Pembangkit panas bumi yang sudah beroperasi ternyata belum tentu selesai menghasilkan nilai. Panas yang tersisa masih dapat dimanfaatkan untuk membuat listrik tambahan. Ulubelu menjadi salah satu ujian apakah optimalisasi aset lama bisa mempercepat penambahan energi bersih tanpa selalu memulai dari eksplorasi baru.
PENGEMBANGAN panas bumi biasanya membawa bayangan tentang eksplorasi, pengeboran sumur, pengujian reservoir, pembangunan pipa, hingga berdirinya pembangkit baru.
Namun proyek yang sedang bergerak di Ulubelu, Lampung, menawarkan jalur berbeda.
Pada Agustus 2026, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk atau PGE mencantumkan pengadaan jasa Engineering, Procurement, Construction and Commissioning (EPCC) PLTP Ulubelu Binary Unit berkapasitas 30 megawatt (MW). Proyek itu ditujukan untuk memanfaatkan energi panas dari sistem geothermal yang sudah beroperasi, bukan memulai seluruh proses dari lapangan kosong.
Ini membuat pertanyaan pengembangan panas bumi berubah.
Bukan hanya di mana sumur baru harus dibor?
Tetapi juga berapa banyak energi yang sebenarnya masih tersisa dari pembangkit yang sudah ada?
Panas Belum Selesai
Pembangkit panas bumi memanfaatkan panas dari bawah permukaan untuk menghasilkan uap yang menggerakkan turbin. Tetapi setelah proses utama berlangsung, tidak seluruh energi termal selalu berubah menjadi listrik.
Sebagian masih tersimpan pada fluida panas, termasuk brine atau air panas hasil pemisahan uap. Dalam kondisi temperatur dan laju alir yang sesuai, panas tersebut dapat dipindahkan melalui heat exchanger ke fluida kedua yang memiliki titik didih lebih rendah.
Fluida kedua menguap, memutar turbin lain, lalu menghasilkan listrik tambahan.
Pendekatan inilah yang digunakan dalam sistem binary, bottoming unit, atau dalam konteks pengembangan PGE disebut sebagai bagian dari teknologi co-generation.
Baca juga; Panas Bumi Besar, Mengapa Listriknya Masih Kecil?
Ulubelu menjadi proyek penting karena PGE dan PLN Indonesia Power telah menyepakati pengembangan Ulubelu Bottoming Unit 30 MW dan Lahendong Bottoming Unit 1 sebesar 15 MW. Total awalnya mencapai 45 MW.
Direktur Utama PGE Julfi Hadi melihat keuntungan utamanya berada pada proses pengembangan.
“Penerapan teknologi co-generation dapat mempersingkat proses pengembangan pembangkitan listrik dengan biaya operasi yang lebih efisien.”
Menurut PGE, efisiensi itu antara lain muncul karena proyek memanfaatkan energi yang sudah tersedia sehingga tidak perlu kembali melewati tahap eksplorasi seperti pada pengembangan lapangan baru.
Sustain Bites Episode 11 — Panas Bumi Sudah Bikin Listrik, Kok Bisa Bikin Lagi?
Video: https://www.youtube.com/watch?v=SXj7e5hvBgA&t=3s
Dari 45 ke 230 MW
Ulubelu dan Lahendong baru menjadi titik awal.
Dalam laporan kinerja kuartal pertama 2026, PGE menyebut portofolio proyek co-generation mencapai hingga 230 MW.
Selain Ulubelu Binary Unit 30 MW, daftar pengembangan mencakup Lahendong Low Pressure 15 MW, Lahendong Binary Unit 15 MW, Lumut Balai Binary Unit 10 MW, Sibayak Binary Unit 5 MW, dan Hululais Binary Unit 30 MW. Ulubelu ditargetkan mencapai commercial operation date atau COD pada 2027.
Angka 230 MW memang belum sebanding dengan pembangunan portofolio geothermal baru dalam skala gigawatt.
Tetapi justru di situlah nilai strategisnya.
