ISO 14060, Standar Baru untuk Menguji Janji Net Zero

JANJI net zero sedang memasuki masa uji.

Selama ini, banyak perusahaan berani menetapkan target emisi nol bersih. Namun, target jangka panjang sering belum diikuti rencana transisi yang rinci, terukur, dan dapat diverifikasi.

Pasar mulai menuntut bukti. Investor ingin membaca risiko. Regulator membutuhkan rujukan. Konsumen dan publik ingin tahu apakah klaim hijau benar-benar ditopang perubahan bisnis.

Di titik itulah ISO 14060 menjadi penting. Rancangan standar internasional ini menandai pergeseran besar. Net zero tidak cukup lagi dinyatakan sebagai ambisi, tetapi harus diterjemahkan menjadi rencana kerja yang bisa diperiksa.

Janji Mulai Diuji

International Organization for Standardization atau ISO membuka konsultasi publik untuk ISO 14060, Net Zero Aligned Organizations Standard. ISO menyebutnya sebagai standar internasional pertama yang dirancang untuk membantu organisasi menyusun rencana transisi net zero yang kredibel, menyeluruh, dan dapat diverifikasi secara independen.

Konsultasi publik draft standar ini berlangsung selama 12 minggu melalui anggota nasional ISO di lebih dari 170 negara. Proses tersebut ditujukan untuk membangun posisi konsensus nasional pada awal September.

Skalanya menunjukkan satu hal. Tata kelola net zero sedang bergerak dari ruang sukarela menuju infrastruktur standar global.

Baca juga: Net Zero Tanpa Angka, Masih Bisa Dipercaya?

Lebih dari 130 negara, termasuk China, India, dan Uni Eropa, telah berkomitmen menuju net zero. Tetapi, komitmen negara tidak otomatis membuat rencana transisi perusahaan menjadi jelas. Banyak organisasi masih menghadapi jarak antara target jangka panjang dan langkah operasional hari ini.

ISO 14060 mencoba menjembatani jarak itu.

Standar untuk Bukti

Standar ini memberi kerangka bersama agar organisasi dapat menerjemahkan ambisi iklim menjadi rencana transisi yang lebih terstruktur. Cakupannya tidak berhenti pada pengurangan emisi.

Draft standar juga menyoroti adaptasi model bisnis, ketahanan rantai pasok, keamanan energi, jalur penurunan emisi, manajemen risiko iklim, serta integrasi rencana transisi ke dalam strategi perusahaan.

Baca juga: Janji Net Zero Korporasi di Bawah Sorotan, 96% Berisiko Greenwashing

Head of Sustainability and Partnerships ISO, Noelia Garcia Nebra, mengatakan ISO 14060 dikembangkan untuk menyediakan kerangka global yang membantu organisasi membangun rencana transisi kredibel, sekaligus mendukung resiliensi, inovasi, dan pertumbuhan jangka panjang.

Pernyataan itu penting karena net zero selama ini kerap diperlakukan sebagai target reputasi. Padahal, dalam ekonomi rendah karbon, net zero akan semakin menentukan akses pembiayaan, kepercayaan investor, posisi dagang, dan daya tahan bisnis.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Pasar Butuh Pembanding

Bagi investor, standar seperti ISO 14060 dapat membantu membaca kualitas rencana transisi perusahaan. Investor tidak cukup hanya melihat klaim emisi nol bersih. Mereka membutuhkan indikator yang lebih dapat dibandingkan, apakah target didukung investasi, tata kelola, perubahan operasional, dan rencana mitigasi risiko.

Bagi perusahaan, standar ini dapat menjadi peta jalan untuk menata ulang strategi. Net zero bukan dokumen tambahan di luar bisnis inti. Net zero harus masuk ke keputusan modal, pengadaan energi, desain rantai pasok, efisiensi produksi, teknologi, dan pengelolaan risiko.

Baca juga: Kesenjangan Lahan Global, COP30 Menguak Rumus Net Zero yang Salah Hitung

Bagi regulator, ISO 14060 berpotensi membantu mengurangi fragmentasi. Saat ini perusahaan menghadapi berbagai tuntutan, mulai aturan pengungkapan nasional, kerangka sukarela, panduan sektoral, tekanan investor, dan ekspektasi konsumen.

Standar internasional dapat menjadi bahasa bersama agar klaim transisi lebih mudah diuji.

Ujian bagi Indonesia

Relevansinya bagi Indonesia cukup besar.

BUMN, emiten, perbankan, eksportir, perusahaan energi, manufaktur, dan industri berbasis rantai pasok global akan semakin sering berhadapan dengan standar iklim internasional. Klaim hijau tanpa rencana transisi yang kuat akan lebih mudah dipertanyakan.

Indonesia juga sedang membangun ekosistem pembiayaan hijau, bursa karbon, transisi energi, dan tata kelola keberlanjutan. Dalam konteks itu, standar global seperti ISO 14060 dapat menjadi rujukan untuk memperkuat kredibilitas rencana perusahaan, terutama ketika menyangkut pembiayaan, ekspor, dan hubungan dengan investor internasional.

Namun, standar ini juga membawa pekerjaan rumah.

Perusahaan perlu menyiapkan data emisi yang lebih rapi, tata kelola yang lebih jelas, target yang realistis, dan rencana investasi yang dapat dijelaskan. Tanpa kapasitas teknis dan dukungan kebijakan, standar global bisa berubah menjadi beban kepatuhan baru, terutama bagi perusahaan menengah dan pelaku usaha di negara berkembang.

Baca juga: Net-Zero Tak Cukup Lagi Jadi Janji

Di sinilah peran kebijakan menjadi penting.

Pemerintah tidak cukup hanya mendorong target net zero. Pemerintah perlu membantu membangun infrastruktur data, panduan sektoral, insentif pembiayaan, kapasitas verifikasi, dan kepastian regulasi.

Tanpa itu, transisi akan timpang. Perusahaan besar bergerak lebih cepat, sementara pelaku lain tertinggal.

ISO 14060 memberi sinyal bahwa era baru net zero sedang terbentuk.

Janji iklim tidak lagi cukup ditulis dalam bahasa ambisi. Janji itu harus masuk ke strategi bisnis, bisa diukur, bisa diperiksa, dan bisa dipertanggungjawabkan.

Bagi pasar global, arah pesannya jelas: net zero bukan lagi sekadar tujuan akhir. Net zero harus menjadi rencana kerja yang tahan uji. ***

  • Foto: Ilustrasi/ Pavel Danilyuk/ PexelsISO 14060 mendorong janji net zero perusahaan menjadi rencana transisi yang lebih terukur, kredibel, dan dapat diverifikasi.
Bagikan