Tampungan bendungan di Jawa menyusut 981,5 juta meter kubik. Ketika kemarau mengeras, air yang sama harus menopang sawah, kebutuhan masyarakat, sekaligus pembangkit listrik. El Niño membuka satu pertanyaan besar, seberapa tahan sistem energi Indonesia ketika iklim mengubah ketersediaan sumber dayanya?
AIR di bendungan-bendungan Pulau Jawa berkurang sekitar 981,5 juta meter kubik.
Angka itu setara penurunan volume tampungan sekitar 19 persen.
Di atas kertas, kehilangan air sebanyak itu adalah persoalan sumber daya air. Di lapangan, dampaknya menjalar jauh lebih luas.
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum memperkirakan defisit tampungan tersebut dapat mengurangi luasan layanan pada musim tanam ketiga hingga 398.102 hektare, atau sekitar 73 persen dibandingkan luasan fungsional.
Pemerintah kemudian merekomendasikan operasi modifikasi cuaca untuk membantu pengisian 43 bendungan di Pulau Jawa.
Tetapi ada kebutuhan lain yang ikut bergantung pada air yang sama, listrik.
El Niño 2026 sedang memperlihatkan bahwa bendungan bukan sekadar tempat menyimpan air.
Di banyak tempat, bendungan berdiri di persimpangan tiga kebutuhan strategis sekaligus; air, pangan, dan energi.
Ketika hujan berkurang, tekanan terhadap ketiganya datang hampir bersamaan.
981,5 Juta Meter Kubik yang Hilang
BMKG memperingatkan bahwa puncak musim kemarau 2026 terkonsentrasi pada Juli hingga September.
Pada Agustus, sebanyak 369 Zona Musim atau 48,84 persen wilayah daratan Indonesia diperkirakan mengalami puncak kemarau. BMKG juga meminta sektor energi memastikan kecukupan air bendungan untuk pengoperasian PLTA.
Implikasinya sederhana tetapi besar.
Curah hujan berkurang.
Aliran sungai melemah.
Air yang masuk ke waduk ikut menyusut.
Baca juga: El Niño 2026 Tidak Ekstrem, tapi Kemarau Bisa Lebih Panjang
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan kondisi kemarau tidak memberikan dampak yang sama terhadap seluruh sumber energi terbarukan.
Tenaga surya dan angin justru bisa memperoleh kondisi yang lebih mendukung pada periode kering. Situasinya berbeda bagi pembangkit yang menggantungkan produksi listrik pada air.
“Energi dari sumber daya air ini yang perlu [mendapat perhatian],” kata Faisal dalam konferensi pers di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2026.
Menurut Faisal, berkurangnya curah hujan dapat menekan debit air PLTA dan akhirnya memengaruhi kemampuan pembangkit menghasilkan listrik.
BMKG karena itu menempatkan ketersediaan air sebagai salah satu fokus utama mitigasi El Niño.
“Antisipasi kemarau yang bersamaan dengan El Niño di tahun ini ada dua fokus utama. Pertama, terkait dengan ketersediaan air melalui pengisian waduk-waduk dengan metode modifikasi cuaca,” ujar Faisal dalam penjelasan BMKG mengenai mitigasi El Niño 2026.
Di sinilah kata “berebut” memperoleh konteksnya.
Bukan berarti petani, rumah tangga, dan operator PLTA berdiri di pintu bendungan meminta air masing-masing.
Tetapi ketika cadangan menyusut, setiap meter kubik air mempunyai lebih banyak kepentingan yang harus dilayani.
Air perlu dipertahankan untuk kebutuhan masyarakat.
Air diperlukan untuk irigasi agar sawah tetap ditanami.
Pada bendungan yang terhubung dengan pembangkit hidro, air juga mempunyai nilai energi.
Semakin sedikit air yang tersedia, semakin ketat pula ruang untuk mengatur seluruh kepentingan tersebut.
Hidro Masih Menjadi Raksasa Energi Terbarukan
Persoalan ini menjadi penting karena struktur energi terbarukan Indonesia masih sangat bergantung pada air.
Pada akhir 2025, kapasitas pembangkit EBT Indonesia mencapai 15.630 MW.
Dari jumlah itu, sekitar 7.587 MW berasal dari hidro.
Nyaris separuh kapasitas energi terbarukan Indonesia berasal dari sumber daya air.
Sebagai pembanding, tenaga surya ketika itu baru sekitar 1.494 MW, sedangkan tenaga angin sekitar 152 MW.
Artinya, ketika debit sungai dan waduk berubah, yang sedang menghadapi tekanan bukan pembangkit marginal dalam sistem.
