Bogor Makin Panas, Kota Hujan Butuh Ruang Hijau

BOGOR masih dikenal sebagai Kota Hujan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, banyak warga merasakan hal yang berubah. Hujan masih sering turun. Udara lembap masih akrab. Tetapi, siang hari di Bogor tidak lagi sesejuk ingatan banyak orang.

Pada sejumlah hari, suhu siang disebut dapat terasa menyengat, bahkan berada di kisaran 32–34 derajat Celsius. Bagi kota yang lama hidup dengan citra sejuk, perubahan ini bukan sekadar soal cuaca harian. Ini menjadi sinyal bahwa fungsi pendingin alami kota sedang tertekan.

Pertanyaannya, mengapa Bogor yang masih sering hujan bisa terasa makin panas?

Jawabannya tidak tunggal. Ada faktor iklim global. Ada El Niño. Ada tren pemanasan jangka panjang. Namun, ada pula faktor yang sangat dekat dengan kebijakan kota: perubahan tutupan lahan, berkurangnya ruang hijau, dan urbanisasi.

Kota Hujan Berubah

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr Givo Alsepan, menjelaskan suhu udara rata-rata wilayah Bogor secara klimatologis berada pada kisaran 25,5 hingga 27 derajat Celsius. Namun, pada periode tertentu, suhu itu dapat berubah karena pengaruh fenomena iklim global, terutama El Niño-Southern Oscillation atau ENSO.

Dalam fase El Niño, suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur menghangat. Dampaknya, pusat pembentukan awan bergeser menjauh dari wilayah Indonesia. Tutupan awan berkurang. Radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi menjadi lebih besar. Bogor pun terasa lebih panas dari biasanya.

Baca juga: Kota ASEAN Mulai Kehilangan Kemampuan untuk Tetap Sejuk

Penjelasan ini sejalan dengan pemantauan BMKG. Dalam pemutakhiran prediksi musim kemarau 2026, BMKG mencatat indeks ENSO hingga pertengahan Mei 2026 telah melewati batas netral selama lima dasarian. BMKG juga memprediksi peluang El Niño intensitas lemah hingga moderat sangat tinggi pada musim kemarau 2026.

Pada awal Juli 2026, BMKG menyebut musim kemarau terus meluas di Indonesia, meski peluang hujan masih muncul di sejumlah wilayah. Artinya, hujan lokal masih mungkin terjadi, tetapi tidak selalu cukup untuk menahan peningkatan suhu harian, terutama ketika tutupan awan berkurang dan paparan matahari menguat.

Namun, El Niño hanya satu bagian dari cerita.

Panas yang Menumpuk

Faktor lain adalah perubahan iklim global. Laporan IPCC tentang kota dan perubahan iklim menempatkan kawasan perkotaan sebagai ruang yang semakin rentan terhadap panas. Risiko itu meningkat ketika pemanasan global bertemu dengan efek pulau panas perkotaan atau urban heat island.

Efek ini terjadi ketika kawasan kota lebih panas dibandingkan wilayah sekitarnya. Penyebabnya bukan hanya suhu udara global yang naik. Permukaan beton, aspal, bangunan padat, berkurangnya pohon, rendahnya ventilasi alami, serta panas dari kendaraan dan aktivitas manusia membuat kota menyimpan panas lebih lama.

Baca juga: Panas Ekstrem Bukan Lagi Cuaca Biasa

World Bank, dalam kajian tentang urban heat island di kota-kota Asia Timur, mencatat kota-kota di kawasan tersebut rata-rata 1,6–2,0 derajat Celsius lebih panas dibanding wilayah rural terdekat. Kajian itu juga menyoroti bahwa kota-kota di Indonesia, Malaysia, dan Filipina termasuk yang paling kuat merasakan efek pulau panas perkotaan.

Di sinilah Bogor perlu dibaca lebih serius. Masalahnya bukan sekadar “hari ini panas”. Masalahnya adalah kemampuan kota mempertahankan fungsi pendingin alaminya.

Ruang Hijau Menentukan

Bogor memang masih memiliki identitas hijau. Ada Kebun Raya Bogor. Ada kawasan pendidikan, taman, sempadan sungai, dan kantong-kantong vegetasi. Tetapi, tekanan pembangunan terus bergerak. Permukaan keras bertambah. Lahan terbuka menyusut. Mobilitas harian meningkat.

BPS Kota Bogor menyediakan data dasar geografi, iklim, kependudukan, sosial, pertanian, dan ekonomi melalui publikasi Kota Bogor Dalam Angka. Data seperti ini penting karena adaptasi iklim kota tidak bisa hanya berbasis kesan, tetapi harus membaca perubahan ruang, penduduk, dan lingkungan secara terukur.

Data terbuka Pemerintah Kota Bogor juga mencatat indikator ruang terbuka hijau publik yang terkelola dengan baik. Pada 2024, angka yang tercatat sebesar 51,17 hektare. Angka ini penting dibaca bukan sebagai statistik administratif semata, tetapi sebagai bagian dari kapasitas kota meredam panas.

