B50 Mengalir, Siapa Menjamin Mutunya sampai ke Mesin?

Peningkatan campuran biodiesel membutuhkan pengawasan sepanjang rantai pasok. Hasil pengujian kendaraan perlu diikuti kepastian mutu bahan bakar yang diterima masyarakat.

INDONESIA membawa lebih banyak sawit ke tangki kendaraan melalui B50. Namun, keberhasilan kebijakan energi ini juga bergantung pada perjalanan bahan bakar. Dari tempat produksi, tangki penyimpanan, pengangkutan, hingga masuk ke mesin.

Guru Besar Universitas Pertamina Iman Kartolaksono Reksowardojo menyoroti persoalan tersebut dalam EVolution Forum bertema Powering Indonesia Future: Green Cars. Blue Skies, Rabu (30/9/2026). Menurutnya, Indonesia semakin siap secara teknis, tetapi penanganan bahan bakar sepanjang distribusi masih membutuhkan perhatian.

“Untuk B50, untuk teknis kendaraan atau enjin sudah diuji ESDM melalui Migas, tidak masalah,” ujar Iman dalam materi pemberitaan forum tersebut.

Peringatannya relevan ketika pemerintah memperluas penggunaan campuran 50 persen biodiesel berbasis sawit dan 50 persen solar. Semakin luas penyalurannya, semakin penting memastikan kualitas bahan bakar tetap terjaga sampai diterima pengguna.

Bagi kebijakan transisi energi, persoalan ini menyentuh kepercayaan publik. Pengguna membutuhkan kendaraan yang bekerja andal, sementara pemerintah membutuhkan bukti bahwa pelaksanaan di lapangan mengikuti standar yang telah diuji.

Distribusi Menentukan Mutu

Biodiesel memiliki sifat higroskopis, yakni mudah menyerap air atau uap air. Karakteristik ini membuat penanganan dan penyimpanan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitasnya.

Perhatian serupa disampaikan Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Fathul Nugroho. Dalam forum ASPEBINDO pada 26 Agustus 2026, ia mendorong badan usaha meningkatkan fasilitas penyimpanan khusus FAME, komponen biodiesel yang dicampurkan dengan solar.

Baca juga: B50 Mulai Berlaku, Ujian Besarnya Ada di Dana, Sawit, dan Mesin

“Pengelolaannya membutuhkan perhatian khusus, terutama jika disimpan dalam waktu lama,” kata Fathul, sebagaimana dimuat dalam keterangan resmi BPH Migas.

Implikasinya jelas. Kesiapan B50 perlu dinilai melalui kemampuan operator menjaga mutu selama bahan bakar berada dalam penguasaan mereka. Standar di tempat produksi harus tetap terpenuhi ketika bahan bakar berpindah tangan.

Fathul juga menyampaikan bahwa pemantauan BPH Migas di sejumlah wilayah menunjukkan kendaraan pribadi, bus, dan angkutan logistik dapat menggunakan B50 secara normal tanpa kendala berarti. Keterangan ini menjadi penyeimbang terhadap kekhawatiran mengenai penggunaan biodiesel.

Meski demikian, pengalaman positif sejumlah pengguna belum menjawab seluruh pertanyaan tentang mutu nasional. Pengawasan membutuhkan pemeriksaan yang dapat menunjukkan kondisi bahan bakar pada berbagai lokasi dan tahapan distribusi.

Standar Harus Terjaga

Pemerintah telah memperketat spesifikasi B100, biodiesel murni yang digunakan sebagai komponen campuran B50.

Dalam laporan pengujian yang dipublikasikan ESDM pada 21 April 2026, batas maksimum kadar air diturunkan dari 320 menjadi 300 ppm. Batas monogliserida turun dari 0,5 menjadi 0,47 persen massa, sedangkan persyaratan stabilitas oksidasi meningkat dari sedikitnya 720 menjadi 900 menit. Angka tersebut merupakan parameter mutu komponen B100, bukan lama penyimpanan yang diperbolehkan.

