Hamdani S Rukiah

Asia Pasifik Jadi Pusat Baru Pembiayaan Iklim Global

PUSAT gravitasi pembiayaan iklim global mulai bergeser ke Asia Pasifik. Data paruh pertama 2025 menunjukkan kawasan ini menyerap sekitar 6 persen dari total alokasi dana iklim dunia. Angka itu memang belum sebesar Amerika Serikat yang masih dominan, tetapi tren penurunan porsi AS membuka ruang bagi Asia Pasifik untuk tampil sebagai tujuan utama investasi hijau. Pendorongnya…

Baca Selengkapnya...

Maskapai Dunia Patungan 150 Juta Dolar untuk Bahan Bakar Penerbangan Hijau

INDUSTRI penerbangan global sedang mencari jalan keluar dari tekanan emisi karbon yang kian menjadi sorotan publik. Enam maskapai besar dunia baru saja mengumumkan pembentukan oneworld BEV Fund, dana kolektif senilai 150 juta dolar AS untuk mempercepat hadirnya teknologi bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) generasi baru. Dana ini akan dikelola oleh Breakthrough Energy Ventures…

Baca Selengkapnya...

PLTSa di 33 Provinsi, Solusi Hijau atau Beban Baru?

AMBISI pemerintah membangun proyek waste-to-energy (WtE) kini memasuki babak baru. Proyek yang digadang sebagai jawaban atas krisis sampah perkotaan itu direncanakan hadir di 33 provinsi. Namun, di balik optimisme, tersimpan pekerjaan rumah lama. Proyek serupa sebelumnya banyak tersendat dan belum menunjukkan hasil nyata. Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan memastikan pembiayaan proyek WtE akan bersumber dari…

Baca Selengkapnya...

Kontradiksi Fosil Hantui Ambisi Australia Naikkan Target Emisi 2035

Di tengah janji pemangkasan emisi hingga 70% pada 2035, Australia masih beri izin operasi proyek gas hingga 2070. Ambisi besar, tapi bayang-bayang fosil tak hilang. AUSTRALIA resmi menaikkan target iklimnya, pemangkasan emisi 62–70% pada 2035 dibanding level 2005. Lompatan signifikan ini melampaui target sebelumnya, 43% pada 2030. Perdana Menteri Anthony Albanese menyebut komitmen ini sebagai…

Baca Selengkapnya...

Sepertiga Pemanasan Global Berasal dari 14 Raksasa Energi

GELOMBANG panas kian sering dan mematikan. Dari Eropa hingga Asia, suhu ekstrem telah merenggut puluhan ribu nyawa setiap tahun. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature dan dikutip oleh Independent (11/9/2025), mengungkap temuan mengejutkan, hanya 14 perusahaan raksasa yang menyumbang hampir sepertiga pemanasan global dunia. Penelitian ini menganalisis 213 gelombang panas yang terjadi sepanjang…

Baca Selengkapnya...

Diella dan Babak Baru Governance Albania, Antara Inovasi AI dan Sengketa Konstitusi

ALBANIA kembali jadi sorotan. Negara Balkan dengan populasi 2,8 juta jiwa itu meluncurkan eksperimen pemerintahan paling berani, yakni menunjuk menteri berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mengawasi tender publik. Sosok virtual bernama Diella kini resmi berpidato di parlemen, menandai babak baru dalam perdebatan antara inovasi digital dan tata kelola negara. AI Sebagai Instrumen Governance Dalam pidato…

Baca Selengkapnya...

UMKM Hijau, Misi Besar Mengurangi Emisi Tanpa Mematikan Pertumbuhan

HINGGA Mei 2025, jumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia mencapai 57 juta unit. Dari angka tersebut, sekitar 95 persen masuk kategori usaha mikro. Angka ini menunjukkan betapa strategisnya sektor UMKM dalam menopang ekonomi nasional. Namun, di balik kontribusi besarnya pada penyerapan tenaga kerja, sektor ini juga menghadapi tantangan serius, jejak karbon. Menurut…

Baca Selengkapnya...

Dua Wajah Indonesia dalam Krisis Iklim, Korban Sekaligus Penyumbang Emisi

INDONESIA tengah berupaya mendapatkan akses ke dana Loss and Damage yang digagas dalam negosiasi iklim global. Dana ini dimaksudkan untuk membantu negara-negara berkembang menghadapi dampak perubahan iklim yang sudah nyata. Namun, posisi Indonesia tidak serta-merta mudah. Di satu sisi, Indonesia tergolong rentan terhadap krisis iklim. Banjir besar, kekeringan berkepanjangan, hingga ancaman kenaikan muka laut terus…

Baca Selengkapnya...

Pangan Restoratif, Strategi Baru di Tengah Krisis Iklim

KETERGANTUNGAN Indonesia pada beras kembali menjadi sorotan. Selama puluhan tahun, beras dianggap satu-satunya ukuran ketahanan pangan. Namun, pandangan itu kini dinilai rapuh. Begitu lahan padi menyusut atau distribusi terganggu, ancaman kelaparan bisa menghantam, terutama di pulau-pulau terpencil. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, menilai paradigma ketahanan pangan terlalu sempit….

Baca Selengkapnya...

Ketahanan Pangan Berbasis Beras, Ancaman Hiperinflasi di Depan Mata

HARGA beras kembali menembus rekor. Di pasar tradisional, angkanya sudah mencapai Rp15.000 per kilogram, jauh di atas harga tiga tahun lalu yang masih di bawah Rp12.500. Kenaikan ini tidak sekadar isu konsumen, tapi menyentuh inti kebijakan pangan Indonesia. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, menyebut beras sebagai penyumbang utama…

Baca Selengkapnya...