Bank Masuk ke Pasar Karbon, Skala Dampak Masih Jadi Tantangan

PERBANKAN mulai bergeser dari sekadar penyedia pembiayaan hijau menjadi penghubung langsung antara individu dan pasar karbon. Langkah ini terlihat dari strategi Bank Mandiri yang tidak hanya memperbesar portofolio pembiayaan berkelanjutan, tetapi juga membuka akses offset emisi bagi nasabah ritel.

Per Maret 2026, portofolio pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri mencapai sekitar Rp320 triliun, tumbuh 8,8% secara tahunan. Dari angka tersebut, pembiayaan hijau sebesar Rp167 triliun dan sosial Rp153 triliun. Pangsa pasar lebih dari 35% di antara bank besar nasional menempatkan perseroan sebagai salah satu pemain dominan dalam lanskap pembiayaan hijau domestik.

Namun, arah strateginya kini tidak berhenti di pembiayaan.

Masuk ke Level Individu

Perubahan paling signifikan adalah masuknya bank ke ranah perilaku emisi individu. Melalui fitur Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) di aplikasi Livin’, nasabah dapat menghitung jejak karbon, melakukan offset, hingga membeli sertifikat karbon secara langsung.

Langkah ini mengubah posisi bank dari intermediary finansial menjadi platform partisipasi publik dalam ekonomi karbon.

Baca juga: Retailisasi Pasar Karbon, Solusi Transisi atau Sekadar Simbol?

Kolaborasi dengan IDXCarbon turut memperluas akses pasar karbon yang sebelumnya didominasi korporasi. Secara konseptual, ini menandai fase awal retailisasi pasar karbon di Indonesia.

Namun, pertanyaannya bukan lagi soal akses, melainkan skala.

Skala vs Partisipasi

Secara sederhana, carbon offset memungkinkan individu menyeimbangkan emisi dengan mendanai proyek penurunan emisi. Tetapi kontribusi ritel masih jauh dari cukup untuk mengejar target net zero emission (NZE) nasional.

Sebagai gambaran, satu proyek seperti PLTBg Sei Mangkei milik Pertamina NRE mampu menekan emisi hingga sekitar 265 ribu tCO2e. Angka ini signifikan, tetapi tetap kecil dibanding kebutuhan penurunan emisi nasional yang mencapai ratusan juta ton per tahun.

Baca juga: Eropa Menyederhanakan ESG, dari Beban Pelaporan ke Manajemen Risiko

Dengan kata lain, retailisasi membuka partisipasi, tetapi belum menjawab kebutuhan skala.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Dominasi dan Arah Pembiayaan

Di sisi lain, dominasi Bank Mandiri dalam pembiayaan hijau membawa dua sisi. Di satu sisi, leadership mempercepat aliran dana ke sektor strategis seperti energi terbarukan, efisiensi energi, dan perumahan inklusif.

Sekitar 77% pipeline pembiayaan diarahkan ke sektor yang selaras dengan agenda pembangunan nasional. Ini menunjukkan adanya alignment antara strategi bisnis dan arah kebijakan.

Baca juga: Inggris Hapus Pajak Tambahan Karbon Setelah Batubara Nol

Namun, konsentrasi pembiayaan pada beberapa pemain besar juga memunculkan pertanyaan tentang diversifikasi risiko dan kedalaman pasar. Transisi energi membutuhkan ekosistem pembiayaan yang lebih luas, tidak hanya bertumpu pada satu atau dua institusi.

Dari Green Bond ke Gaya Hidup

Transformasi juga terlihat di sisi pendanaan dan produk. Sepanjang 2025, Bank Mandiri menerbitkan green bond dan sustainability bond senilai Rp10 triliun. Dana ini disalurkan ke berbagai proyek berkelanjutan, termasuk pengembangan waste-to-energy.

Di level ritel, pendekatan diperluas melalui pembiayaan kendaraan listrik, kartu debit berbahan daur ulang, hingga fitur penghitungan jejak karbon. Ini menunjukkan pergeseran dari pembiayaan proyek menuju pembentukan ekosistem gaya hidup rendah karbon.

Baca juga: Rp794 Triliun per Tahun, Siapa yang akan Biayai Transisi Energi Indonesia?

Langkah ini penting. Tetapi kembali, dampaknya akan sangat bergantung pada adopsi dan konsistensi penggunaan oleh nasabah.

Operasional vs Dampak Nyata

Bank Mandiri juga menargetkan Net Zero Operation pada 2030, dengan penurunan emisi operasional sebesar 32% dibandingkan baseline 2019. Upaya ini dilakukan melalui bangunan hijau, kendaraan listrik, dan instalasi panel surya.

Namun dalam konteks perbankan, emisi terbesar tidak berasal dari operasional, melainkan dari portofolio pembiayaan.

Artinya, keberhasilan transisi tidak hanya diukur dari efisiensi internal, tetapi dari arah pembiayaan yang didorong ke sektor ekonomi secara keseluruhan.

Arah Baru, Tantangan Lama

Strategi Bank Mandiri menunjukkan satu hal jelas, peran bank dalam ekonomi hijau sedang berubah. Dari penyedia modal, menjadi penghubung ekosistem, bahkan hingga ke level individu.

Tetapi tantangan utamanya tetap sama.
Bagaimana mengubah partisipasi menjadi dampak nyata dalam skala besar.

Baca juga: Pasar Karbon Indonesia: Instrumen Baru, Kredibilitas Lama yang Diuji

Retailisasi pasar karbon adalah langkah awal.
Namun tanpa integrasi kebijakan yang lebih kuat dan ekspansi pembiayaan ke sektor berdampak tinggi, ini berisiko berhenti sebagai simbol, bukan penggerak transisi.***

  • Foto: Ilustrasi/  ArtHouse Studio/ Pexels Akses terhadap penghitungan dan offset emisi kini mulai masuk ke genggaman individu melalui platform digital, menandai pergeseran peran bank dalam ekonomi karbon.
Bagikan