Super El Niño Berpotensi Ubah Krisis Iklim Jadi Krisis Ekonomi Global Baru

DUNIA mulai menghadapi ancaman baru yang tidak lagi sekadar berkaitan dengan cuaca panas atau musim kering lebih panjang. Fenomena “Super El Niño” kini diperkirakan berpotensi menjadi salah satu risiko global terbesar menjelang 2027, karena dampaknya dapat menjalar ke pangan, energi, inflasi, hingga stabilitas ekonomi banyak negara.

Super El Niño adalah fase pemanasan ekstrem suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis yang mampu mengubah pola cuaca global secara signifikan. Dalam kondisi tertentu, fenomena ini dapat memicu kekeringan, banjir, gagal panen, hingga lonjakan harga pangan dan energi di berbagai kawasan dunia.

Lembaga Climate Prediction Center milik NOAA Amerika Serikat memperkirakan peluang El Niño berkembang menjadi kategori kuat hingga sangat kuat mencapai 65 persen pada periode Oktober 2026 hingga Februari 2027. Bahkan, probabilitas kemunculan El Niño sebelum Juli 2026 kini mencapai 82 persen.

Jika Super El Niño benar-benar terjadi, dunia berpotensi menghadapi tekanan ekonomi baru akibat cuaca ekstrem, gangguan pangan, dan kenaikan suhu global yang lebih tajam.

Risiko Tidak Lagi Sekadar Cuaca

Selama ini, El Niño sering dipahami publik sebagai penyebab musim panas lebih panjang atau kekeringan di sejumlah wilayah. Namun dalam beberapa tahun terakhir, fenomena ini mulai dilihat sebagai bagian dari risiko ekonomi global.

Kenaikan suhu laut di Pasifik dapat mengganggu curah hujan, produksi pertanian, pasokan air, hingga sistem energi di banyak negara secara bersamaan. Dalam ekonomi global yang saling terhubung, gangguan di satu kawasan dapat langsung memengaruhi harga dan pasokan di kawasan lain.

Fenomena El Niño 1997–1998 menjadi salah satu contoh paling mahal dalam sejarah modern. Sejumlah studi memperkirakan kerugian ekonomi global saat itu mencapai US$32 miliar hingga US$96 miliar akibat kerusakan pertanian, bencana alam, dan gangguan ekonomi lainnya.

Baca juga: El Nino 2026: Stress Test Ketahanan Pangan, Energi, dan Air Indonesia

Kini, risiko itu dinilai bisa lebih berat karena dunia berada dalam kondisi yang jauh lebih panas dibanding beberapa dekade lalu.

Profesor risiko iklim dari University of Reading Inggris, Liz Stephens, mengatakan tekanan pangan akibat kekeringan atau banjir dapat memperburuk kenaikan harga kebutuhan dasar di banyak negara.

Kondisi ini menjadi sensitif karena banyak negara masih menghadapi tekanan inflasi, ketidakpastian geopolitik, dan lemahnya daya beli masyarakat pascapandemi serta konflik global.

Dunia Memasuki Era Cuaca Ekstrem

Pemanasan global membuat dampak El Niño tidak lagi berdiri sendiri. Atmosfer dan lautan yang sudah lebih hangat dapat memperbesar efek cuaca ekstrem ketika El Niño muncul.

Artinya, gelombang panas bisa menjadi lebih panjang. Kekeringan bisa lebih ekstrem. Hujan lebat dan banjir di beberapa wilayah juga berpotensi lebih merusak dibanding periode sebelumnya.

Baca juga: El Nino Bisa Diprediksi 15 Bulan, tapi Sistem Masih Reaktif

Menurut laporan yang dikutip Live Science dari prakiraan NOAA, skenario “very strong El Niño” kini menjadi kemungkinan paling dominan untuk akhir 2026 hingga awal 2027. Kategori ini merujuk pada kenaikan suhu permukaan laut hingga sekitar 2 derajat Celsius di atas rata-rata historis.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Dalam sejarah modern, El Niño sangat kuat sering berkaitan dengan lonjakan suhu global dunia. El Niño 2023–2024 bahkan ikut mendorong 2024 menjadi tahun terpanas dalam catatan sejarah modern.

Jika pola itu kembali terjadi, 2027 berpotensi memecahkan rekor suhu global baru.

Ini memperlihatkan bahwa dunia mulai memasuki fase ketika anomali iklim tidak lagi bersifat sementara, tetapi menjadi bagian dari risiko sistemik global.

Indonesia Perlu Bersiap Lebih Cepat

Bagi Indonesia, ancaman terbesar Super El Niño tidak hanya soal suhu udara lebih panas. Risiko utamanya justru berada pada ketahanan pangan, ketersediaan air, energi, dan kebakaran hutan.

Indonesia memiliki sejarah panjang terdampak El Niño, terutama pada sektor pertanian dan karhutla. Penurunan curah hujan dapat mengganggu produksi beras, memperbesar risiko gagal panen, dan meningkatkan tekanan harga pangan domestik.

Baca juga: Krisis Iklim Global Menekan Arus Laut Selatan Jawa

Di saat yang sama, cadangan air untuk irigasi dan pembangkit listrik tenaga air juga dapat ikut tertekan.

Kondisi ini membuat Super El Niño seharusnya tidak lagi diperlakukan hanya sebagai isu meteorologi, tetapi sebagai bagian dari strategi ketahanan nasional.

Implikasi kebijakannya menjadi jelas. Pemerintah perlu memperkuat sistem pangan, cadangan air, mitigasi kebakaran hutan, hingga sistem peringatan dini iklim sejak sekarang, bukan menunggu dampaknya membesar.

Selain itu, kota-kota besar juga perlu mulai mempersiapkan strategi menghadapi urban heat atau panas perkotaan yang semakin ekstrem akibat kombinasi polusi, kepadatan bangunan, dan kenaikan suhu global.

Alarm Baru Ekonomi Dunia

Super El Niño menunjukkan satu hal penting. Perubahan iklim kini semakin sulit dipisahkan dari urusan ekonomi dan stabilitas sosial.

Ketika suhu laut berubah, efeknya tidak berhenti di samudra. Dampaknya bisa menjalar ke harga beras, tarif listrik, pasokan pangan, hingga biaya hidup masyarakat sehari-hari.

Baca juga: Air Dunia di Titik Kritis, Ketahanan Pangan dan Energi Terancam Jika Tata Kelola Tidak Berubah

Karena itu, fenomena ini bukan lagi sekadar isu lingkungan. Tapi, mulai bergerak menjadi isu kebijakan ekonomi global.

Dan kali ini, dunia tampaknya tidak memiliki banyak waktu untuk bersiap. ***

  • Foto: Ilustrasi/ NOAA/ Pexels/ SustainReviewID – Ilustrasi anomali suhu laut di Samudra Pasifik yang diperkirakan memicu Super El Niño dan meningkatkan risiko cuaca ekstrem global pada akhir 2026 hingga awal 2027.
Bagikan