Hamdani S Rukiah

Lima Teknologi untuk Lindungi Pantura, Cukupkah Menahan Krisis Pesisir?

PEMERINTAH mulai menggeser respons terhadap krisis Pantai Utara (Pantura) Jawa dari sekadar mitigasi menuju pendekatan berbasis teknologi. Dalam praktiknya, ini berarti satu hal, teknologi dapat membantu melindungi pesisir, tetapi tidak cukup tanpa tata kelola terintegrasi dan pemulihan ekosistem. Perlindungan pesisir adalah serangkaian intervensi untuk mengurangi dampak erosi, banjir rob, dan kenaikan muka air laut terhadap…

Baca Selengkapnya...

Pantura Jawa Kehilangan Daya Dukung, Koridor Ekonomi Nasional di Ujung Risiko

PANTAI Utara (Pantura) Jawa sedang kehilangan daya dukungnya sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Dalam praktiknya, ini berarti satu hal, risiko terhadap infrastruktur, pangan, dan permukiman di koridor ekonomi utama Indonesia semakin nyata dan terakumulasi. Daya dukung pesisir adalah kemampuan suatu wilayah pantai untuk menopang aktivitas manusia tanpa mengalami kerusakan ekologis yang mengganggu fungsi dasarnya. Erosi…

Baca Selengkapnya...

Dari Sampah ke Produk Premium, Bisakah Model Ini Mengubah Krisis Plastik?

INDONESIA memproduksi antara 7,8 hingga 12,4 juta ton sampah plastik per tahun, dengan tren yang terus meningkat seiring tingginya penggunaan plastik sekali pakai. Sebagian besar tidak dikelola secara optimal, dan sebagian berakhir di lingkungan terbuka, termasuk laut. Dalam konteks ini, sampah plastik bukan hanya persoalan lingkungan. Tapi juga mencerminkan celah dalam sistem pengelolaan. Di titik…

Baca Selengkapnya...

Outcome Bond: Saat Restorasi Alam Mulai Dibiayai seperti Infrastruktur

RESTORASI ekosistem kini mulai diperlakukan sebagai aset investasi. Instrumen bernama outcome bond memungkinkan investor memperoleh imbal hasil berdasarkan hasil lingkungan yang terukur, bukan sekadar klaim hijau di atas kertas. Model ini sedang diuji di Eastern Cape, Afrika Selatan. World Bank menerbitkan obligasi senilai US$120 juta untuk membiayai pemulihan lanskap Albany thicket. Berbeda dari green bond…

Baca Selengkapnya...

Pengakuan Hutan Adat Dipercepat, Siapkah Sistemnya?

PERCEPATAN pengakuan hutan adat seluas 1,4 juta hektare bukan sekadar agenda sosial. Ini adalah instrumen kebijakan yang berpotensi langsung memengaruhi strategi iklim Indonesia. Dalam konteks ini, pengakuan hutan adat dapat menjadi alat efektif untuk menekan deforestasi, tetapi hanya jika sistem implementasinya siap bekerja di tingkat tapak. Pertemuan antara Kementerian Kehutanan dan Ford Foundation menegaskan arah…

Baca Selengkapnya...

Dieng: Di Balik Lanskap Indah, Ada Jejak Paparan Geogenik

PENGEMBANGAN energi panas bumi di Indonesia tidak sepenuhnya bebas risiko. Studi terbaru di kawasan Dataran Tinggi Dieng menunjukkan bahwa sistem geotermal juga membawa jalur paparan unsur geogenik yang dapat berinteraksi langsung dengan air, tanah, pangan, dan manusia. Temuan ini memperluas cara pandang terhadap geotermal. Bukan hanya sebagai sumber energi bersih, tetapi juga sebagai environmental exposure…

Baca Selengkapnya...

Bank Masuk ke Pasar Karbon, Skala Dampak Masih Jadi Tantangan

PERBANKAN mulai bergeser dari sekadar penyedia pembiayaan hijau menjadi penghubung langsung antara individu dan pasar karbon. Langkah ini terlihat dari strategi Bank Mandiri yang tidak hanya memperbesar portofolio pembiayaan berkelanjutan, tetapi juga membuka akses offset emisi bagi nasabah ritel. Per Maret 2026, portofolio pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri mencapai sekitar Rp320 triliun, tumbuh 8,8% secara tahunan….

Baca Selengkapnya...

98 Mata Air Menurun di Bandung Utara, Sinyal Krisis Air dari Hulu

PENURUNAN debit mata air di Bandung Utara menunjukkan bahwa krisis air di Indonesia bukan semata akibat perubahan iklim, tetapi juga akibat melemahnya perlindungan zona resapan dalam kebijakan tata ruang. Temuan ini menegaskan bahwa tekanan terhadap sumber daya air sudah terjadi di hulu, jauh sebelum krisis terasa di hilir. Data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional…

Baca Selengkapnya...

SAF Indonesia: Produksi Dimulai, Pasar Belum Terbentuk

Masalahnya bukan pada suplai, tetapi pada bagaimana permintaan diciptakan. INDONESIA telah memasuki fase baru dalam pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Produksi tidak lagi berhenti pada tahap uji coba. Tapi, mulai bergerak ke skala komersial. Namun di saat yang sama, permintaan domestik terhadap SAF belum berkembang secara signifikan. Kondisi ini menciptakan situasi yang tidak sepenuhnya stabil….

Baca Selengkapnya...

Geothermal untuk Data Center, Strategi Baru atau Pergeseran Prioritas Energi?

PT PERTAMINA Geothermal Energy Tbk berencana masuk ke bisnis data center dengan memanfaatkan listrik dari panas bumi. Langkah ini muncul di tengah lonjakan kebutuhan infrastruktur digital di Indonesia. Ekspansi ini menandai integrasi awal antara energi bersih dan infrastruktur digital, sekaligus membuka isu baru terkait alokasi energi nasional. Konvergensi Energi dan Data Integrasi energi–digital adalah model…

Baca Selengkapnya...