Ketahanan Pangan Membutuhkan Informasi Iklim yang Sampai ke Petani

KEPUTUSAN menanam dimulai jauh sebelum benih menyentuh tanah. Petani harus memperkirakan datangnya hujan, kecukupan air, dan risiko musim yang berubah. Keputusan itu menentukan penggunaan modal, tenaga, serta peluang panen beberapa bulan kemudian.

Di tengah perubahan iklim, informasi musim menjadi bagian penting dari perlindungan pangan. Namun, kemampuan menghasilkan model yang semakin detail baru merupakan satu tahap. Informasi tersebut perlu sampai kepada petani tepat waktu, bisa dipahami, dan membantu mereka menentukan tindakan.

Di sinilah pengembangan platform pemodelan iklim oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Institute of Atmospheric Physics, Chinese Academy of Sciences (IAP-CAS), menemukan relevansinya. Kerja sama ini membuka peluang memperkuat pengetahuan tentang iklim Indonesia sekaligus menyoroti pekerjaan berikutnya: menghubungkan hasil riset dengan keputusan di lahan pertanian.

Baca juga: El Nino 2026: Stress Test Ketahanan Pangan, Energi, dan Air Indonesia

Melalui Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA), BRIN mengembangkan The Climate Assessment and Prediction Platform for Tropical Island Country. Fokusnya mencakup interaksi laut dan atmosfer, monsun Asia, serta cuaca ekstrem di wilayah maritim Indonesia.

Kepala PRIMA BRIN, Albertus Sulaiman, menjelaskan bahwa pengembangan model atmosfer beresolusi tinggi diarahkan untuk mendukung adaptasi pertanian, termasuk antisipasi perubahan pola musim dan kerentanan pangan.

Arahnya penting. Tetapi platform tersebut masih dalam pengembangan. Publikasi BRIN belum memuat ukuran peningkatan akurasi, hasil pengujian, maupun jadwal pemanfaatannya dalam layanan pertanian.

Laut dalam Perhitungan

Salah satu fokus penelitian ialah kandungan panas laut atau ocean heat content pada Arus Lintas Indonesia, yang dikenal sebagai Indonesian Throughflow atau ITF. Albertus menyebut kajian ini menggunakan pendekatan termodinamika non-kesetimbangan untuk memahami transfer energi dan fluks bahari.

Istilahnya teknis, tetapi pertanyaan dasarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bagaimana energi berpindah di laut dan berhubungan dengan dinamika iklim kawasan Indonesia.

Kandungan panas laut juga berbeda dari suhu permukaan laut. Suhu permukaan menggambarkan kondisi lapisan teratas, sedangkan kandungan panas memperhitungkan energi panas yang tersimpan dalam suatu lapisan air. Perbedaan ini penting ketika peneliti ingin memahami sistem laut secara lebih menyeluruh.

Baca juga: Ketahanan Pangan Indonesia di Bawah Bayang-bayang Krisis Iklim

Urgensi kajian tersebut terlihat dalam laporan State of the Climate in Asia 2025 yang diterbitkan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada Juni 2026. Kandungan panas laut di kawasan Asia mencapai rekor baru pada 2025. Gelombang panas laut juga memengaruhi lebih dari 10 juta kilometer persegi selama Juli–September tahun tersebut. Angka itu merupakan konteks regional Asia, bukan pengukuran khusus perairan Indonesia.

Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, dalam pengantar laporan itu menekankan pentingnya pengamatan, sistem peringatan dini, dan prakiraan berbasis dampak untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. Penekanannya membawa riset menuju kebutuhan pengguna: informasi perlu menjelaskan konsekuensi kondisi iklim bagi kehidupan dan kegiatan ekonomi.

Bagi pertanian, konsekuensi itulah yang perlu diterjemahkan lebih lanjut menjadi informasi tentang risiko kekurangan air, hujan berlebih, atau perubahan waktu tanam.

Detail Perlu Diuji

BRIN dan IAP-CAS juga mengkaji variabilitas monsun Asia serta mekanisme fisis perubahan frekuensi dan intensitas kejadian ekstrem. Pengembangan ini berpotensi memperkuat pemahaman tentang iklim negara kepulauan yang memiliki kondisi wilayah beragam.

Namun, resolusi model dan ketepatan informasi perlu dibaca sebagai dua hal berbeda. Resolusi menunjukkan tingkat detail yang direpresentasikan model. Manfaat operasionalnya perlu dinilai melalui pengujian terhadap pengamatan dan kebutuhan pengguna.

