HUJAN yang dinanti belum tentu segera datang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan 2026/2027 mundur dari rerata klimatologis di 529 zona musim, yang mencakup 61,08% luas daratan Indonesia. Di wilayah yang mencakup 51,90% luas daratan, durasi musim hujan juga diprakirakan lebih pendek dari normal.
Angka itu bukan sekadar perubahan kalender. Setiap pekan tambahan tanpa hujan dapat mengubah keputusan petani tentang kapan menanam, cara pengelola waduk membagi air, dan lama warga harus menghadapi asap kebakaran hutan dan lahan. Ketika hujan akhirnya turun, sebagian daerah juga perlu bersiap menghadapi banjir dan longsor.
Kemarau Belum Selesai
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa El Niño berintensitas sangat kuat berlangsung bersamaan dengan pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD). Kombinasi keduanya, menurut BMKG, memperparah kekeringan dan membuat musim hujan datang lebih lambat serta berlangsung lebih singkat.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengingatkan bahwa awal musim hujan berbeda antarwilayah. BMKG memprakirakan 185 zona musim mulai memasuki musim hujan pada November dan 266 zona musim pada Desember 2026. Artinya, satu tanggal kedatangan hujan tidak bisa dipakai untuk seluruh Indonesia.
Baca juga: El Niño Membuat Air, Pangan, dan Listrik Berebut Waduk
Kondisi kering itu sudah terukur. Direktur Perubahan Iklim BMKG A. Fachri Radjab menyebut titik pengamatan dengan lebih dari 60 hari tanpa hujan tersebar di 25 provinsi. Pengamatan terpanjang yang dilaporkan BMKG mencapai 131 hari di Bantul. Sementara itu, pemantauan satelit BMKG pada 7–16 September mencatat titik panas berkepercayaan tinggi terbanyak di Kalimantan Tengah, disusul Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Papua Selatan. Titik panas menunjukkan lokasi yang perlu diperiksa; jumlahnya tidak boleh dibaca sebagai jumlah kebakaran yang telah terkonfirmasi.
Petani Menghitung Ulang
Dampak prakiraan itu mulai terlihat dalam keputusan di kebun dan sawah. Kepada Reuters, Ketua kelompok petani kakao APKAI Arif Zamroni mengatakan produksi biji kakao pada puncak panen Agustus-September turun hingga 15% dibandingkan Juni akibat kekeringan. Sebagian petani bahkan mendatangkan air dengan truk untuk menyirami tanaman.
Baca juga: El Niño Mengeringkan Kebun Pangan Pasifik
Ketua asosiasi petani tebu rakyat APTRI Soemitro Samadikoen juga memperkirakan penanaman tebu akan mundur karena petani biasanya menunggu awal musim hujan. Ia mengingatkan bahwa kekurangan air pada fase awal pertumbuhan dapat mengganggu hasil. Angka dari kedua organisasi petani itu menggambarkan kondisi komoditas dan kelompok yang mereka wakili, bukan proyeksi resmi produksi nasional.

BMKG menyarankan penyesuaian jadwal tanam dan pemilihan varietas dengan siklus lebih pendek. Namun, saran tersebut baru berguna jika diterjemahkan menjadi keputusan setempat: wilayah tanam mana yang kekurangan air, berapa lama pasokan irigasi dapat bertahan, dan kapan petani memperoleh informasi yang cukup untuk mengubah rencana mereka.
Asap Menunggu Hujan?
Kemarau yang memanjang juga memperbesar risiko karhutla. BMKG meminta kewaspadaan khusus sepanjang September-Oktober dan kesiapan menghadapi kualitas udara yang tidak sehat berkepanjangan. Dalam prakiraan 18-24 September, lembaga itu mengaitkan kondisi atmosfer yang kering dengan meningkatnya potensi kebakaran serta meluasnya kabut asap.
Baca juga: Mengatur Hujan untuk Menghadapi El Niño
Tetapi cuaca kering tidak menjelaskan siapa yang menyalakan api. Ekolog lanskap David Gaveau, yang memantau kebakaran dan deforestasi melalui Nusantara Atlas, menjelaskan bahwa lahan gambut yang dikeringkan dapat terbakar di bawah permukaan dan sulit dipadamkan. El Niño memperparah kondisi yang memungkinkan api meluas; aktivitas manusia tetap harus diperiksa sebagai sumber penyalaan. Perbedaan ini penting agar penanganan karhutla tidak berhenti pada harapan bahwa hujan akan segera turun.
Peringatan Menjadi Tindakan
Ada sisi lain yang perlu disiapkan bersamaan. BMKG memperkirakan musim hujan akan lebih basah dari normal di 147 zona musim yang mencakup 18,55% luas daratan. Karena itu, hujan yang datang terlambat tidak otomatis mengakhiri seluruh risiko. BMKG meminta daerah menyiapkan drainase dan evakuasi untuk menghadapi potensi banjir dan longsor pada awal hingga puncak musim hujan.
Baca juga: El Niño Datang, Mengapa Jawabannya Masih Beras?
Prakiraan nasional telah tersedia. Ukuran keberhasilannya kini ada pada keputusan yang bisa diperiksa di daerah. Jadwal tanam yang disesuaikan, pembagian air yang diumumkan, pencegahan api sebelum lahan terbakar, serta kesiapan menghadapi hujan deras setelah kemarau panjang.
Hujan boleh datang terlambat. Respons pemerintah daerah tidak punya alasan untuk ikut terlambat. ***
- BMRP Jawa Tengah – Kepala BRMP Jawa Tengah Arif Surahman meninjau jaringan irigasi dan lahan pertanian di Wonogiri, Jawa Tengah, 16 September 2026. Pengelolaan air menjadi penting saat musim kemarau berlangsung lebih lama.


