API di lahan gambut punya masalah yang berbeda dari kebakaran biasa. Yang terlihat di permukaan bisa padam, sementara panas masih bergerak di bawah tanah. Ketika kemarau panjang menurunkan muka air dan gambut kehilangan kelembapannya, api mendapat ruang untuk bertahan lebih lama dan muncul kembali di tempat lain.
Kondisi itu kembali menjadi tantangan Indonesia pada awal Oktober 2026.
Kementerian Kehutanan mencatat 582 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi pada 1 Oktober pukul 21.10 WIB. Angkanya naik dari 521 hotspot sehari sebelumnya. Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi, yakni 205 titik, disusul Sumatera Selatan 78 titik dan Kalimantan Selatan 63 titik. Kementerian mengingatkan bahwa hotspot bukan otomatis satu kejadian kebakaran dan tetap membutuhkan verifikasi lapangan.
Baca juga: Mengapa Karhutla Sulit Benar-benar Padam?
Tekanan cuaca belum segera berakhir. BMKG pada 2 Oktober menyatakan El Niño dengan intensitas sangat kuat masih berlangsung. Sekitar 79,65% wilayah Indonesia diprakirakan hanya menerima curah hujan rendah, 0–50 milimeter per dasarian, pada sepuluh hari pertama Oktober. Sebanyak 1.474 titik pemantauan juga masih mencatat hari tanpa hujan dalam kategori ekstrem panjang.
Masalahnya bukan hanya kurang hujan. Pada ekosistem gambut yang telah kehilangan kemampuan menyimpan air, kemarau dapat mengubah tanah yang semestinya basah menjadi bahan bakar.
Air Turun, Risiko Naik
Gambut terbentuk dari material organik yang terakumulasi dalam kondisi jenuh air selama waktu sangat panjang. Kondisi basah itulah yang membuat karbon tersimpan dan material organik tidak mudah terbakar.
Ketika kawasan gambut dikeringkan dengan kanal atau mengalami perubahan hidrologi, muka air tanah turun. Lapisan gambut kemudian mengering dan menjadi jauh lebih mudah terbakar.
Laporan Associated Press dari Kalimantan menggambarkan bagaimana kombinasi El Niño dan degradasi gambut kini berkelindan dengan krisis air. Di sejumlah wilayah sepanjang Sungai Kapuas, penyusutan air tidak hanya mengganggu kebutuhan rumah tangga dan transportasi, tetapi juga mempersempit sumber air yang diperlukan untuk memadamkan kebakaran.
Senior Director Mighty Earth, Amanda Hurowitz, mengatakan kepada AP bahwa sekitar 60% kawasan gambut di Kalimantan diperkirakan telah dikeringkan untuk berbagai penggunaan lahan, termasuk perkebunan sawit serta konsesi pulp dan kertas.
Baca juga: Satelit Bisa Melihat Api, Mengapa Karhutla Tetap Meluas?
Klaim tersebut berasal dari organisasi lingkungan dan perlu dibaca sebagai estimasi mereka, bukan angka resmi pemerintah. Namun, mekanisme dasarnya konsisten dengan banyak penelitian tentang gambut. Ketika drainase menurunkan muka air, kerentanan terhadap kebakaran meningkat.
Kajian yang diterbitkan dalam Environmental and Sustainability Indicators pada 2026 juga menunjukkan pentingnya kondisi air. Studi yang meninjau 246 publikasi tentang restorasi gambut Indonesia mencatat bahwa ketika muka air rendah dan kelembapan gambut turun melewati titik kritis, api dapat bergerak dari permukaan ke lapisan bawah tanah. Karena itu, restorasi tidak cukup hanya menanam kembali vegetasi. Rewetting atau pembasahan kembali menjadi bagian penting untuk menurunkan risiko kebakaran.
Di sinilah karhutla gambut menjadi sulit dikendalikan. Api bawah tanah dapat terus membara meski permukaan terlihat tidak lagi terbakar. Pemadaman membutuhkan air dalam jumlah besar dan proses pendinginan berulang agar panas tidak kembali memicu api.

Kapuas Masih Darurat
Kondisi di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, memberikan gambaran tekanan tersebut.