Baca juga: Panas Bumi Lampaui Listrik, Strategi PGE Menuju 100 Tahun Energi Hijau Indonesia
Co-generation tidak dimaksudkan menggantikan eksplorasi lapangan baru. Teknologi ini menawarkan lapisan kapasitas tambahan dari infrastruktur dan sumber panas yang sebagian sudah tersedia.
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi bahkan menyebut Ulubelu diharapkan menjadi “model yang dapat direplikasi” pada wilayah kerja eksisting lainnya seperti Lahendong dan Lumut Balai.
Artinya, keberhasilan Ulubelu bukan hanya soal tambahan 30 MW.
Yang diuji adalah apakah model itu dapat menjadi pola untuk mengambil lebih banyak energi dari aset geothermal lain yang sudah bekerja.
Tetap Ada Batas
Tetapi panas yang tersisa tidak otomatis berarti listrik murah.
Setiap lapangan mempunyai temperatur fluida, laju aliran, karakter reservoir, dan kondisi fasilitas yang berbeda. Binary unit juga membutuhkan investasi baru, heat exchanger, turbin, generator, sistem pendinginan, hingga sambungan ke jaringan listrik.
Karena itu, pertanyaan akhirnya tetap ekonomi.
Berapa listrik tambahan yang bisa diproduksi, berapa investasi yang dibutuhkan, dan berapa biaya per kilowatt jam ketika pembangkit beroperasi?
Fakta bahwa eksplorasi baru dapat dihindari tidak otomatis membuat setiap proyek binary layak dibangun.
Justru penilaian teknis dan keekonomian menjadi penting agar optimalisasi tidak berubah menjadi investasi tambahan untuk panas sisa yang terlalu rendah kualitasnya atau terlalu mahal dikonversi menjadi listrik.

Di tingkat nasional, ruang pengembangan memang masih besar.
Kementerian ESDM mencatat sumber daya panas bumi Indonesia mencapai 23.742 MW, sementara kapasitas listrik panas bumi yang terpasang pada 2025 sekitar 2.744 MW.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menggambarkan jarak itu dengan sederhana.
“Baru kurang lebih sekitar 10 persen yang bisa kita kelola.”
Menurut Bahlil, masih terdapat sekitar 90 persen potensi yang belum dimanfaatkan.
Angka tersebut menunjukkan Indonesia tetap membutuhkan pengembangan lapangan baru jika ingin menaikkan kapasitas geothermal secara signifikan.
Namun kebutuhan membangun yang baru tidak menghapus kebutuhan memperbaiki produktivitas yang lama.
Energi dari Efisiensi
Di sinilah co-generation menarik dilihat sebagai bagian dari strategi transisi energi yang lebih luas.
Selama ini penambahan energi bersih hampir selalu dibayangkan sebagai penambahan pembangkit: PLTS baru, PLTA baru, turbin angin baru, atau PLTP baru.
Padahal, ada sumber energi lain yang tidak selalu terlihat di peta proyek baru, yakni efisiensi dari aset yang sudah bekerja.
Satu pembangkit yang mampu menghasilkan lebih banyak listrik dari sumber panas yang sama berarti sebagian kebutuhan kapasitas tambahan diperoleh tanpa mengulang seluruh rantai pengembangan dari awal.
Baca juga: Panas Bumi dan Ujian Bankability Proyek Hijau
Ulubelu belum membuktikan bahwa pendekatan ini cocok untuk semua PLTP.
Tetapi proyek 30 MW itu akan membantu menjawab pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar apakah binary technology dapat bekerja.
Apakah panas bumi Indonesia bisa tumbuh lebih cepat dengan dua jalur sekaligus, mencari sumber baru dan mengambil lebih banyak nilai dari sumber yang sudah ditemukan?
Jika jawabannya ya, tambahan energi bersih Indonesia tidak semuanya harus dicari di tempat baru.
Sebagiannya mungkin sudah mengalir di dalam pipa yang ada.
Kita hanya belum mengambil seluruh energinya. ***
- Foto: Dok. PGE – Pembangkit panas bumi Area Lahendong, Sulawesi Utara. Optimalisasi PLTP eksisting melalui teknologi binary/co-generation menjadi salah satu cara menambah listrik tanpa selalu memulai dari eksplorasi baru.


