Mengatur Hujan untuk Menghadapi El Niño

PEMERINTAH mulai memperkuat operasi modifikasi cuaca (OMC) di berbagai wilayah Indonesia sebagai langkah antisipasi menghadapi El Niño yang diperkirakan aktif mulai pertengahan 2026. Langkah ini bukan lagi sekadar respons cuaca ekstrem, tetapi mulai bergerak menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan air, pangan, energi, dan pengendalian kebakaran hutan nasional.

Operasi modifikasi cuaca adalah teknik intervensi atmosfer untuk meningkatkan peluang hujan di wilayah tertentu melalui penyemaian awan menggunakan bahan khusus. Teknologi ini digunakan untuk menjaga cadangan air, mengurangi risiko kekeringan, hingga mengendalikan kebakaran hutan dan lahan.

Presiden Prabowo Subianto meminta BMKG memperkuat operasi tersebut karena El Niño diperkirakan datang bersamaan dengan puncak musim kemarau tahun ini.

Pemerintah mulai melihat operasi modifikasi cuaca sebagai instrumen mitigasi risiko nasional untuk menjaga stabilitas pangan, air, energi, dan lingkungan di tengah ancaman El Niño 2026.

Menjaga Air dari Langit

Kepala BMKG Teuku Faisal Fatani mengatakan operasi modifikasi cuaca akan dilakukan bertahap di berbagai wilayah Indonesia untuk menjaga ketersediaan air di bendungan, waduk, embung, dan daerah tangkapan air.

Langkah ini menjadi penting karena BMKG memperkirakan El Niño mulai aktif pada Juni 2026 dan dapat berlangsung hingga Maret–Mei 2027 dengan intensitas moderate hingga kuat.

Artinya, musim kemarau tahun ini berpotensi lebih panjang dan lebih kering dibandingkan rata-rata kondisi 30 tahun terakhir.

Dalam konteks tersebut, pemerintah mulai memandang cadangan air sebagai bagian penting dari ketahanan nasional.

Baca juga: Super El Niño Berpotensi Ubah Krisis Iklim Jadi Krisis Ekonomi Global Baru

Indonesia saat ini memiliki sekitar 220 bendungan yang menjadi penopang irigasi pertanian, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), hingga pasokan air baku masyarakat. Ketika musim kering memanjang, tekanan terhadap sistem air nasional juga ikut meningkat.

Faisal mencontohkan operasi modifikasi cuaca sebelumnya telah dilakukan di kawasan Danau Toba bersama Perum Jasa Tirta I dan Inalum untuk menjaga tinggi muka air tetap stabil.

Langkah itu dilakukan agar PLTA tetap beroperasi, irigasi pertanian tetap berjalan, dan kebutuhan air masyarakat tidak terganggu selama musim kemarau.

Di titik ini, operasi modifikasi cuaca mulai berubah makna. OMC tidak lagi dipandang hanya sebagai “teknologi membuat hujan”, tetapi sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas ekonomi dan layanan publik.

Dari Karhutla ke Ketahanan Ekonomi

Selain ancaman kekeringan, BMKG juga mulai memperkuat mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas.

Wilayah tersebut meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan yang memiliki banyak kawasan gambut rawan terbakar saat kemarau panjang.

Baca juga: El Nino 2026: Stress Test Ketahanan Pangan, Energi, dan Air Indonesia

BMKG bersama kementerian dan pemerintah daerah kini menggunakan pendekatan preventif dengan memantau hotspot dan kondisi air tanah gambut sebelum kebakaran terjadi.

Pendekatan ini berbeda dibanding pola lama yang lebih fokus memadamkan api setelah kebakaran membesar.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Menurut BMKG, operasi modifikasi cuaca dilakukan ketika permukaan air tanah gambut mulai turun hingga batas tertentu agar kelembapan lahan tetap terjaga dan tidak mudah terbakar.

Pendekatan tersebut dinilai membantu menekan risiko karhutla dibandingkan satu dekade lalu.

Baca juga: Krisis Iklim Global Menekan Arus Laut Selatan Jawa

Karhutla sendiri bukan hanya persoalan lingkungan. Asap dari kebakaran gambut dapat mengganggu kesehatan publik, aktivitas ekonomi, transportasi, hingga kualitas udara lintas wilayah.

Implikasi kebijakannya menjadi semakin jelas. Pengendalian risiko iklim kini mulai bergeser dari respons bencana menjadi strategi pencegahan dan perlindungan ekonomi nasional.

El Niño dan Era Intervensi Iklim

Kemunculan El Niño 2026 memperlihatkan bahwa perubahan iklim kini semakin mendorong negara untuk melakukan intervensi lebih aktif terhadap risiko cuaca.

Di banyak negara, adaptasi iklim tidak lagi hanya berbentuk pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga penguatan sistem prediksi cuaca, rekayasa atmosfer, hingga manajemen air berbasis risiko.

Indonesia tampaknya mulai bergerak ke arah yang sama.

Baca juga: El Nino Bisa Diprediksi 15 Bulan, tapi Sistem Masih Reaktif

Namun tantangannya tetap besar. Operasi modifikasi cuaca tidak dapat sepenuhnya menghilangkan dampak El Niño, terutama jika intensitas fenomena tersebut berkembang menjadi kuat.

Karena itu, penguatan OMC tetap perlu diiringi dengan strategi yang lebih luas seperti efisiensi air, perlindungan kawasan gambut, penguatan sistem pangan, hingga kesiapan energi nasional menghadapi musim kering panjang.

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting. Di era krisis iklim, pengelolaan cuaca mulai berubah dari urusan meteorologi menjadi bagian dari strategi ketahanan negara. ***

  • Foto: Dok-BMKG: Pesawat operasi modifikasi cuaca melintasi awan sebagai bagian dari mitigasi risiko El Niño dan penguatan ketahanan air nasional.
Bagikan