Hidro adalah salah satu fondasi utama energi terbarukan Indonesia.
Inilah sisi El Niño yang sering luput.
Transisi menuju energi terbarukan tidak otomatis membuat sistem energi kebal terhadap perubahan iklim.
Sebagian teknologi energi bersih justru sangat terkait dengan kondisi alam.
Hidro membutuhkan air.
Surya membutuhkan radiasi matahari.
Angin membutuhkan pola angin yang memadai.
Ketahanan sistem akhirnya bergantung bukan hanya pada berapa banyak megawatt energi terbarukan yang dibangun, tetapi juga pada seberapa beragam sumbernya dan seberapa mampu satu sumber menopang sistem ketika sumber lainnya melemah.
Ketika Matahari Justru Mendapat Keuntungan
El Niño menghadirkan paradoks.
Kondisi kemarau dapat menekan pembangkit hidro karena debit air turun.
Tetapi periode kering tidak selalu menjadi kabar buruk bagi seluruh pembangkit terbarukan.
Faisal mengatakan energi surya dan angin justru berpotensi mendapat kondisi lebih baik pada musim kemarau.
Itu membuat risiko El Niño tidak cukup dibaca sebagai cerita berkurangnya produksi PLTA.
Pertanyaan kebijakannya jauh lebih besar. Ketika tenaga air melemah, apakah sistem kelistrikan mempunyai cukup tenaga surya, angin, panas bumi, penyimpanan energi, dan jaringan untuk mengambil sebagian bebannya?
Saat ini jawabannya belum sederhana.
Indonesia memang sedang bergerak menuju sistem yang lebih beragam, tetapi struktur pembangkitnya masih dalam proses berubah.

RUPTL Mulai Mengubah Komposisi
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PLN 2025–2034 memberikan petunjuk mengenai arah perubahan tersebut.
Dalam sepuluh tahun, Indonesia merencanakan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW.
Sebanyak 42,6 GW berasal dari energi baru dan terbarukan, sedangkan sekitar 10,3 GW berupa sistem penyimpanan energi.
Di dalam portofolio EBT tersebut, tenaga surya mendapat porsi terbesar, sekitar 17,1 GW.
Hidro menyusul 11,7 GW, angin 7,2 GW, panas bumi 5,2 GW, dan bioenergi sekitar 0,9 GW.
Storage terdiri antara lain dari sekitar 6 GW baterai dan 4,3 GW pumped storage.
Komposisi itu penting.
Sebab sistem listrik berbasis energi terbarukan pada akhirnya tidak bisa bergantung pada satu jenis pembangkit.
Baca juga: El Nino 2026: Stress Test Ketahanan Pangan, Energi, dan Air Indonesia
Saat kemarau menekan hidro, produksi PLTS di sejumlah lokasi dapat memperoleh kondisi radiasi matahari yang lebih baik.
Ketika matahari turun pada sore hari, baterai dapat membantu memindahkan listrik yang diproduksi pada siang hari.
Panas bumi dapat memasok listrik yang relatif stabil tanpa bergantung pada hujan harian.
Jaringan transmisi kemudian diperlukan untuk membawa listrik dari wilayah yang memiliki surplus menuju pusat beban yang membutuhkan.
Dengan kata lain, sebagian jawaban terhadap El Niño tidak berada di waduk.
Jawabannya berada pada arsitektur sistem energi.
Modifikasi Cuaca Masuk ke Persoalan Energi
Ketika cadangan air semakin penting, operasi modifikasi cuaca kini ikut masuk ke dalam strategi menjaga ketahanan waduk.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan fungsi waduk di Indonesia memang tidak tunggal.
“Waduk-waduk di Indonesia itu memang umumnya selain untuk keperluan air baku, pertanian, untuk PLTA,” ujar Seto dalam konferensi pers di Bappenas, 4 Agustus 2026.
Menurut dia, berkurangnya hujan akibat El Niño otomatis mengurangi air yang masuk ke waduk.
Karena itulah operasi modifikasi cuaca digunakan untuk membantu meningkatkan cadangan air ketika kondisi atmosfer memungkinkan.
Baca juga: El Nino Bisa Diprediksi 15 Bulan, tapi Sistem Masih Reaktif
Seto menyebut operasi semacam itu sebelumnya dilakukan antara lain di kawasan Danau Toba serta untuk kebutuhan Poso Energy di Sulawesi.
Catatan BMKG juga menunjukkan operasi pengisian waduk untuk Poso Energy berlangsung pada 4–29 Mei 2026. Secara keseluruhan, basis data BMKG mencatat pengisian waduk sebagai salah satu penggunaan operasi modifikasi cuaca di Indonesia.