Pada publikasi yang sama, anggota GAIKINDO Abdul Rochim berharap spesifikasi bahan bakar dalam pengujian dipertahankan ketika B50 diterapkan.

“Kami berharap bahwa spek bahan bakar yang digunakan untuk uji ini menjadi spek untuk implementasi B50,” ujarnya.

Baca juga: B50 Diluncurkan, Kemandirian Energi Butuh Pembuktian

Pernyataan itu menghubungkan hasil pengujian dengan kebutuhan pengguna sehari-hari. Manfaat uji kendaraan akan lebih kuat apabila bahan bakar yang dijual memiliki kualitas setara dengan bahan bakar pengujian.

Karena itu, ketika muncul keluhan kendaraan, pemeriksaan perlu menelusuri penyebabnya. Menyimpulkan bahwa setiap gangguan berasal dari B50 terlalu jauh. Mengabaikan kemungkinan masalah mutu juga tidak membantu. Kondisi kendaraan, perawatan, dan sampel bahan bakar perlu diperiksa sebelum tanggung jawab ditentukan.

Tonton Sustain Bites:
Apa yang perlu dipahami tentang biodiesel B50? Simak penjelasannya dalam episode khusus Sustain Bites dari SustainReview.ID.

Transparansi Menjaga Kepercayaan

Cakupan penyaluran menunjukkan perkembangan besar sekaligus pekerjaan yang masih harus dituntaskan.

Menurut keterangan ESDM pada 15 September 2026, B50 telah menjangkau 6.050 dari 6.412 SPBU, sekitar 94 persen. Pada saat itu, 76 dari 104 terminal titik serah sudah menyalurkan B50; 28 lainnya masih bertransisi.

Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi menyebut 30 September sebagai batas masa relaksasi. Angka pertengahan September tersebut merupakan gambaran sebelum tenggat, sehingga belum membuktikan seluruh transisi selesai pada 1 Oktober.

Eniya juga mendorong pengumpulan data penggunaan B50 pada kendaraan sehari-hari hingga 100.000 kilometer, dengan pemeriksaan berkala dan dukungan LEMIGAS. Pemerintah mengarahkan agar hasil teknis yang dapat dipublikasikan tersedia melalui situs web.

Baca juga: Swasembada Energi, Seberapa Hijau Jalan yang Dipilih?

Keterbukaan itu perlu menjawab kebutuhan praktis. Lokasi pemeriksaan mutu, temuan ketidaksesuaian, tindakan perbaikan, dan tindak lanjut keluhan. Informasi tersebut akan membantu masyarakat menilai pelaksanaan kebijakan berdasarkan bukti.

Dimensi lingkungan juga membutuhkan ketelitian. Alternative Fuels Data Center milik Departemen Energi Amerika Serikat menjelaskan bahwa biodiesel murni menimbulkan kerusakan lebih kecil dibandingkan diesel petroleum apabila tumpah. Pernyataan tersebut tidak berarti tumpahan bebas dampak, terlebih B50 masih mengandung solar fosil.

Demikian pula, persentase campuran tidak dapat langsung dijadikan persentase penurunan emisi. Klaim manfaat iklim B50 memerlukan perhitungan tersendiri dengan batas penilaian yang jelas.

B50 membuka ruang lebih besar bagi energi domestik. Untuk mempertahankan kepercayaan terhadap kebijakan ini, pemerintah dan pelaku usaha perlu memastikan standar mengikuti setiap liter yang disalurkan. Pengguna akhirnya menilai transisi energi melalui pengalaman paling dekat, yakni bahan bakar yang diterima, kendaraan yang digunakan, dan kepastian ketika masalah muncul. ***

  • Foto: Dok. Pertamina – Mobil tangki di Terminal BBM Medan Group. Perluasan penggunaan B50 membutuhkan penjagaan mutu bahan bakar sepanjang penyimpanan dan distribusi hingga sampai ke pengguna.
Bagikan