Untuk menilai kemajuan platform ini, informasi yang dibutuhkan publik mencakup wilayah pengujian, rentang waktu prediksi, pembanding yang digunakan, dan besarnya kesalahan. Penjelasan ketidakpastian juga penting agar pengguna mengetahui batas informasi yang mereka terima.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Ada pula perbedaan antara proyeksi perubahan iklim jangka panjang dan prediksi musim untuk keputusan tanam. Keduanya dapat mendukung pertanian, tetapi melayani kebutuhan berbeda. Proyeksi jangka panjang membantu perencanaan adaptasi, sedangkan keputusan menanam memerlukan informasi yang relevan untuk musim dan lokasi tertentu.

Publikasi BRIN belum menjelaskan secara terperinci bagaimana berbagai keluaran platform tersebut akan digunakan. Karena itu, manfaat bagi kalender tanam masih harus ditempatkan sebagai jalur pemanfaatan yang perlu dikembangkan dan diuji.

Keterlibatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai salah satu pengguna operasional utama menjadi bagian penting. Hubungan antara peneliti dan penyedia layanan membuka ruang untuk menyesuaikan keluaran model dengan kebutuhan lapangan sejak tahap pengembangan.

Sampai ke Petani

Indonesia sudah memiliki pengalaman menjembatani informasi iklim dan pertanian melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI).

Dalam audiensi di Bappenas pada 26 Agustus 2025, Dwikorita Karnawati, yang saat itu menjabat Kepala BMKG, menjelaskan tujuan program tersebut.

“Program ini memberikan pengetahuan mengenai pola cuaca dan iklim yang dapat diterapkan langsung dalam praktik pertanian,” kata Dwikorita, sebagaimana dimuat dalam publikasi resmi BMKG.

BMKG menjelaskan bahwa petani didorong memanfaatkan informasi cuaca, menyusun kalender tanam berbasis musim, dan menyiapkan strategi menghadapi kondisi ekstrem. Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menekankan perlunya koordinasi lintas lembaga dan pemerintah daerah untuk keberlanjutan serta perluasan praktik SLI. Pernyataan tersebut mendahului pengumuman kerja sama BRIN dan IAP-CAS; konteksnya adalah pemanfaatan informasi iklim dalam pertanian.

Pengalaman itu memperlihatkan pentingnya penyuluh sebagai penghubung. Dalam tujuan resmi SLI, BMKG menempatkan penyuluh pertanian sebagai mediator yang membantu menerjemahkan informasi iklim ke dalam bahasa yang dipahami petani.

Baca juga: Anggaran Pangan Besar, Sudahkah Irigasi Tahan Iklim?

Kebutuhan adaptasi memiliki dasar pengamatan yang nyata. Dalam pembukaan SLI di Gunungkidul pada 22 September 2025, Dwikorita menyampaikan bahwa suhu rata-rata Indonesia pada 2024 mencapai 27,5 derajat Celsius, dengan anomali 0,8 derajat Celsius terhadap normal 1991-2020. Tahun tersebut menjadi yang terpanas dalam catatan pengamatan sejak 1981. Data historis ini menunjukkan tekanan pemanasan, bukan prakiraan untuk musim tanam sekarang.

Dari sini, ukuran keberhasilan riset dapat diperluas. Selain kinerja model, perlu dinilai apakah informasi tiba sebelum keputusan tanam dibuat, dipahami pengguna, dan membantu penyesuaian pengelolaan lahan.

Pemerintah daerah juga perlu menyiapkan dukungan agar rekomendasi dapat dijalankan. Informasi tentang risiko kekeringan, misalnya, memerlukan tindak lanjut dalam pengelolaan air dan pendampingan budidaya. Pengetahuan tentang risiko akan lebih berguna ketika petani memiliki pilihan tindakan yang memungkinkan.

Pengembangan platform BRIN dan IAP-CAS layak diikuti karena berupaya membaca kompleksitas iklim Indonesia. Tahap berikutnya menentukan nilai praktisnya: pengujian yang terbuka, hubungan dengan layanan operasional, serta penerjemahan informasi hingga ke lahan.

Bagi petani, manfaat riset akhirnya hadir dalam keputusan yang lebih terarah. Kapan menanam, bagaimana menyiapkan air, dan bagaimana mengurangi risiko kehilangan panen. ***

  • Foto: Dibakar Roy/ Pexels – Hamparan sawah dan aktivitas petani. Informasi iklim yang tepat waktu dapat membantu keputusan tanam dan pengelolaan risiko musim.
Bagikan