Rumah Belum Pulih, Semen Aceh Tembus Rp120 Ribu

Ketika warga mulai memperbaiki rumah secara mandiri setelah banjir, kelangkaan semen memangkas daya beli bantuan dan mengancam memperlambat pemulihan.

BAGI sebagian penyintas banjir di Aceh, memperbaiki rumah bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan sekaligus.

Dinding ditambal lebih dahulu. Lantai diperbaiki ketika uang tersedia. Semen dibeli beberapa sak, lalu pembangunan dilanjutkan kembali setelah keluarga memiliki biaya.

Namun, cara bertahan itu kini berhadapan dengan harga material yang melonjak.

Harga semen di sejumlah wilayah Aceh dilaporkan mencapai Rp100.000 hingga Rp120.000 per sak pada akhir Juli 2026. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan perhitungan awal banyak proyek dan kisaran harga pasar yang sebelumnya berada sekitar Rp55.000–Rp60.000 per sak.

Di Aceh Utara, pelaku jasa konstruksi bahkan mulai mempertimbangkan menunda pembangunan rumah korban banjir. Stok sulit ditemukan di toko bangunan. Ketika tersedia, jumlahnya terbatas dan harganya jauh melampaui perhitungan biaya awal.

Masalah yang sama dirasakan masyarakat yang membangun rumah secara mandiri. Bagi keluarga yang membeli material sedikit demi sedikit, kenaikan harga bukan sekadar tambahan pengeluaran. Luas bagian rumah yang dapat diperbaiki ikut berkurang.

Kebutuhan Naik 30 Persen

Kelangkaan terjadi ketika kebutuhan semen di Aceh sedang meningkat tajam.

Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh mencatat penjualan semen meningkat sekitar 30 persen pada triwulan pertama 2026. Kenaikan itu didorong rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, termasuk pembangunan hunian sementara, hunian tetap, jalan, serta jembatan.

Aktivitas tersebut ikut mendorong sektor konstruksi Aceh tumbuh 15,95 persen secara tahunan.

Angka itu memperlihatkan besarnya kebutuhan yang muncul secara bersamaan. Pemerintah membangun kembali infrastruktur. Kontraktor mengerjakan rumah bantuan. Pada saat yang sama, ribuan keluarga berusaha memperbaiki tempat tinggalnya sendiri.

Baca juga: Banjir Sumatra Mengungkap Sesuatu, Indonesia Kehilangan Sistem Alarm Lingkungan

Ketika kenaikan permintaan tidak diimbangi pasokan dan distribusi yang cukup lentur, tekanan akhirnya berpindah ke harga eceran.

Kamar Dagang dan Industri Aceh Utara sebelumnya menyebut keterbatasan pasokan lokal diperburuk oleh distribusi semen dari Sumatera Utara. Pengiriman dilaporkan terkendala antrean angkutan di Pelabuhan Belawan. Sejumlah proyek pembangunan rumah dan infrastruktur pun mulai terhambat.

Bantuan Kehilangan Daya Beli

Lonjakan harga semen juga berpengaruh langsung terhadap efektivitas bantuan perbaikan rumah.

Pemerintah memberikan bantuan stimulan Rp15 juta untuk rumah rusak ringan dan Rp30 juta untuk rumah rusak sedang. Hingga tahap penyaluran yang dilaporkan sebelumnya, bantuan di Aceh telah menjangkau 12.856 rumah rusak ringan dan 9.065 rumah rusak sedang, dengan nilai keseluruhan Rp464,79 miliar.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Bantuan tersebut tidak seluruhnya digunakan untuk membeli semen. Warga juga membutuhkan pasir, batu bata, kayu, seng, instalasi listrik, serta biaya tukang.

Namun, perbandingan sederhana menunjukkan besarnya tekanan harga.

Pada harga Rp60.000 per sak, uang Rp15 juta secara matematis setara dengan 250 sak semen. Ketika harga mencapai Rp120.000, jumlah yang sama hanya mampu membeli 125 sak.

Artinya, daya beli terhadap salah satu material utama menyusut separuh.

Bagi rumah yang diperbaiki secara bertahap, selisih itu dapat menentukan apakah keluarga mampu menyelesaikan dinding, lantai, kamar mandi, atau baru sekadar membuat rumah cukup aman untuk ditempati.

Tekanan biaya bahkan telah diakui dalam pembangunan rumah rusak berat. Kepala BNPB Suharyanto menyebut bantuan Rp60 juta per unit masih terlalu minim, khususnya karena Aceh menghadapi tantangan pengadaan dan distribusi material. Pemerintah mengupayakan kenaikan bantuan hingga Rp80 juta per rumah.

Produksi Normal, Barang Sulit Dicari

Pemerintah Aceh menyatakan sedang menelusuri penyebab kelangkaan semen hingga tingkat distribusi dan pengecer.

Penjelasan awal dari produsen menyebut kegiatan produksi tetap berjalan. Permintaan yang meningkat disebut membuat stok lebih cepat terserap. Pemerintah juga menyatakan belum menemukan bukti adanya kesengajaan atau permainan distribusi.

Penelusuran itu penting. Sebab, pernyataan bahwa produksi berjalan normal belum menjawab pengalaman warga yang tidak menemukan barang di toko atau harus membayar hingga dua kali lipat.

Dalam pemulihan bencana, ketersediaan material tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar biasa.

Baca juga: Jejak Alih Fungsi Lahan di Balik Banjir Besar Sumatra

Lonjakan kebutuhan dapat diperkirakan sejak jumlah rumah dan infrastruktur yang rusak diketahui. Pemerintah seharusnya dapat memetakan kebutuhan semen, kapasitas produksi, jalur distribusi, stok antardaerah, serta batas harga yang masih wajar.

Pengawasan juga harus menjangkau kabupaten, kecamatan, dan toko eceran. Sebab, di titik itulah warga membeli material untuk melanjutkan pembangunan rumahnya.

Pemulihan tidak selesai ketika bantuan ditransfer atau kontrak pembangunan ditandatangani.

Bantuan baru benar-benar bekerja apabila material tersedia, harga dapat dijangkau, dan rumah warga dapat kembali berdiri.

Di Aceh, satu sak semen kini menjadi ukuran lain dari kecepatan pemulihan. Semakin lama barang langka dan harga bertahan tinggi, semakin lama pula keluarga penyintas harus menunggu rumahnya kembali utuh. ***

  • Foto: Ilustrasi AI/ SustainReview.ID – Warga memperbaiki bagian rumah yang rusak setelah banjir. Lonjakan harga semen hingga Rp120.000 per sak membuat proses pemulihan di sejumlah wilayah Aceh berjalan semakin berat.
Bagikan