Pada awal Agustus, operasi juga dilakukan di Daerah Aliran Sungai Citarum, Jawa Barat.
Tujuannya memperkuat pasokan air yang menopang lebih dari satu kebutuhan sekaligus.
“Supaya pasokan energi, air dan pertanian itu bisa terjaga dengan baik,” kata Seto.
Rangkaian itu menunjukkan sesuatu yang menarik.
Teknologi modifikasi cuaca yang selama ini lebih sering dikaitkan dengan penanganan kebakaran hutan, banjir, atau kekeringan, kini secara tidak langsung menjadi bagian dari strategi ketahanan energi.
Urutannya bahkan bisa digambarkan sangat sederhana:
awan → hujan → waduk → turbin → listrik.
BMKG sebelumnya juga menjelaskan bahwa operasi modifikasi cuaca di kawasan Danau Toba dilakukan untuk menjaga tinggi muka air yang digunakan secara bersamaan bagi irigasi, penyediaan air bersih, dan operasional PLTA.
240 Bendungan dalam Kesiapsiagaan
Menghadapi kemarau tahun ini, pemerintah menyiapkan ratusan infrastruktur sumber daya air untuk menjaga kebutuhan masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Namun, angka 240 bendungan yang beberapa kali disebut dalam kesiapsiagaan pemerintah perlu dibaca secara hati-hati.
Angka itu tidak berarti seluruh bendungan sedang menjalani operasi modifikasi cuaca.
Program di Pulau Jawa, misalnya, menargetkan bendungan tertentu berdasarkan kondisi tampungannya.
Baca juga: Mengatur Hujan untuk Menghadapi El Niño
Pembedaan tersebut penting.
Pengelolaan air berlangsung berdasarkan lokasi, kondisi hidrologis, pola operasi bendungan, serta kebutuhan yang harus dilayani.
Artinya, tekanan El Niño juga tidak muncul secara seragam.
Tetapi prinsipnya sama: ketika air masuk semakin sedikit, ruang pengelolaan semakin sempit.
Dan karena waduk mempunyai fungsi lintas sektor, konsekuensinya ikut menyebar.
Bukan Hanya Soal Berapa Banyak Air
Teknologi modifikasi cuaca dapat membantu menambah cadangan ketika kondisi atmosfer memungkinkan.
Pengaturan operasi bendungan dapat memperpanjang ketersediaan air.
Pola tanam dapat disesuaikan.
Namun El Niño membawa pesan yang lebih struktural.
Indonesia sedang membangun sistem energi dengan porsi energi terbarukan jauh lebih besar.
Pemerintah menargetkan sekitar 76 persen tambahan kapasitas pembangkit dalam RUPTL 2025–2034 berasal dari EBT dan storage.
Semakin besar porsi pembangkit yang memanfaatkan matahari, air, dan angin, semakin penting pula kemampuan sistem menghadapi perubahan kondisi alam.
Karena perubahan iklim tidak hanya menaikkan temperatur.
Ia juga mengubah pola hujan, meningkatkan risiko kekeringan dan kejadian ekstrem, serta memengaruhi ketersediaan sumber daya yang menjadi basis pembangkit terbarukan.
Maka ketahanan energi masa depan tidak cukup dibangun dengan mengejar sebanyak mungkin megawatt hijau.
Baca juga: Super El Niño Berpotensi Ubah Krisis Iklim Jadi Krisis Ekonomi Global Baru
Indonesia membutuhkan portofolio energi yang saling melengkapi, storage yang memadai, jaringan transmisi yang kuat, serta pengelolaan air yang melihat kebutuhan energi, pangan, dan masyarakat dalam satu sistem.
Hari ini, hilangnya 981,5 juta meter kubik tampungan bendungan di Jawa terutama terlihat sebagai persoalan air dan pertanian.
Tetapi angka itu menyimpan peringatan yang lebih besar.
Saat ketersediaan air semakin sulit diprediksi, sawah, kebutuhan masyarakat, dan pembangkit listrik akan semakin sering bergantung pada sumber daya yang sama.
El Niño 2026 karena itu bukan hanya ujian bagi waduk.
El Niño adalah ujian bagi desain transisi energi Indonesia.
- Foto: Ruyat Supriazi/ Pexels – Bendungan Jatiluhur di Purwakarta, Jawa Barat, menopang irigasi, air baku, dan pasokan listrik. Pada musim kemarau, waduk seperti ini menjadi titik penting dalam menjaga tiga kebutuhan sekaligus: pangan, masyarakat, dan energi.