Pada 2 Oktober, pemerintah daerah memperpanjang status tanggap darurat kekeringan dan karhutla hingga 13 Oktober 2026. Kepala BPBD Kapuas Pangeran S. Pandiangan menyebut kebakaran telah mengenai 3.434,12 hektare sepanjang Januari-September, dari 352 kejadian. Pemerintah daerah menambah 20 pompa air untuk mendukung pemadaman di kawasan yang sulit dijangkau.
Baca juga: Api Tak Terlihat, Gambut Kalimantan Masih Berasap
Situasi itu terjadi ketika BMKG memperkirakan curah hujan di Kalimantan Tengah, khususnya Kapuas, masih sangat rendah hingga awal November. Artinya, hujan yang sesekali turun belum tentu cukup memulihkan cadangan air pada bentang gambut yang sudah lama mengalami defisit.
Secara nasional, pemerintah menyiagakan 61 armada udara untuk patroli, operasi modifikasi cuaca dan water bombing, selain pemadaman darat serta pendinginan area bekas kebakaran. Langkah tersebut penting ketika api sudah terjadi. Tetapi tantangan terbesar gambut justru terletak sebelum asap muncul: mempertahankan air di dalam ekosistem.
Mencegah Sebelum Terbakar
Pemerintah kini mencoba memperkuat bagian itu.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni pada 2 Oktober mengatakan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan atau PBPH akan diwajibkan memasang alat pemantau kondisi gambut. Perangkat tersebut ditujukan untuk membaca tinggi muka air tanah dan kelembapan secara berkala, bahkan menurutnya bisa dilakukan setiap 30 menit agar risiko kebakaran dapat diketahui lebih awal.
Langkah itu penting karena keberhasilan pencegahan tidak cukup diukur dari kemampuan menemukan hotspot. Data yang diperlukan justru muncul lebih awal: seberapa rendah muka air gambut, seberapa cepat kelembapan menurun, apakah kanal menguras air, dan apakah tindakan pembasahan dilakukan sebelum gambut memasuki kondisi rawan terbakar.
Pada hari yang sama, pemerintah juga mematangkan pembentukan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BP-GMN). Lembaga yang sedang disiapkan tersebut diarahkan memiliki tiga mandat: perlindungan, pemulihan, dan pengembangan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Pemerintah mengatakan pengelolaan gambut akan menggunakan pendekatan Kesatuan Hidrologis Gambut agar intervensi tidak berhenti pada batas administrasi atau konsesi.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto juga menekankan agar hasil riset perguruan tinggi dan lembaga penelitian menjadi dasar pembentukan badan tersebut. Pendekatan ini relevan karena persoalan gambut bukan sekadar soal pemadaman, tetapi pengelolaan air pada satu bentang ekosistem yang saling terhubung.
Penelitian terbaru tentang restorasi gambut Indonesia menunjukkan tantangan kelembagaan itu masih nyata. Upaya rewetting, revegetasi dan revitalisasi ekonomi masyarakat kerap berjalan secara terpisah, sementara persoalan koordinasi, tata kelola dan partisipasi masyarakat belum selalu mendapat bobot yang sama dengan indikator teknis.
Baca juga: 113 Ribu Sakit, Mengapa Karhutla Masih Dilawan dengan Masker?
Karena itu, pemasangan sensor atau pembentukan lembaga baru belum otomatis menyelesaikan persoalan. Pertanyaan berikutnya adalah apakah data muka air benar-benar terbuka dan dipakai untuk tindakan lapangan, apakah pemegang konsesi menjaga fungsi hidrologis kawasan, serta apakah pemulihan dilakukan pada skala satu kesatuan gambut, bukan per petak.
El Niño memang memperpanjang dan memperberat kemarau. Namun, besarnya dampak kebakaran tidak hanya ditentukan oleh cuaca.
Gambut yang tetap basah mempunyai pertahanan alami terhadap api. Ketika airnya hilang, sistem itu ikut hilang.
Karena itu, pada lahan gambut, keberhasilan menghadapi karhutla mungkin tidak seharusnya dihitung pertama kali dari berapa helikopter yang diterbangkan atau berapa titik api yang dipadamkan.
Ukuran yang lebih mendasar justru muncul jauh sebelum api terlihat, apakah air masih berada di dalam gambut ketika musim kering datang. ***
- Foto: Dok. Kemenhut – Petugas Manggala Agni memadamkan kebakaran lahan dengan menyemprotkan air ke titik yang masih membara. Pada lahan gambut yang mengering, api dapat bertahan di bawah permukaan dan membutuhkan pemadaman berulang.


