Ekonomi Hidrogen, Mengapa Energi Ini Menjadi Kunci Transisi Energi Global

HIDROGEN mulai muncul sebagai salah satu kandidat utama dalam transisi energi global. Dalam beberapa tahun terakhir, negara dan perusahaan energi besar mulai menempatkan hidrogen sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi jangka panjang.

Ekonomi hidrogen adalah sistem energi di mana hidrogen digunakan sebagai sumber energi bersih untuk menggantikan bahan bakar fosil, terutama di sektor yang sulit didekarbonisasi seperti industri berat dan transportasi.

Berbeda dengan energi terbarukan seperti surya dan angin, hidrogen tidak digunakan secara langsung sebagai sumber listrik, melainkan sebagai carrier energi yang dapat disimpan, diangkut, dan digunakan dalam berbagai sektor.

Mengapa Hidrogen Menjadi Sorotan Global

Dorongan terhadap hidrogen tidak muncul tanpa alasan.

Laporan International Energy Agency menyebut bahwa hidrogen berpotensi menyumbang hingga 10% dari kebutuhan energi global pada 2050, terutama untuk sektor industri berat, baja, semen, dan transportasi jarak jauh.

Baca juga: Hydrogen Hub dan Masa Depan Hidrogen Hijau Indonesia

Di sisi lain, World Bank melihat hidrogen sebagai peluang baru dalam pembiayaan energi bersih, terutama bagi negara berkembang yang memiliki sumber daya energi terbarukan melimpah.

Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan bahkan telah mengembangkan roadmap hidrogen sebagai bagian dari strategi net-zero mereka.

Memahami Jenis Hidrogen

Tidak semua hidrogen bersifat rendah emisi. Klasifikasi hidrogen menjadi penting dalam menentukan dampaknya terhadap lingkungan.

  • Grey hydrogen: diproduksi dari gas alam, menghasilkan emisi karbon tinggi
  • Blue hydrogen: berasal dari gas alam, tetapi emisinya ditangkap menggunakan teknologi carbon capture
  • Green hydrogen: diproduksi melalui elektrolisis menggunakan energi terbarukan, hampir tanpa emisi

Dalam konteks transisi energi, green hydrogen menjadi target utama karena potensinya sebagai energi bersih.

Tantangan Utama, Biaya dan Infrastruktur

Meski potensinya besar, ekonomi hidrogen masih menghadapi hambatan signifikan.

Pertama, biaya produksi masih tinggi.
IEA mencatat bahwa green hydrogen saat ini masih lebih mahal dibandingkan bahan bakar fosil, terutama karena biaya listrik terbarukan dan teknologi elektrolisis.

Baca juga: Jun Arima: Gas, Hidrogen, dan CCS Adalah Jalan Rasional Dekarbonisasi Asia Tenggara

Kedua, infrastruktur belum siap.
Distribusi dan penyimpanan hidrogen membutuhkan investasi besar dalam jaringan pipa, fasilitas penyimpanan, dan teknologi transportasi.

Ketiga, permintaan masih terbatas.
Tanpa kebijakan yang kuat, adopsi hidrogen sulit berkembang secara cepat.

Peluang bagi Indonesia

Bagi Indonesia, hidrogen membuka peluang strategis.

Indonesia memiliki potensi besar energi terbarukan, lebih dari 3.600 GW, menurut Kementerian ESDM, yang dapat dimanfaatkan untuk memproduksi green hydrogen.

Baca juga: Hidrogen Hijau Indonesia, Peluang Besar Terkunci Harga Tinggi

Selain itu, posisi Indonesia sebagai negara industri dan eksportir komoditas memberikan peluang untuk masuk ke rantai pasok hidrogen global.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dalam berbagai dokumen strateginya menyebut hidrogen sebagai bagian dari transisi menuju net-zero emissions.

Jika dikembangkan dengan tepat, hidrogen dapat:

  • mendukung dekarbonisasi industri domestik
  • membuka peluang ekspor energi baru
  • menarik investasi energi bersih
  • memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi hijau global

Arti bagi Transisi Energi

Hidrogen bukan solusi tunggal, tetapi bagian dari sistem energi masa depan.

Energi ini akan berperan penting terutama di sektor yang sulit dialiri listrik langsung, seperti:

  • industri baja dan semen
  • transportasi berat dan maritim
  • penyimpanan energi skala besar

Baca juga: Kereta Hidrogen, Babak Baru Transportasi Berkelanjutan di India

Ekonomi hidrogen menjadi penting karena dapat mengisi celah dekarbonisasi yang tidak dapat dijangkau oleh energi terbarukan konvensional seperti listrik.

Namun, pengembangannya tetap bergantung pada kombinasi kebijakan, teknologi, dan investasi jangka panjang.

Risiko dan Realitas

Meski sering disebut sebagai “energi masa depan”, hidrogen juga menghadapi risiko overhype.

Beberapa analis menilai bahwa tanpa penurunan biaya yang signifikan dan dukungan kebijakan yang kuat, pengembangan hidrogen dapat berjalan lebih lambat dari yang diharapkan.

Baca juga: Green Hydrogen, Ambisi Baru PGE dan Toyota untuk Energi Bersih Indonesia

Karena itu, banyak lembaga internasional menekankan bahwa hidrogen harus dikembangkan secara realistis, sebagai bagian dari portofolio energi, bukan sebagai solusi tunggal.

Apa Artinya bagi Indonesia

Bagi Indonesia, hidrogen adalah peluang sekaligus ujian.

Apakah Indonesia mampu memanfaatkan keunggulan sumber daya energi terbarukan untuk masuk ke ekonomi hidrogen global, atau hanya menjadi pasar teknologi dari luar.

Baca juga: 2050 Energi Bersih, Saatnya Indonesia Punya Strategi Transisi yang Terpadu

Ekonomi hidrogen penting bagi Indonesia karena berpotensi menjadi sumber energi baru sekaligus peluang ekspor dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Keputusan kebijakan dalam beberapa tahun ke depan akan menentukan posisi Indonesia dalam peta energi global masa depan. ***

  • Foto: Tom Fisk/ PexelKompleks industri energi dengan infrastruktur penyimpanan dan distribusi menjadi bagian penting dalam pengembangan ekonomi hidrogen sebagai tulang punggung transisi energi global.
Bagikan