Serial SustainReview: Longevity Economy — Bagian 3/4
SETIAP keluarga punya kerja yang sering tidak masuk hitungan ekonomi.
Ada anak yang merawat orang tua. Ada ibu yang mengurus anak sambil tetap bekerja. Ada keluarga yang bergantian menjaga anggota rumah yang sakit. Ada pekerja yang harus mengurangi jam kerja karena tanggung jawab perawatan di rumah.
Kerja itu menyita waktu, tenaga, emosi, dan biaya. Namun, dalam banyak kebijakan, kerja merawat masih sering dianggap urusan domestik. Seolah-olah keluarga akan selalu sanggup menanggung semuanya sendiri.
Padahal, umur manusia makin panjang. Struktur keluarga berubah. Pasar kerja makin menuntut mobilitas. Biaya kesehatan dan kebutuhan perawatan meningkat. Di titik ini, care economy tidak bisa lagi diperlakukan sebagai kerja senyap yang dibiarkan berjalan tanpa dukungan sistem.
Care economy adalah sistem ekonomi perawatan yang mencakup kerja berbayar dan tidak berbayar untuk menjaga kesehatan, kemandirian, dan kualitas hidup manusia di berbagai tahap usia.
Baca juga: Setelah Bonus Demografi, Indonesia Perlu Longevity Economy
Indonesia perlu mulai mengakui care economy sebagai agenda kebijakan karena umur panjang akan meningkatkan kebutuhan perawatan, sementara beban merawat masih banyak ditanggung keluarga secara informal, terutama perempuan.
World Economic Forum atau WEF, dalam white paper Future-Proofing the Longevity Economy: Innovations and Key Trends yang terbit pada Maret 2025, menempatkan ekonomi perawatan dan long-term care sebagai salah satu pilar penting longevity economy. Laporan itu menekankan bahwa kebutuhan perawatan yang meningkat harus dijawab dengan dukungan bagi pemberi perawatan dan penerima perawatan.
475 Juta Pekerjaan Perawatan pada 2030
Care economy sering tidak terlihat karena banyak pekerjaannya dilakukan tanpa upah. Namun, nilainya sangat besar.
WEF mengutip International Labour Organization bahwa nilai ekonomi kerja perawatan tidak berbayar diperkirakan setara 9 persen PDB global. Artinya, kerja merawat yang berlangsung di rumah, keluarga, dan komunitas sebenarnya menopang ekonomi, meski sering tidak masuk statistik formal sebagai pekerjaan produktif.
Beban itu juga tidak terbagi merata. WEF mencatat perempuan mengerjakan lebih dari 75 persen seluruh jam kerja perawatan di dunia. Dampaknya tidak hanya terasa di rumah, tetapi juga pada partisipasi kerja, pendapatan, tabungan pensiun, dan keamanan finansial jangka panjang.
Baca juga: Umur Panjang, Jangan Tutup Pintu Kerja karena Usia
Dalam masyarakat yang hidup lebih panjang, kebutuhan ini akan terus membesar. WEF menyebut ekonomi global perlu menciptakan 475 juta pekerjaan perawatan pada 2030 untuk memenuhi kebutuhan populasi menua serta target pembangunan terkait kesehatan dan kesejahteraan.
Angka itu memberi pesan jelas. Perawatan bukan pekerjaan pinggiran. Perawatan adalah bagian dari infrastruktur sosial-ekonomi.

Jika negara tidak menyiapkan sistemnya, beban akan jatuh ke keluarga. Jika keluarga tidak kuat, dampaknya bisa merembet ke pasar kerja. Orang mengurangi jam kerja. Karier terhenti. Pendapatan turun. Tabungan pensiun melemah. Kesehatan mental terganggu. Produktivitas nasional ikut terdampak.
WEF juga mencatat bahwa informal care pada dasarnya ikut menyubsidi sistem kesehatan dan perawatan jangka panjang. Karena itu, kebijakan dan investasi perlu diarahkan untuk membangun infrastruktur perawatan formal yang melengkapi perawatan informal, bukan sekadar menggantungkan semuanya kepada keluarga.
Siapa yang Merawat dan Siapa yang Dirawat
Care economy menuntut Indonesia membaca ulang makna perlindungan sosial.
Selama ini, perlindungan sosial sering dibaca dari bantuan, jaminan kesehatan, pensiun, atau subsidi. Semua itu penting. Namun, dalam masyarakat yang menua, negara juga perlu membaca siapa yang merawat, siapa yang dirawat, dan bagaimana biaya sosial-ekonomi dari kerja merawat ditanggung.
Pertama, kerja merawat perlu diakui sebagai kontribusi ekonomi. Pengakuan ini penting agar caregiver tidak terus dipandang sebagai “anggota keluarga yang kebetulan punya waktu”. Banyak caregiver kehilangan peluang kerja, penghasilan, promosi, dan tabungan hari tua karena tanggung jawab perawatan.
Kedua, kebijakan ketenagakerjaan perlu memberi ruang bagi pekerja yang memiliki tanggung jawab merawat. Cuti merawat keluarga, jam kerja fleksibel, kerja jarak jauh, dan perlindungan dari diskriminasi bisa menjadi bagian dari desain pasar kerja yang lebih manusiawi.
Ketiga, Indonesia perlu mulai membangun layanan perawatan berbasis komunitas. Tidak semua kebutuhan perawatan harus masuk rumah sakit. Banyak kebutuhan bisa dijawab melalui layanan harian, pendampingan lansia, pusat aktivitas komunitas, kunjungan rumah, dukungan kesehatan mental, dan pelatihan caregiver keluarga.
Keempat, tenaga perawatan harus dilihat sebagai sektor pekerjaan masa depan. Jika ekonomi global membutuhkan ratusan juta pekerjaan perawatan baru, Indonesia perlu menyiapkan standar kompetensi, pelatihan, perlindungan kerja, dan jalur karier yang layak bagi pekerja care economy.
Baca juga: Blue Zone 2.0, Bagaimana Singapura Mendesain Kota untuk Umur Panjang
Kelima, kebijakan kota dan perumahan perlu ramah usia. Rumah, transportasi, trotoar, fasilitas kesehatan, dan ruang publik harus dirancang agar orang bisa menua dengan aman, mandiri, dan tetap terhubung dengan komunitas.
Care economy pada akhirnya bukan hanya soal lansia. Ini juga soal anak, orang sakit, penyandang disabilitas, pekerja perempuan, keluarga muda, dan generasi produktif yang harus membagi waktu antara mencari nafkah dan merawat orang terdekat.
Dalam longevity economy, merawat bukan urusan domestik yang bisa diserahkan sepenuhnya kepada keluarga. Merawat adalah pekerjaan sosial yang menopang kehidupan ekonomi.
Karena itu, negara perlu berhenti melihat care economy sebagai kerja senyap.
Kerja merawat harus diakui, dihitung, ditopang, dan masuk dalam desain kebijakan jangka panjang. Tanpa itu, umur panjang bisa berubah menjadi beban panjang bagi keluarga. Dengan sistem yang tepat, care economy bisa menjadi fondasi ketahanan sosial yang lebih adil, produktif, dan manusiawi.
- Foto: Ilustrasi/ Kampus Production/ Pexels – Care economy menunjukkan bahwa kerja merawat di rumah, keluarga, dan komunitas adalah bagian penting dari ketahanan sosial.


