama-sama penting, tetapi nilai dan tuntutan kualitasnya berbeda.

Biochar Bisa Jadi Pintu Masuk

Dari beberapa jalur carbon removal, biochar bisa menjadi salah satu pintu masuk paling realistis bagi Indonesia.

Indonesia memiliki sumber biomassa besar dari pertanian, perkebunan, kehutanan sosial, dan limbah organik. Jika dikelola dengan standar ketat, sebagian biomassa dapat diolah menjadi biochar untuk menyimpan karbon sekaligus memperbaiki kualitas tanah.

Namun, biochar tidak boleh diperlakukan sebagai proyek karbon murah. Pemerintah perlu memastikan metodologi yang kuat. Perlu ada standar bahan baku. Perlu ada sistem pengukuran durabilitas karbon. Perlu ada pengawasan agar proyek tidak memicu perebutan biomassa, perubahan penggunaan lahan, atau klaim berlebihan.

Di sinilah pelajaran dari TD Bank–Climeworks menjadi relevan. Pembeli besar mencari portofolio yang dikurasi. Artinya, pasar tidak hanya membutuhkan proyek. Pasar membutuhkan tata kelola.

Implikasi Kebijakan untuk Indonesia

Target net zero emission Indonesia adalah 2060 atau lebih cepat. Pemerintah juga terus menyiapkan strategi energi rendah karbon sebagai bagian dari agenda tersebut.

Tetapi net zero tidak hanya soal menurunkan emisi dari pembangkit, industri, transportasi, dan lahan. Dalam jangka panjang, negara juga perlu memikirkan emisi sisa. Di banyak sektor, sebagian emisi sulit dihilangkan sepenuhnya. Di sinilah carbon removal akan makin relevan.

Implikasi kebijakannya jelas. Indonesia perlu mulai membangun kerangka carbon removal nasional. Bukan untuk menggantikan penurunan emisi, tetapi untuk melengkapi strategi net zero.

Baca juga: Standar Baru Pasar Karbon Global, Peluang bagi Proyek CDR Indonesia

Kerangka itu setidaknya mencakup empat hal.

Pertama, definisi resmi carbon removal. Indonesia perlu membedakan secara jelas antara emission reduction, avoidance, offset, dan removal. Tanpa definisi yang bersih, pasar mudah mencampuradukkan klaim.

Kedua, metodologi berbasis sains. Biochar, restorasi mangrove, mineralisasi, BECCS, dan CCS tidak bisa memakai ukuran yang sama. Setiap jalur memiliki risiko, durabilitas, biaya, dan kebutuhan verifikasi berbeda.

Ketiga, registri karbon yang kuat. Pembeli global akan menuntut data yang rapi, transparan, dan dapat diaudit. Tanpa itu, kredit Indonesia akan sulit naik kelas.

Keempat, strategi nilai tambah domestik. Indonesia jangan hanya menjual unit karbon mentah. Indonesia perlu membangun ekosistem proyek, verifikator, data, riset, teknologi, dan pembiayaan agar nilai ekonomi tidak berhenti di level pemasok.

Jangan Terjebak Menjual Murah

Pasar karbon bisa menjadi peluang. Tetapi juga bisa menjadi jebakan. Negara dengan sumber daya alam besar dapat tergoda menjual kredit murah demi transaksi cepat. Padahal, tren pasar menunjukkan pembeli premium justru mencari kualitas, durabilitas, dan kepastian jangka panjang.

Kesepakatan TD Bank dan Climeworks menunjukkan arah itu. Carbon removal mulai masuk ke strategi pembelian institusi keuangan. Bukan sekadar proyek sampingan. Bukan sekadar narasi hijau.

Baca juga: Kredit Karbon Berkualitas Kian Terbatas, Akses Mulai Menjadi Penentu

Bagi Indonesia, pertanyaannya bukan lagi apakah pasar karbon akan tumbuh. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap masuk ke segmen bernilai tinggi, atau tetap berada di pasar kredit karbon murah yang rawan dipersoalkan kualitasnya.

Carbon removal adalah aset baru dalam ekonomi iklim. Jika Indonesia ingin mengambil posisi kuat, pekerjaan rumahnya bukan hanya membuka perdagangan. Pekerjaan rumahnya adalah membangun standar, data, tata kelola, dan kredibilitas.

Tanpa itu, Indonesia bisa punya banyak karbon. Tetapi belum tentu punya nilai strategis di pasar karbon masa depan.***

  • Foto: Ilustrasi/ Mert Sezgen/ Pexels Carbon removal mulai dilihat sebagai bagian dari strategi ekonomi iklim, bukan sekadar proyek lingkungan. Indonesia perlu membaca arah baru pasar karbon global ini.
Bagikan