Baca juga: Kota, Barisan Pertama dan Pertahanan Terakhir Iklim Dunia

Sementara itu, regulasi penataan ruang menempatkan ruang terbuka hijau sebagai kebutuhan dasar kota. Dokumen hukum daerah dan mandat penataan ruang menegaskan kebutuhan RTH perkotaan minimal 30 persen dari luas wilayah kota, yang terdiri dari 20 persen ruang terbuka hijau publik dan 10 persen ruang terbuka hijau privat.

Di tingkat kebijakan, angka 30 persen ini bukan hiasan. Ini ukuran minimum agar kota memiliki ruang resapan, ruang teduh, ruang ekologis, dan penyangga iklim mikro. Tanpa ruang hijau yang memadai, kota lebih mudah berubah menjadi perangkap panas.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Pohon adalah infrastruktur iklim. Kanopi pohon menurunkan suhu permukaan, memberi bayangan, menjaga kelembapan mikro, memperlambat limpasan air hujan, dan mengurangi tekanan panas di kawasan padat.

Ketika pohon berkurang, kota kehilangan pendingin paling murah dan paling alami.

Hujan Saja Tidak Cukup

Bogor masih hujan. Tetapi, hujan tidak otomatis membuat kota tetap sejuk sepanjang waktu. Apalagi jika permukaan kota semakin banyak ditutup aspal, beton, atap logam, dan bangunan padat.

Hujan dapat menurunkan suhu sesaat. Namun, ketika matahari kembali terik, permukaan keras menyerap panas dan memantulkannya ke udara sekitar. Kawasan dengan sedikit pohon akan lebih cepat terasa gerah. Jalan dan permukiman padat menyimpan panas hingga sore atau malam hari.

Inilah paradoks Kota Hujan hari ini. Air masih turun dari langit, tetapi kemampuan tanah dan vegetasi untuk mengatur suhu makin tertekan.

Karena itu, adaptasi iklim kota tidak bisa hanya mengandalkan drainase dan pengendalian banjir. Kota juga membutuhkan strategi pendinginan.

Tata Ruang Berbasis Iklim

Bogor membutuhkan tata ruang yang membaca panas sebagai risiko kota. Bukan hanya banjir. Bukan hanya kemacetan. Bukan hanya pertumbuhan kawasan terbangun.

Ada beberapa arah yang perlu diperkuat.

Pertama, memperluas dan menghubungkan ruang hijau. Taman kota, hutan kota, jalur hijau jalan, sempadan sungai, kawasan kampus, dan ruang privat perlu dilihat sebagai jaringan ekologis. Bukan titik-titik terpisah.

Kedua, melindungi kanopi pohon yang sudah ada. Pohon besar membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tumbuh. Menggantinya dengan bibit kecil tidak langsung memulihkan fungsi pendinginan kota.

Ketiga, mendorong bangunan dan kawasan yang adaptif terhadap panas. Atap sejuk, permukaan berpori, area teduh, ventilasi alami, dan material yang tidak menyerap panas berlebihan perlu masuk ke praktik desain perkotaan.

Keempat, memakai data iklim mikro dalam perencanaan. Peta suhu permukaan, kerapatan vegetasi, kepadatan bangunan, dan mobilitas harian dapat membantu pemerintah menentukan kawasan prioritas penghijauan.

Kelima, memastikan adaptasi panas menyentuh warga rentan. Pekerja luar ruang, lansia, anak-anak, pengemudi ojek daring, pedagang kaki lima, dan warga permukiman padat adalah kelompok yang paling langsung merasakan panas kota.

Baca juga: Ketimpangan Iklim, Indonesia Menanggung Panas yang Tak Diciptakannya

Bogor tidak kehilangan identitasnya sebagai Kota Hujan. Tetapi, identitas itu perlu diperbarui. Kota Hujan abad iklim tidak cukup hanya basah. Kota Hujan juga harus mampu tetap teduh.

Perubahan suhu Bogor adalah sinyal. Kota-kota penyangga Jakarta tidak bisa terus tumbuh dengan logika beton, aspal, dan kawasan terbangun tanpa menghitung panas yang ditimbulkan.

Bogor masih punya peluang besar. Modal ekologisnya belum hilang. Identitas hijaunya masih kuat. Basis pengetahuan kampus dan riset juga tersedia.

Namun, peluang itu perlu diterjemahkan menjadi kebijakan. Sebab, pada akhirnya, kota yang nyaman bukan hanya kota yang punya hujan. Kota yang nyaman adalah kota yang mampu menjaga ruang hidupnya tetap sejuk. ***

  • Foto: Tom Fisk/ Pexels Ruang hijau di kawasan perkotaan Bogor menjadi bagian penting dari strategi meredam panas kota. Di tengah urbanisasi dan perubahan iklim, pohon tidak lagi sekadar elemen lanskap, tetapi infrastruktur iklim.
Bagikan