Ekonomi Hijau di Indonesia, Mengapa Transisi Tak Bisa Ditunda

TRANSFORMASI menuju ekonomi hijau semakin menjadi agenda utama dalam kebijakan pembangunan global. Di tengah krisis iklim, degradasi lingkungan, dan tekanan terhadap sumber daya alam, banyak negara mulai mengarahkan strategi ekonominya menuju model pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

Indonesia tidak terkecuali.

Pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mulai memasukkan konsep ekonomi hijau ke dalam berbagai kebijakan pembangunan nasional, termasuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan strategi menuju net-zero emissions pada 2060 atau lebih cepat.

Namun pertanyaan mendasar masih sering muncul, apa sebenarnya yang dimaksud dengan ekonomi hijau?

Ekonomi Hijau sebagai Model Pembangunan Baru

Ekonomi hijau adalah model pembangunan ekonomi yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan manusia dan keadilan sosial sekaligus mengurangi risiko lingkungan dan kelangkaan sumber daya alam.

Definisi ini banyak digunakan oleh United Nations Environment Programme (UNEP).

Dalam ekonomi hijau, pertumbuhan ekonomi tidak lagi bergantung pada eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Sebaliknya, pembangunan diarahkan pada efisiensi sumber daya, penggunaan energi bersih, serta perlindungan ekosistem.

Secara sederhana, ekonomi hijau mencoba menjawab satu tantangan besar pembangunan modern, bagaimana ekonomi dapat terus tumbuh tanpa merusak sistem lingkungan yang menopang kehidupan.

Mengapa Ekonomi Hijau Menjadi Agenda Global?

Dalam dua dekade terakhir, berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa model pembangunan konvensional semakin menghadapi batas ekologis.

Krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta meningkatnya polusi menjadi indikator bahwa pertumbuhan ekonomi global perlu bertransformasi.

Baca juga: Startup Iklim Jadi Mesin Baru Ekonomi Hijau Indonesia

Menurut laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), emisi gas rumah kaca global harus turun secara drastis dalam beberapa dekade ke depan untuk membatasi kenaikan suhu bumi di bawah 1,5°C.

Pada saat yang sama, ekonomi hijau juga dilihat sebagai peluang pertumbuhan baru.

Laporan International Labour Organization (ILO) memperkirakan bahwa transisi menuju ekonomi hijau berpotensi menciptakan sekitar 24 juta pekerjaan baru di dunia pada 2030.

Mengapa Ekonomi Hijau Penting bagi Indonesia?

Bagi Indonesia, ekonomi hijau memiliki dimensi yang sangat strategis.

Sebagai negara dengan kekayaan sumber daya alam besar, Indonesia menghadapi tantangan ganda, menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus memastikan keberlanjutan lingkungan.

Tekanan terhadap hutan, lahan, sumber daya air, serta emisi karbon dari sektor energi dan industri menjadi isu penting dalam pembangunan nasional.

Indonesia sendiri telah menetapkan target Net Zero Emissions pada 2060 atau lebih cepat, yang berarti seluruh sektor ekonomi harus secara bertahap mengurangi emisi karbon.

Baca juga: REC di Bursa Berjangka, Instrumen Baru Ekonomi Hijau Indonesia

Transformasi menuju ekonomi hijau mencakup berbagai sektor utama, antara lain:

  • transisi energi menuju energi terbarukan
  • pengembangan ekonomi sirkular
  • perlindungan hutan dan ekosistem
  • industri rendah karbon
  • pembangunan kota berkelanjutan

Jika dikelola dengan baik, transisi ini tidak hanya mengurangi risiko lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi Indonesia.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Ekonomi Hijau dan Daya Saing Masa Depan

Perubahan menuju ekonomi rendah karbon juga semakin memengaruhi sistem perdagangan global.

Banyak negara mulai menerapkan standar keberlanjutan yang lebih ketat terhadap produk impor, termasuk dalam hal emisi karbon dan jejak lingkungan.

Uni Eropa misalnya mulai menerapkan kebijakan seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang mengaitkan perdagangan dengan emisi karbon.

Baca juga: Ekonomi Hijau, Jalan Baru Indonesia Menuju Pertumbuhan Inklusif

Artinya, daya saing industri ke depan tidak hanya ditentukan oleh biaya produksi, tetapi juga oleh intensitas emisi dan efisiensi sumber daya.

Bagi Indonesia, hal ini berarti transformasi menuju ekonomi hijau bukan sekadar agenda lingkungan, tetapi juga strategi ekonomi jangka panjang.

Tantangan Transisi Ekonomi Hijau

Meskipun menawarkan peluang besar, transisi menuju ekonomi hijau juga menghadapi berbagai tantangan.

Beberapa di antaranya meliputi:

  • kebutuhan investasi besar untuk infrastruktur energi bersih
  • transformasi teknologi industri
  • perubahan model bisnis
  • kesiapan sumber daya manusia

Selain itu, kebijakan publik yang konsisten dan dukungan pembiayaan juga menjadi faktor penting dalam mempercepat transisi.

Karena itu, banyak negara mulai mengembangkan strategi green finance untuk mendukung investasi pada sektor-sektor yang berkontribusi terhadap ekonomi rendah karbon.

Masa Depan Ekonomi Hijau Indonesia

Bagi Indonesia, ekonomi hijau berpotensi menjadi fondasi pembangunan masa depan.

Negara ini memiliki berbagai modal penting untuk mengembangkan ekonomi berkelanjutan, mulai dari potensi energi terbarukan, sumber daya alam, hingga pasar domestik yang besar.

Baca juga: Bank Dunia Beberkan Peluang Ekonomi Hijau Indonesia

Namun, keberhasilan transisi ini akan sangat bergantung pada kemampuan mengintegrasikan kebijakan ekonomi, lingkungan, dan industri secara lebih terkoordinasi.

Jika berhasil, ekonomi hijau tidak hanya akan membantu mengurangi tekanan terhadap lingkungan, tetapi juga memperkuat daya saing ekonomi Indonesia di tengah perubahan besar sistem ekonomi global. ***

  • Foto: Ilustrasi/ Mikhail Nilov/ Pexels Ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan menjadi salah satu elemen penting dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon dan kota berkelanjutan.
Bagikan