Memasuki akhir Juni 2026, krisis pangan mulai membayangi Papua Nugini. Frost, kekeringan, dan air yang menyusut merusak kebun pangan ribuan keluarga di wilayah Highlands.
EL Niño tidak selalu datang sebagai bencana yang tampak dramatis.
Di Papua Nugini, krisis itu muncul dalam bentuk kebun yang memutih oleh embun beku. Sungai yang menyusut. Sekolah yang mengurangi jam belajar. Keluarga yang mulai menghitung berapa lama sisa makanan bisa bertahan.
Dalam beberapa pekan terakhir, wilayah Highlands menghadapi tekanan berat setelah El Niño membawa kekeringan panjang, penurunan sumber air, dan frost yang merusak kebun warga.
The Guardian melaporkan pada 25 Juni 2026, mengutip Oxfam Papua Nugini, negara itu menjadi wilayah Pasifik yang paling terdampak El Niño saat ini. Curah hujan disebut berada di bawah rata-rata hampir setahun. Kondisi itu diperparah frost di dataran tinggi dan serangan hama invasif yang merusak tanaman serta ternak.
Kebun yang Hilang
Di banyak komunitas Highlands, kebun bukan sekadar lahan produksi. Kebun adalah dapur, tabungan, dan sumber uang tunai keluarga.
Ketika kentang, sayuran, dan pangan pokok rusak oleh frost, dampaknya langsung terasa di meja makan. Rumah tangga kehilangan pangan. Petani kehilangan pendapatan. Anak-anak dan lansia menghadapi risiko gizi yang lebih besar.
Oxfam PNG memperkirakan hingga 3 juta orang di Papua Nugini dapat terdampak secara nasional. Dari jumlah itu, sekitar 1,9 juta berada di kawasan Highlands.
Baca juga: Super El Niño Berpotensi Ubah Krisis Iklim Jadi Krisis Ekonomi Global Baru
Sebagian komunitas bahkan melaporkan pasokan pangan hanya cukup untuk dua hingga tiga bulan. Dalam situasi seperti ini, keluarga biasanya mulai mengurangi porsi makan, menurunkan variasi pangan, atau menjual aset kecil untuk bertahan.
Di Tambul, Provinsi Western Highlands, laporan lapangan menunjukkan frost merusak kebun pangan warga pada pekan ketiga Juni 2026. Di Kundiawa-Gembogl, Chimbu, warga juga melaporkan kebun tertutup frost dan tanaman rusak.

Air Ikut Menyusut
Krisis ini tidak berhenti di pangan.
Kekeringan membuat sejumlah sungai dan anak sungai mengering. Akses air bersih makin sulit. Beberapa sekolah dilaporkan mengurangi jam operasional karena panas dan kekurangan air.
Bagi wilayah yang sangat bergantung pada pertanian lokal, tekanan air membuat pemulihan menjadi lebih rumit. Tanaman rusak tidak mudah diganti ketika tanah kehilangan kelembapan dan sumber air melemah.
Baca juga: El Nino Bisa Diprediksi 15 Bulan, tapi Sistem Masih Reaktif
Layanan Cuaca Nasional Papua Nugini menjelaskan, El Niño menggeser pola hujan dari wilayah itu dan menurunkan tingkat kelembapan. Berkurangnya tutupan awan membuat panas lebih cepat lepas pada malam hari. Di Highlands, suhu dapat turun tajam hingga memicu frost yang merusak tanaman.
Risiko Pasifik
Papua Nugini bukan kasus tunggal.
Oxfam PNG memperingatkan sekitar 4,7 juta orang di kawasan Pasifik menghadapi peningkatan risiko lapar, kemiskinan, dan penyakit akibat kekeringan, curah hujan tidak menentu, serta frost terkait El Niño.
Vanuatu, Fiji, Kepulauan Solomon, Samoa, dan Tonga menghadapi kondisi kekeringan yang memburuk. Sementara itu, Kiribati dan Tuvalu menghadapi risiko lain berupa banjir dan kenaikan muka laut.
Artinya, krisis iklim di Pasifik tidak bergerak dalam satu bentuk. Di satu tempat, air menghilang. Di tempat lain, air justru datang berlebihan. Keduanya menekan sistem pangan, kesehatan, dan ketahanan komunitas.
Pelajaran Adaptasi
Krisis Papua Nugini menunjukkan satu hal penting. Ketahanan pangan tidak cukup dibaca dari angka produksi nasional.
Yang menentukan justru daya tahan sistem lokal. Apakah ada peringatan dini yang dipahami warga? Apakah varietas pangan lebih tahan terhadap cuaca ekstrem? Apakah sumber air terlindungi? Apakah bantuan bisa menjangkau desa sebelum pasokan habis?
Baca juga: El Niño 2026 Tidak Ekstrem, tapi Kemarau Bisa Lebih Panjang
Pemerintah Papua Nugini telah meminta provinsi dan distrik bersiap menghadapi kemungkinan musim kering luar biasa dan berkepanjangan. Arahnya bukan panik, melainkan memetakan wilayah rentan, menjaga sumber air, dan memperkuat kesiapsiagaan lebih awal.
Bagi negara kepulauan dan wilayah tropis, termasuk Indonesia, pelajaran ini relevan. Cuaca ekstrem makin sering menguji pertanian, air, dan kehidupan rumah tangga petani.
El Niño di Papua Nugini memperlihatkan wajah krisis iklim yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bukan hanya suhu yang berubah. Tetapi juga makanan, sekolah, pendapatan, dan rasa aman keluarga. ***
- Foto: Ezzie Boiwie via The Guardian – Tanaman pangan di Tambul, Papua Nugini, rusak beberapa hari setelah frost melanda wilayah tersebut.


