KAI Masuk B40, Seberapa Hijau Kereta Indonesia?

PERALIHAN PT Kereta Api Indonesia (KAI) ke biosolar B40 menandai langkah penting dalam transisi energi sektor transportasi. Namun, langkah ini belum cukup untuk memastikan bahwa operasional kereta api di Indonesia telah benar-benar rendah emisi.

KAI menyatakan seluruh lokomotif dan gensetnya kini menggunakan B40, sejalan dengan kebijakan mandatori biodiesel yang didorong oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Anne Purba menyebut langkah ini sebagai bagian dari dukungan terhadap energi terbarukan di sektor transportasi, sekaligus upaya menjaga efisiensi operasional di tengah keterbatasan bahan bakar fosil.

Langkah Awal Transisi

Secara kebijakan, ini adalah kemajuan. Namun, secara iklim, ini masih tahap transisi.

Baca juga: Whoosh, Ketika Kecepatan Bertemu Kesadaran Iklim

B40 merupakan campuran 40% biodiesel berbasis minyak sawit dan 60% solar fosil. Artinya, peralihan ini belum menghapus ketergantungan pada bahan bakar fosil, melainkan hanya mengurangi sebagian porsi penggunaannya. Dalam kerangka dekarbonisasi, pendekatan ini lebih tepat disebut sebagai substitusi bahan bakar, bukan transformasi sistem energi.

Emisi dan Rantai Pasok

Langkah ini tetap relevan dalam konteks ketahanan energi. Biodiesel membantu menekan impor solar dan memperkuat pasokan domestik. Namun, dari perspektif emisi, dampaknya sangat bergantung pada bagaimana seluruh siklus produksi biodiesel dihitung, mulai dari perubahan penggunaan lahan, proses produksi, hingga distribusi.

Baca juga: Paul Charles: Industri Perjalanan Harus Berevolusi Menuju Langit yang Lebih Hijau

Dalam banyak kajian, biodiesel diposisikan sebagai solusi antara. Institute for Essential Services Reform mencatat bahwa biofuel dapat membantu mengurangi ketergantungan pada impor energi, tetapi kontribusinya terhadap penurunan emisi sangat ditentukan oleh pengelolaan rantai pasok dan perhitungan emisi sepanjang siklus hidupnya.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Efisiensi Moda Rel

Di sisi lain, kereta api tetap memiliki keunggulan struktural dibanding moda transportasi lain. Dengan efisiensi energi yang lebih tinggi per penumpang maupun per ton barang, moda rel sejak awal sudah berada dalam posisi lebih rendah emisi dibanding transportasi jalan.

Baca juga: LRT Jakarta dalam Neraca Karbon Perkotaan

KAI mencatat peningkatan volume penumpang sebesar 18,4% pada triwulan I 2026 menjadi 14,5 juta pelanggan, serta angkutan logistik yang mencapai lebih dari 14 juta ton. Artinya, kontribusi kereta terhadap penurunan emisi tidak hanya berasal dari jenis bahan bakarnya, tetapi juga dari efisiensi sistem transportasinya secara keseluruhan.

Menuju Dekarbonisasi Penuh

Rencana adopsi B50 akan membawa tahap berikutnya dalam strategi ini. Namun, peningkatan campuran biodiesel tidak hanya soal kesiapan teknis mesin. Ketersediaan bahan baku, tekanan terhadap penggunaan lahan, serta integritas perhitungan emisi menjadi faktor penentu apakah peningkatan tersebut benar-benar menghasilkan penurunan emisi atau hanya menggeser beban ke sektor lain.

Baca juga: MRT Jakarta dan Jalan Panjang Transportasi Berkelanjutan

Dalam peta besar dekarbonisasi transportasi, biodiesel seharusnya diposisikan sebagai solusi transisi, bukan tujuan akhir. Elektrifikasi jalur kereta, integrasi energi terbarukan dalam sistem kelistrikan, serta efisiensi operasional berbasis data akan menjadi faktor yang lebih menentukan dalam jangka panjang.

Langkah KAI mengadopsi B40 menunjukkan arah yang mulai bergerak. Namun, untuk mencapai target net zero emission 2060, transisi ini perlu melampaui sekadar perubahan campuran bahan bakar, menuju transformasi sistem transportasi yang lebih dalam dan terukur. ***

  • Foto: Noel Snpr/ PexelsLokomotif PT Kereta Api Indonesia kini menggunakan biosolar B40 sebagai bagian dari transisi energi sektor transportasi. Namun, peralihan ini masih menjadi tahap awal menuju dekarbonisasi penuh.
Bagikan